Aqidah dan Filsafat Islam

Ilmu Para Filosof : Mencari Harta Umat Islam yang Hilang

http://afi.unida.gontor.ac.id/Senin malam (8 Februari), Himpunan Mahasiswa Prodi Aqidah dan Filsafat Islam UNIDA Gontor menggelar kembali agenda mingguan untuk mengkaji kitab Al-Munqidz min Ad-dholal bersama Al-Ustadz Sohibul Mujtaba. Materi yang dibawakan masih berkaitan dengan topik minggu sebelumnya. Yaitu ilmu-ilmu para filosof. pembahasan pada kesempatan kali ini mengenai akibata ataupun dampak dari menerima atau menolak ilmu para filosof mengenai khlak.(lihat di Ilmu Para Filosof )

            Kali ini al-ustadz Mujtaba membawakan pembahasan mengenai akibat atau dampak dari menerima dan menolak ilmu-ilmu akhlak dari para filosof. Pada minggu sebelumnya, beliau menjelaskan bahwasannya ilmu-ilmu para filosof mengani akhlak merupakan pencampuran antara hikmah-hikmah para sufi, perkataan atau sunah Rosul, ayat-ayat Al-Qur’an dan pendapat sang filosof sendiri.

            Pemaduan yang dilakukan oleh para filosof dengan menggunakan prespektif mereka membuat ilmu-ilmu yang dihasalkannya terkadang tak sesuai dengan ajaran agama. Tak jarang juga mengandung kepentingan dari filosof terkait. Oleh karenanya tak bisa dipungkiri ada yang menolak mentah-mentah dan tak jarang pula ada yang menerima seluruhnya. Dalam hal ini terdapat beberapa kerugian ketika seseorang menerima ataupun menolak seutuhnya.

            Ketika seseorang menolak seluruh pandangan-pandangan para filosof tentang akhlak, akan banyak meninggalkan kebenaran-kebenaran yang mungkin ada pada perkataan para filosof tersebut. Al-Ustadz Mujtaba’ menjelaskan satu hadis dhoif yang menyatakan bahwa hikmah adalah harta umat islam yang hilang, ketika ditemukan di suatu tempat maka sudah sepatutnya diambil kembali.

            Hadis tersebut menuntut umatt muslim untuk lebih jeli melihat kebenaran atau hikmah di suatu tempat. Tapi disebutkan dalam kitab tersebut bahwa alasan orang-orang menolak ilmu-ilmu tentang akhlak yang dibawa oleh para filosof adalah pandangan bahwasannya segala hal yang datang dari orang yang dipandang buruk pasti merupakan keburukan. Begitu pula dengan  pikiran orang-orang yang dipandang tidak tepat untuk berbicara tentang akhlak pasti akan menghsilkan pandangan mengenai akhlak yang tidak sesuai dengan semestinya dalam agama.

            Dalam hal ini, Imam Al-Ghozali memberikan satu pesan dalam kitab tersebut bahwasannya kebenaran tidaklah dilihat dari tempat asalnya. “orang-orang yang akalnya lemah itu kebiasaannya mengetahui kebenaran berdasarkan orangnya bukan mengetahui orang menurut kebenarannya” begitulah isi dari pesan Imam Al-Ghozali yang diterjemahkan oleh Al-ustadz Mujtaba’ malam itu. “ketahui kebenaran, maka akan mengetahui orang-orang yang benar” jelas al-ustadz Mujtaba.

            Dalam kesimpulannya Al-ustadz Mujtaba menyatakan bahwa orang yang meninggalkan atau menolak ilmu akhlak yang bersumber dari para filosof akan merugi karena telah melewatkan banyak hal baik dari para filosof. “Kalau ditinggalkan seluruhnya maka akan kehilangan banyak hal” tutur belaiu sebagai kesimpulan.

            Di lain sisi, menerima seluruh ajaran akhlak dari para filosof secara bulat-bulatpu juga memiliki dampak yang buruk. Pemahaman dan ilmu yang digagas oleh para filosof juga harus dipilah dan dipilih selalu. Tak bisa dinafikan adanya kemungkinan salah pemahaman ataupun interfensi kepentingan pribadi di dalam merumuskan ilmu tersebut.

            Pertanyaan yang muncul setelah itu semua adalah, bagaimanakah cara membedakan antara yang benar dan salah dari seluruh perkataan para filosof? Al-ustadz Mujtaba menjelaskan caranya adalah menyesuaikan pandangan-pandangan para filosof dengan tuntunan yang ada pada Al-Qur’an dan Sunah. Tapi pertanyaan yang muncul dari pernyataan itu adalah, lalu apa yang harus dilakukan oleh orang yang belum menguasai seluruh isi dari Al-Qur’an dan Sunah jika berhadapan dengan pendapat para filosof? “ketahui hal-hal dasar dalam islam. Seperti Allah itu satu, Nabi kita Muhammad, kitab kita Al-Qur’an, dan sebagainya” jawab beliau. Pada intinya, satu hal yang perlu diketahui oleh orang awam adalah dasar-dasar konsep dalam islam yang kita sebut dengan worldview agar tidak salah dalam membuat kesimpulan dari pernyataan para filosof.https://islamisasi.unida.gontor.ac.id/

Pen : Mawardi

One comment

  1. Pingback: Family Gathering Ushuluddin : Dosen Yang Mengajarkan Kemudahan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *