Beda : Islamisasi dan Integrasi Ilmu

Beda : Islamisasi dan Integrasi Ilmu

unida.gontor.ac.id“Bedakah Islamisasi dan Integrasi Ilmu Pengetahuan?”. Selasa 2/2/2021, Himpunan Mahasiswa Program Studi Aqidah dan Filsafat islam kemabali menggelar kajian dan diskusi mingguan “Ngopi”. Pada kesempatan kali ini, Pengurus HMP mengundang Al-Ustadz Usmanul Hakim, M.Ag., sebagai pemateri dengan membawakan tema islamisasi ilmu pengetahuan.NGOPI “Ngobrol Pemikiran Islam” Prodi AFI

            Sebelumnya, Al-Ustadz Usman melontarkan pertanyaan untuk memancing peserta untuk mengutarakan argumennya. “Bedakah Islamisasi Ilmu dan Integrasi Ilmu?” Tanya beliau di awal diskusi. Selepas argumen dari peserta tersampaikan, beliau menjelaskan bahwa ada perbedaan yang cukup jauh antara islamisasi dan integrasi. Hal ini dikarenakan kata integrasi ilmu berarti menggabungkan dua ilmu atau lebih sedangkan islamisasi tidak berarti penggabungan bebera ilmu melainkan membangun cara pandang seseorang sehingga mampu melihat segala hal dari kacamata atau worldview Islam, buakan sekedar penggabungan dua ilmu atau lebih.

Diskusi Pekanan "Bedakah Integrasi dan Islamisasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer?"
Diskusi Mingguan mahasiswa AFI

            Dalam hal ini, beliau tidak menafikan integrasi ilmu sebagai salah satu instrument dalam mengislamkan ilmu-ilmu barat yang terkesan sekuler. Tapi di lain sisi beliau menyatakan terdapat satu kelemahan yang cukup fatal pada metode integrasi tersebut. Hal tersebut dikarenakan Integrasi ilmu memfokuskan kajiannya pada produk ilmu bukan pada ilmunya sendiri.

            Sebelumnya perlu dibedakan terlebih dahulu mengenai pengertian ilmu dan produk ilmu. Produk ilmu adalah hasil dari ilmu atau pemikiran, seperti ilmu geografi, ilmu fisika, ilmu biologi, dan lin sebagainya. berbeda dengan ilmu yang merupakan pemahaman dan pandangan seseorang mengenai sesuatu. Dalam hal ini dapat disebut pemahaman mengenai sesuatu berdasarkan worldview.

            Oleh karananya, terdapat celah yang cukup besar dalam integrasi ilmu. Yaitu pengkajian yang terbatas pada produk ilmu, bukan pada ilmu atau worldview sendiri dan dapat mengakibatkan salah pemahaman atau menyimpang dari dasar-dasar islam sendiri. Sudah hal pasti jika seorang yang tidak paham tujuan tukang bangunan mencampur semen dan pasir sekaligus kerikil, maka ada kemungkinan orang tersebut salah takar dalam mencampur semua material tersebut, walhasil akan berdiri bangunan yang rapuh dan rawan runtuh. Sama halnya dengan integrasi yang hanya melihat produk ilmu sebagai focus kajian tanpa meluruskan worldview atau pemahaman.

            Maka dari itu, kurang tepat jika menggunakan metode integrasi ilmu tanpa mengedepankan islamisasi, jelas beliau sebagai kesimpulan diskusi. Kedua wacana dan metode dalam mengislamkan ilmu-ilmu barat tersebut bisa saling memenuhi satu sama lain. Pembentukan worldview yang diikuti dengan metode integrasi ilmu dapat menjadi jalan yang tepat untuk mewujudkan peradaban keilmuan islam yang gemilang.

            Sosok muslim yang memiliki worldview atau pemahaman yang benar tentang islam, maka pekerjaan dan tindakannyapun pasti sesuai dengan syariat. Tapi di satu sisi ketika seseorang memiliki pemahaman dan worldview yang benar tapi bertindak dengan perbuatan yang tidak sesuai dengan syariat maka dalam hal ini, orang tersebut bisa dikatakan lost of Adab dalam pandangan Syed Naquib Al-Attas.

One comment

  1. Pingback: AFI Camp : "Manusia dengan Esensinya" Ust . Hasib Amrullah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *