Menimbang Konsep Islam Nusantara Dalam Konteks Keberagaman di Indonesia

Menimbang Konsep Islam Nusantara Dalam Konteks Keberagaman di Indonesia

afi.unida.gontor.ac.id Sabtu, 18 Juli 2021 lalu, Hall UNIDA Inn lantai 2 UNIDA Gontor (Centre of Islamic and Occidental Studies) mengadakan acara “Weekly Discussion” pemateri Dr. (Cand) Aida Hayani, M.Pd. mengangkat tema historis kritis dengan judul “Reinterpretasi Konsep Islam Nusantara Dalam Konteks Keberagamaan Di Indonesia.” Kapan sebenarnya Islam Nusantara ini muncul, dan booming?

Entah sejak kapan istilah “Islam Nusantara” pertama kali muncul, namun yang pasti istilah Islam Nusantara kembali mencuat di Indonesia tepatnya di Jomabng, Jawa Timur, di acara yang diselenggarakan NU pada 1-5 Agustus 2015, dan kemudian menjadi topik hangat yang dibicarakan masyarakat pada saat presiden Joko Widodo menggunakan istilah ini di acara sambutan bulan suci Ramadhan yang diadakan oleh NU pada 14 juni 2015, setelah acara tersebut istilah Islam Nusantara menjadi booming di Indonesia.

Dalam menanggapi hal tersebuat ada kalangan yang setuju dan tidak setuju. Yang setuju adalah mereka yang mengatakan bahwa Islam Nusantara adalah Islam yang menerima kebudayaan Nusantara yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Adapun yang tidak setuju adalah mereka yang mengatakan, bahwa Islam Nusantara adalah istilah yang di dalamnya begitu banyak perdebatan, kenapa, karana istilah Islam Nusantara ini dapat membawa kerancuan dalam memahami konteksnya.

Professor Said Aqil Siradj mendefinisikan Islam Nusantara adalah Islam yang menggabungkan antara agama dan budaya, sedangkan menurut Azyumardi Azra mengakatakan bahwa Islam Nusantara adalam Islam yang berbunga-bunga, toleran dan akomodatif. Namun tentunya di sini tidak ada klasifikasi yang jelas mengenai istilah Islam Nusantara dan bagaiamana Islam Nusantara yang benar.

Mari kita bahas satu-persatu Karakteristik Islam Nusantara. Yang pertama adalah bahwa Islam Nusantara ini bukanlah mazhab atau ajaran baru, yang kedua adalah adaptif terhadap kebudayaan lokal, ketiga toleran terhadap budaya lokal. Menanggapi karakteristik yang kedua, apakah sebelum Islam nusantra, Islam tidak adaptif terhadap kebudayaan lokal? tentunya Islam sudah lebih dulu adaptif terhadap kebudayaan lokal sebelum munculnya istilah Islam Nusantara, contohnya, tradisi hala bi halal. Jika seandainya tidak ada Islam, maka tradisi halal bi halal pun tidak akan kita jumpai sekarang. Kemudian menanggapi karakteristik yang ketiga, jangan ditanya masalah toleran ini, bahkan sebelum Islam Nusantara dan beratus tahun kebelakang Islam sudah mengajarkann toleransi terhadap kebudayaan lokal. Jadi mengapa harus menggunakan istilah Islam Nusantara?

Dari sini kita simpulkan bahwa istilah Islam Nusantara yang toleran perlu ditinjau kembali karena banyak kerancuan di dalamnya, jika sekalipun ingin dipaksakan, maka istilah Islam Nusantara bisa di ganti dengan Islam di Nusantara atau muslim di Nusantara, kenapa, karna jika istilah Islam Nusantara ini di gunakan di Indonesia, sedangkan  Indonesia sendiri memiliki kurang lebih 33 provinsi dan semuanya bukan saja dari kalangan akademisi, maka akan banyak sekali kekeliruan dalam memahami istilah tersebut, maka seyogyanya istilah Islam Nusantara lebih tepat di ganti menjadi Islam di Nusantara. Wallahu ‘alam.

Pen. Usamah As Siddiq
Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *