Petuah Hamka Untuk Mahasiswa

Hamka atau H. Abdul Malik Karim Amrullah sering disebut-sebut sebagai Filosof Indonesia asli. Berbagai buah fikirannya banyak mempengaruhi umat muslim Indonesia. Corak pemikiran yang digambarkan dalam buku-bukunya sangat sesuai dengan realita kehidupan sosial budaya umat muslim Indonesia. Beberapa buku berfokus pada pembentukan kepribadian dan masyarakat madani dan berjiwa islami. Diantara buku-bukunya yang berfokus pada hal tersebut adalah Lembaga Budi, Lembaga Hidup, dan Falsafah Hidup. Buku-buku tersebut banyak memberikan pencerahan mengenai bagaimana menjadi manusia sejati sekaligus menjadi anggota masyarakat yang baik.

            Sebagai mahasiswa terkhusus mahasiswa muslim, amanah yang dipikul diatas pundak bukan hanya sekedar belajar, tapi juga kontribusi kemasyarakatan. Seperti halnya tri darma perguruan tinggi  ke-3 yaitu pengabdian kepada masyarakat. Maju dan mundurnya kehidupan masyarakat sangatlah bergantung pada potensi yang dimiliki para pemuda terutama mahasiswa. Oleh karenanya, sebagai pemikul amanah tersebut, mahasiswa haruslah menyusun sematang mungkin program-program dan jalan yang akan ditempuh menuju masyarakat yang lebih baik.

Menyusun program dan menentukan jalan

Dalam buku-buku Hamka banyak terdapat wejangan-wejangan yang kiranya dapat menjadi landasan dalam menyusun strategi untuk memenuhi amanah kemasyarakatan tersebut. Dari tiga buku Hamka berjudul Lembaga Budi, Lembaga Hidup, dan Falsafah Hidup, kita dapat temui berbagai wejangan hangat yang sangat sesuai dengan realita kehidupan seorang mahasiswa muslim yang sedang dijalani maupun yang kelak akan dihadapi.

            Pertama kali yang harus diperhatikan oleh para mahasiswa muslim sebelum memualai perjuangan menuntut ilmu dalam buku-buku tersebut adalah “mengetaui kekurangan diri”. Memulai segala hal dengan mencari tahu kekurangan diri sendiri dapat membantu dalam membuat program dan siasat dalam menempuh studi. Kekurangan yang dimiliki haruslah selalu diperbaiki. Dengan ini setiap mahasiswa dapat menyiasati bagaimana melengkapi kekurangan yang ada dan mengukur kemampuan diri dalam melakukan sesuatu.

            Tersusunnya program dan siasat-siasat tersebut sangat membantu dalam penentuan jalan mana yang harus ditempuh. Seperti halnya ketika seorang mahasiswa tidak mampu untuk mengerjakan tugas-tugas dengan begadang semalaman suntuk, berarti dia harus mempersiapkan dan mencicil tugas-tugasnya sejak jauh-jauh hari. Masih banyak lagi jalan-jalan yang harus dipilih dan ditempuh sesuai kemampuan diri selama masa belajar.

            Hal selanjutnya yang perlu ditanamkan dalam benak para penuntut ilmu termasuk mahasiswa adalah mengetahui potensi diri. Pengetahuan mengenai kemampuan, bakat, minat, dan potensi diri menjadi sangatlah penting untuk menentukan tujuan dimana kelak seorang penuntut ilmu akan berjuang dalam suatu masyarakat. Setelah mengetahui target medan perang yang akan digeluti, maka siapkan sebaik mungkin segala kebutuhan yang akan berguna selama menempuh perjuangan mengabdi pada masyarakat. Karena medan perang yang tidak sesuai dengan kemampuan prajurit hanya akan mengakibatkan kekalahan dalam peperangan. Prajurit pemanah jika ditempatkan di bagian paling depan dalam medan pertempuran tak akan efektif menjalankan tugasnya bahkan mungkin akan mengakibatkan kekalahan dan kehancuran.

            Pengetahuan mengenai potensi diri tersebutlah yang kemudian melahirkan azzam atau keinginan yang kuat. Menurut hamka, seorang yang gagal adalah orang-orang yang tidak memiliki keinginan yang kuat untuk bangkit dari kegagalan. Sedangkan orang sukses adalah orang yang mampu menegakkan badan setelah terjatuh dalam lubang kegagalan. Keinginan maupun tekad yang kuat haruslah dibarengi dengan persiapan yang matang sehingga ia siap menghadapi segala rintangan yang membuatnya terjatuh. Oleh karenanya, mengetahui potensi dan mempersiapkan diri selama masa belajar adalah hal yang sangat penting untuk menghadapi terjalnya jalan dalam medan pertempuran.

            Sebagai mahasiswa muslim, haruslah mengetahui apa tujuan akal yang merupakan karunia terbesar manusia sekaligus alat pemberian Tuhan untuk mencapai kesentosaan di dunia dan di akhirat. Hamka menasehatkan agar selalu mengarahkan akal untuk senantiasa mengenal Allah dengan segala tanda-tanda kebesaran-Nya yang terdapat pada alam semesta ini. selain itu, akal seharusnya juga digunakan untuk menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Mulai Berjalan

Setelah menyusun program-program dan menentukan jalan yang akan ditempuh, maka dimulailah hari-hari perjuangan menuntut ilmu. Selama berjalannya proses belajar, perlu diingat tiga nasehat Hamka yang sangat penting demi kelancaran studi setiap individu.

            Pertama, “janganlah berfkir untuk mengungguli guru dan jangan terlalu membesarkan guru lebih daripada mestinya”. Realita yang sekarang terjadi adalah terkikisnya adab para penuntut ilmu terhadap gurunya hingga menganggap dirinya lebih pandai daripada guru yang mengajarinya, bahkan tak jarang juga merendahkan gurunya sendiri. Sebaliknya, banyak kita temui para murid yang membesarkan gurunya dan beranggapan segala yang beraal dari gurunya adalah kebenaran yang tak bisa diganggu guguat. Perlu disadari bahwasannya manusia tidak bisa lepas dari kesalahan, seperti tergambar pada pepatah yang berbunyi “tak ada gading yang tak retak”, begitu pula dengan para guru yang tak mungkin benar seutuhnya.

            Hal kedua merupakan penyakit yang banyak menjangkiti para mahasiswa yang memiliki kelebihan pengetahuan daripada kawan-kawannya yang lain. Penyakit itu tak lain adalah “merasa unggul”. Dalam menuntut ilmu, menurut Hamka tak sepatutnya merasa unggul dari kawan-kawannya sesame penuntut ilmu. Karena hal tersebut dapat menyebabkan seseorang lalai untuk terus mengembangkan diri. Selain itu, penyakit tersebut dapat merusak hubungan dengan kawan-kawan seperjuangan.      

            Sejatinya, setiap manusia memiliki kelebihan tersendiri. Apa yang menjadi kekurangan seseorang mungkin merupakan kelebihan yang dimiliki orang yang lain. Mungkin saja seorang yang pandai dan banyak pengetahuan tidak mempunyai kemampuan bersosialisasi yang baik atau mungkin kurang peka dengan keadaan, sehingga tidak memiliki empati terhadap orang-orang di sekitarnya. Oleh karenanya, memiliki pengetahuan mengenai kekurangan diri sangat mampu menghindarkan dari perasaan unggul tersebut. Sehingga didapatlah perbandingan diri dengan orang lain dan menyadari kelebihan orang lain terhadap diri sendiri.

            Yang terakhir adalah “amalkan ilmu yang telah didapat”. Tak bisa dipungkiri pengalaman seorang montir yang bekrja bertahun-tahun dibandingkan dengan seorang lulusan teknik mesin yang membawa gulungan ijazah tanpa pengalaman terjun di lapangan secara langsung sangatlah berbeda. Orang-orangpun pasti akan lebih mempercayakan motornya kepada orang yang lebih berpengalaman disbanding menyerahkan kepada pemuda yang hanya bermodal ijazah. Oleh karenanya, pengamalan ilmu sangat penting bagi seorang penuntut ilmu. Akan lebih banyak pelajaran yang didapat ketika seseorang mengamalkan ilmunya. Bukan hanya memperdalam pemahaman, tapi juga akan mendapatkan permasalahan-permasalahan baru yang tidak ia temukan di bangku kelas perkuliahan.

            Setelah menempuh masa belajar, kini waktunya terjun dan mengamalkan seluruh ilmu yang dimiliki di lingkungan masyarakat yang lebih luas. Satu hal yang dinasehatkan oleh Hamka agar tidak sekali-kali dilupakan adalah agar selalu menjadi orang yang bebas dan jangan sampai dikendalikan oleh harta, pangkat ataupun nama baik yang dimiliki. Demi mempertahankan pangkat, harta dan lain sebagainya, banyak orang mengatakan sesuatu yang berlawanan dengan hati nuraninya. Ada perkataan yang dikutip dari salah satu buku Hamka adalah “kitalah yang mengendalikan pangkat dan nama baik, bukan pangkat dan nama baik yang mengendalikan gerak gerik kita”. Untuk menjadi orang bebas, manusia harus mampu menghargai dirinya dengan mengatakan kebenaran yang ditunjukkan oleh hati nuraninya. Karena hati nurani tak akan pernah menunjukkan keburukan. Seperti kata pepatah arab “katakana kebenaran walaupun pahit rasanya”.

Pen. Mawardi Dewantara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *