Aqidah dan Filsafat Islam

AFI Camp : Eratkan Persaudaraan

http://unida.gontor.ac.id – Keluarga besar program Studi Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Darussalam Gontor menggelar acara tahunan AFI Camp yang dilaksanakan selama dua hari satu malam. penyelenggaraan acara ini bertujuan untuk mempererat persaudaraan yang terjalin antar mahasiswa dan dosen.

            Berbeda Dengan tahun-tahun sebelumnya, kali ini AFI Camp diselenggarakan di lingkungan kampus. Menimbang kondisi yang masih belum kondusif akibat meluasnya penyebaran virus Corona.

            Rentetan acara yang diselenggarakan panitia AFI Camp diawali dengan tahsinul qiro’ah. Acara ini dimentori langsung oleh Al-Ustadz Mujtaba. Sedang acara selanjutnya adalah kajian filsafat yang dibawakan oleh al-ustadz Hasib Amrullah dengan judul “Manusia dan Esensinya”. lihat di “Ilmu sebagai Esensi Manusia” Ust. Hasib Amrullah

            Dalam kajiannya, al-usadz Hasib Amrullah mengatakan bahwa manusia dan binatang dalam segi jenis masih tergolong sama. Tapi ada satu hal yang menjadi pembeda antra manusia dan binatang. Hal tersebut adalah esensi manusia yang berupa ilmu. Baca berita lebih lanjut di….

            Pada sore hari, para mahasiswa duduk bersama segenap dosen melantunkan bacaan dzikir pagi petang dengan dipimpin oleh Al-Ustadz Ishomuddin. Di akhir acara, beliau memberikan taushiyah sembari menunggu adzan dan konsumsi buka puasa yang sedang disiapkan oleh panitia. Dalam taushiahnya, beliau menjelaskan tiga tingkatan pemahaman yang dimiliki seorang tholibul ‘ilmi.

Dzikir bersama

            Tingkatan pertama adalah tsiqoh, orang yang memiliki pemahaman ini dapat memahami suatu ilmu dengan waktu yang cukup singkat dan dapat menyampaikan pemahamannya tanpa ada kesalahan, selan itu orang-orang seperti ini mampu menghafalkan ilmu yang mereka dapat tanpa ada kesalahan sedikitpun. Pemahaman ini biasa dimiliki oleh para ulama besar. Seperti Said Nursi, Syekh Abdul Qodir al-Jaelani. Dan lain sebagainya.

            Tingkat pemahaman yang kedua adalah mafhum bil ma’na. artinya orang yang memiliki pemahaman ini dapat mempelajari sesuatu dan mampu menjelaskan atau mengungkapkan pemahamannya kembali dalam bentuk ma’na tanpa ada salah sedikitpun. Berbeda dengan tingkatan yang pertama.orang yang memiliki pemahaman seperti ini tidak mampu menghafalkan seluruh ilmu yang mereka dapat tanpa ada kesalahan. Atau dengan kata lain mereka hanya hafal ma’na ang terjandung dan tidak memiliki kemampuan untuk menghafal setiap lafadz yang mereka dengar.

            Dan jenis yang ketiga adalah tingkatan pemahaman yang membutuhkan waktu lama untuk memahami sesuatu. Dalam penjelasannya, beliau menjelaskan bahwa tingkat pemahaman manusia tergantung dengan kesiapan dan kebersihan jiwa dalam menerimanya.

            Pada malam hari, agenda dilanjutkan dengan Malam Keakraban. (MAKRAB : Kisah Kami dalam Kehangatan) Acara ini berlangsung cukup meriah dan penuh dengan canda tawa. Di kesempatan malam ini para mahasiswa mengutarakan keluh kesah dan pesan kesannya dihadapan para mahasiswa dan dosen. Tak hanya itu, acara malam keakraban ini juga dimeriahkan dengan beberapa penampilan dari Dimensi Band dengan membawakan lagu terbarunya yang berjudul “Waktu” tonton di https://www.youtube.com/watch?v=K4dO-b5zcVQ

            Pelatihan soft skill juga diselenggarakan guna membekali para mahasiswa sebelum terjun ke masyarakat. Jum’at pagi setelah oelahraga bersama, para mahasiswa diajak untuk berlatih mengurus jenazah dan belajar mengurus pernikahan yang juga merupakan agenda penutup dari seluruh rentetan acara yang disediakan panitia AFI Camp. Pelaihan soft skill ini dibimbing langsung oleh Al-Ustadz Sarif Abadi.

Bersama Ust. Syarif Abadi

One comment

  1. Pingback: Malam Keakraban AFI Camp : Kisah Kami dalam Kehangatan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *