Aqidah dan Filsafat Islam

Meluruskan Pemahaman ‘Islam tidak perlu dibela’

Kali ini, kami mohon izin ingin berbagi cerita teman kami, yang beberapa hari lalu berkesempatan membimbing mahasiswa mengadakan studi ke Pondok Modern Daar El-Falah Pandegelang, yang diasuh oleh KH. M. Makmun, salah seorang alumnus Gontor.

Beliau termasuk salah satu dari tim Korps Muballighin Jakarta. Korps ini memiliki semboyan “Kaki Kanan di mimbar, dan kaki kiri siap dipenjara”. Semboyan yang menunjukkan bahwa da’i tidak bisa dibeli dan siap menyatakan kebenaran meski dengan resiko yang berat, yakni dipenjara.

Pengasuh pondok tersebut memiliki pemahaman yang penting untuk direnungkan. Yaitu, kita dalam berislam jangan hanya puas sampai pada posisi ‘pemeluk’ agama Islam, harus meningkatkan diri menjadi ‘pejuang’ agama Islam. Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat berikut:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن تَنصُرُواْ ٱللَّهَ يَنصُرۡكُمۡ وَيُثَبِّتۡ أَقۡدَامَكُمۡ

Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. (QS. Muhammad: 7)

Umat Islam saat ini, menurut beliau banyak yang sudah puas menjadi pemeluk Islam, tidak mau meningkatkan diri pada posisi sebagai pejuang atau tim pemenangan Islam. Apalagi ada sebagian orang yang beranggapan bahwa Islam itu tidak perlu dibela dan diperjuangkan. Toh, Islam agama yang tinggi dan tidak akan ada yang lebih tinggi atau menandingi. Ya’lu wa laa yu’la alaih. Kadang juga menggunakan dalil ini,

هُوَ ٱلَّذِيٓ أَرۡسَلَ رَسُولَهُۥ بِٱلۡهُدَىٰ وَدِينِ ٱلۡحَقِّ لِيُظۡهِرَهُۥ عَلَى ٱلدِّينِ كُلِّهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡمُشۡرِكُونَ

Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk (Al-Qur’an) dan agama yang benar untuk diunggulkan atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai. (QS. At-Taubah: 33)

Untuk menjawab pemahaman model seperti itu, kita perlu sampaikan bahwa Islam memang akan selalu dimenangkan oleh Allah SWT, tapi iradatullah terkait kemenangan Islam tentu melalui sebab atau perantara yang telah Allah taqdirkan. Taqdir itu bisa berupa apa saja, termasuk berupa perjuangan yang dilakukan oleh seorang Muslim. Tinggal kita mau ambil bagian dari sebab itu atau tidak. Jika kita mau mengambil bagian tersebut, maka beruntunglah kita, namun jika tidak maka rugilah kita.

Hal ini sebagai ana sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,

إِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا اسْتَعْمَلَهُ قَالُوا وَكَيْفَ يَسْتَعْمِلُهُ قَالَ يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ قَبْلَ مَوْتِهِ

“Apabila Allah menghendaki kebaikan atas hamba-Nya, maka Dia memperkerjakannya?” Para sahabat bertanya, ‘Bagaimana Allah memperkerjakannya?’ Beliau menjawab, ”Allah memberinya taufiq untuk beramal shalih sebelum kematiannya.” (HR. Ahmad dan al-Tirmidz dishahihkan oleh Al-Albani)

Dari hadit ini, redaksi ‘isti’mal’ juga dapat dipahami jika Allah menghendaki kebaikan bagi hambanya maka Allah akan membukakan pintu baginya dalam berkhidmah pada agama-Nya, baik dengan mempelajarinya, mengajarkannya, ataupun menerapkannya dalam lingkup sempit ataupun luas. Sehingga dia mendapatkan kemuliaan di dunia maupun di akhirat. Namun terkadang Allah enggan menggunakan hambanya dalam berkhidmah pada agama-Nya, hal ini biasanya disebabkan oleh kemalasannya (padahal dia memiliki kekuatan dan kemampuan), sehingga dia tidak mendapatkan kemuliaan tersebut.

Akhirnya, mari kita tingkatkan diri kita, dari pemeluk agama Islam (الدخول في دين الله) menjadi penjuang dan pemenang agama Islam (ناصر دين الله).”

اللهم استعملنا في خدمة دينك، ولا تستبدلنا يا رب العالمين. آمين

Wa Allahu A’lam

M Shohibul Mujtaba

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *