Aqidah dan Filsafat Islam

Memahami Makna Agama, Ilmu dan Alam

afi.unida.gontor.ac.id – Era Industri 4.0 membawa manusia pada kemudahan dalam berbagai segi dalam kehidupan termasuk ilmu pengetahuan. Berbagai penemuan telah mendorong manusia kearah yang lebih dinamis, efisien, inofatif dan sebagainya. Namun apakah kesemuanya itu mampu menghantarkan manusia kepada kebahagiaan? Ataukah hanya sebagai jalan pintas untuk menyelesaikan suatu permasalahan?

Fisikawan Amerika J. Robert Oppenheimer sang penemu bom atom yang penemuannya itulah menjadi titik kelabu dalam perjalanan Sains atau ilmu pengetahuan. Beliau juga menyesali tentang apa yang ditemukannya dan megemukakan : “Now, I become death, the destroyer of world”.[1] Sebuah penyesalan yang menjadikannya berlawanan arah sehingga menjadikannya musuh bagi para pengembang nuklir dikemudian hari.[2]

Tidak hanya nukilir berbagai produk yang dihasilkan oleh ilmu pengetahuan modern. Kloning[3] salah satunya yang menjadikan sains berkembang secara dilematis. Jauh sebelum kloning pada 1859 Saintis Inggris Charles Darwin berhasil memcahkan asal-usul dari manusia setelah sebelumnya pada 1735 Caralus Linnaeus berhasil membuat klasifikasi berdasarkan kemiripan dan memberikan nama-nama saintifik bagi tiap-tiap spesies.[4] Lalu apakah kita setuju terhapad asal-muasal manusia seperti yang dalam teori evolusi?

Tentunya Darwin sendiri melandaskannya dengan keraguan bukan dengan kepastian.[5] Delusi ini diperparah dengan imajinasi Barat akan penciptaan alam semesta yang konon katanya diawali dengan ledakan dan diakhiri dengan ledakan pula.[6]  Ilmu pengetahuan yang kita pelajari ini bagai racun yang mana kita minum disadari atau tidak disadari akan menghilangkan akidah kita sebagai ummat muslim.

Hal ini menunjukan bahwa apa yang ada dalam sains modern adalah worldview sang saintis. Cara pandang saintis dalam melihat alam, realitas, dan kebenaran yamng mendasari apa yang disebutnya sebagai ilmu dan produk yang dilairkannya. Setidaknya ada beberapa cara pandang yang identik dengan sains Barat atau Modern yaitu: (a) bebas nilai, (b) materialistik, dan (c) anti metafisik, (d) anti otoritas, (e) relatif, (f) berdasar keraguan (g) sekuler (h) dualisme.[7]

Lebih jauh Syed Muhammad Naquib Al-Attas mengidentifikasi proyeksi keilmuan Barat yang didasari, dibangun dan dijiwai pada lima faktor diantaranya; (a) akal diandalkan untuk membimbing kehidupan manusia, (b) Dualistik dalam menyikapi realitas dan kebenaran, (c) memproyeksikan dan menegaskan pandangan hidup sekuler, (d) Humanisme dijunjung tinggi dan dibela , (e) menjadikan drama dan tragedi debagai unsur-unsur dalam fitrah manusia dan eksistensi kemanusiaan.[8]

Lalu apakah kita sebagai muslim menolak sains atau dari semua problem diatas memunculkan konklusi bahwa sains itu tidak sesuai dengan agama dan harus ditinggalkan? Tentu konklusi ini dan penolakan terhadap sains kurang tepat karena ilmu dalam Islam adalah suatu yang harus kita perjuangkan, dicari, dan dihormati. Lantas bagimana ilmu itu? Sebelum membahas menegnai ilmu ada baiknya kita memahami makna agama.

Makna Agama

Makna Agama disini merujuk pada Syed Muhammad Naquib Al-Attas dalam karyanya yang berjudul Risalah Kaum Muslimin dalam perenggan ke 12-13 tentag faham agama. Beliau menyatakan bahwa “agama itu berasas pada Tanzil daripada Tuhan kepada insan yang dilangsungkan dengan perantaraan wahyu yang dituturkan olehNya kepada Nabi atau rasulNya (Muhammad salla’Llahu ‘alaihi wa sallam) bagi anutan setiap manusia.[9]

Beliau juga menerangkan dalam karya yang sama bahwa kata Agama dalam Bahasa Arab al-din yang memiliki makna hutang, keadaan berhutang. Keadaan berhutan ini tentunya adalah keadaan diman kita diciptakan dari yang todak ada menjadi ada, yang diterangkan dalam Surah Al-Mu’minun: 12-14.[10]  Pemahaman kita atas diri kita tak lepas dari petunjuk yang diberikan kepada kita melalui akal yang sehat atau akal ruhaniyah[11] (sound reason) akan mengakibatkan bahwa kita ini tidak mempunyai daya akan sesuatu apapun yang kita alami.

Dari sinilah timbul penaklukan dirinya untuk menurut pada perintah Sang Khalik Yang Maha Pengasih dan Maha Pemurah. Manusia yang sampai pada tahap ini ukanlmah manusia yang tidak beradab, liar, namun sebaliknya manusia yang mengenali dirinya dan Ia menyerahkan segala sesuatunya pada Sang Kuasa.[12] Penyerahan dalam faham ini bukan berarti manusia terkungkung pada akhirnya, terkungkung akan kebebasannya.

Kebebasan manusia ini memiliki tujuan untuk mencapai sifat bawaan asli dirinya dengan sempurna, dan sifat asli manusia itu adalah penaklukan dirinya akan Undang-undang Pencipta Agung yang telah merencanakannya dengan seimbang sesuai dengan apa yang diciptakanNya. Penaklukan diri ini justru mebawa manusia kepada fitrah atau sifat asli dari manusia menuju kesempurnaanya.[13] 

Dalam Al-Qur’an Surat al-A’raf ayat 179 Allah mengibaratkan kehidupan dunia ini seumpama suatu perdagangan atau modal (التجارة), manusia sebagai orang yang berdagang yang melangsungkan amanah jual-beli (بيعة) pembelian barang jual-beli (إشترى) dan untung dan ruginya suatu perdagangan (ربح التجارة أو ما ربح التجارة), tergantung kepada pengenalan manusia terhadap dirinya yag sebenarnya, serta penunaian janjinya terhadap Tuhannya, yang disebut sebagai pembalas (الديان), di hari pembalasan (يوم الدين) atau disebut juga hari perhitngan (يوم الحساب).[14]

Manusia atau insan senantiasa dalam keadaan yang rugi (خسر), kecuali mereka yang baik dan mengamalkan amalan yang baik, amalan yang baik ini disebut sebagai pinjaman yang baik (قؤضا حسنا), yang dihaturkannya kepada Hadarat Rabnya yang menerimanya dan menyimpannya, dan memberi serta menambahkan faedah yang berlipat daripadanya (أضعافا كثيرا).[15] Dengan faham inilah manusia hidup didunia dengan diibaratkan dengan perdagangan, dimana manusia hidup dalam suatu peradaban atau tamadun lengkap dengan undang-undang, hukum, pemerintah, keadilan, kesusilaan, akhlak beserta ilmu.[16]

Paham agama ini membawa kepada keadaan insan lebih bersifat kemurnian insaniyah atau berperikemanusiaan. Keislaman yang total atau Kaffah itu pastinya bersumber kepada Al-Qur’an dan Sunnah yang berimplikasi kepada ketentraman, kedamaian, kesejahteraan. Takluk yang mutlak kepada Sang Kuasa dengan kedua sumber itu sehingga menjadi selaras, harmonis dengan fitrah manusia. Fitrah manusia ini memang dijadikan Allah untuk mengabdi kepada Allah, seperti dalam Surat al-Dhariyat: ayat 56.[17]

Pengabdian kita terhadap Allah tidak berarti Allah itu butuh akan pengabdian kita, namun dari pengabdian itulah muncul rahmat dari Allah untuk manusai dalam pembebasannya terhadap belenggu kehewanan, dan memulihkannya kepada taraf kemurnian yang asli atau ke taraf yang dirujuk sebagai ahsani taqwim. Maka agama Islam adalah agama fitrah yang melaksanakan hasrat bawaan, tabiat manusia. Sehingga muncul pemahaman jika manusia menutup akalnya akan kebenaran bahwa ia harus takluk terhadap Rabnya untuk membenarkan fitrahnya maka akan terjadi kekacauan atau chaos terhadap dirinya, lebih jauh kepada orang lain, lingkungan beserta alam.[18]

Sudah jelas konsep agama yang benar dan tentunya berbeda dengan konsepsi Barat akan agama yang diistilahkan dengan religion yang berasal dari kata Religio (Bahasa Latin) yang berarti mengikat. Jika sejarah kita pelajari maka agama di Barat memang dilaksanakan dengan pengikatan yang secara paksa oleh suatu golongan terhadap khlayak ramai. Oeleh sebab itu agama dianggap sebagai belenggu yang menafikan kebebasan, Maka pengikatan yang berlaku adalah pengikatan manusia oleh manusia kepada manusia, dan penerimaan pengikatan itu oleh yang diikat bukanlah berdasarkan kerelaan diri sendiri.[19]

 Atas dasar inilah agama yang berbentuk ikatan harus diselaraskan dengan mengendorakan ikatannya sesuai tuntuntan rakyat dan kehendak zaman. Agar supaya ikatan itu tetap diterima sebagai agama di mata masyarakat mereka merubah asas-asasnya dengan dasar yang baru, yang sekular. Maka agama dalam pengertian ini adalah agama kebudayaan, agama buatan manusia yang terbina dari pengalaman sejarah yang dilahirkan diasuh, dan dibesarkan oleh sejarah.[20]

Makna Ilmu

Telah disinggung diatas bahwa kembali pada artian agama menurut Islam adalah suatu proses untuk mencari ilmu yang benar beserta pemahaman akan tanda-tanda, lambing-lambang yang tertulis dalam Al-Qur’an maupun tidak tertulis yang dimanifestasikan oleh Allah menjadi alam disekitar kita bahkan diri kita sendiri. Tentunya proses beragama ini membutuhkan sesuatu yang dapat menjadi landasan yang tidak akan menghasilkan keraguan.

Maka dalam Islam iman ini menjadi hasil dari pengetahuan manusia dan iman pula menjadi asasnya, Berbeda dengan Barat dengan konsep faith. Faith and Belief dipakai untuk menerjemahkan iman, kata belief menerima suatu pernyataan intelektual tannpa meniscayakan adanya perbuatan yang menyertainya, bahkan secara epistemologis kedudukan belief sendiri lebih rendah dari konsep ilmu itu sendiri, misalnya kata “I believe that book in front of me” itu bukanlah suatu ilmu itu hanya informasi saja. Yang kedua faith tidak meniscayakan adanya ilmu yang mendahuluinya.[21]

Konsep iman dalam Islam melibatkan kesetiaan kepada amanah yang telah diberikan oleh Sang Maha Kuasa kepada manusia sebagai hambanya, bukan hanya sekedar ungkapan yang diikrarkan dengan lisan, tanpa persetujuan hati, Bahkan iman lebih dari sekedar ilmu yang mendahului dan mendasari keyakinan, namun iman merupakan pembuktian dengan tindakan ayas apa kyang diketahui dan dikenalisebagai kebenaran. Iman adalah pengenalan dan pengakuan kebenaran yang mengharuskan pernyataan dalam diri seseorang yang terealisasi dalam bentuk perbuatan.[22]

Pengenalan, pengakuan terhadap kebenaran dapat tercapai karena ia jelas dengan sendirinya ketika ditangkap oleh fakultas intuitif atau yang disebut hati atau qalb, penangkapan ini tentunya dengan perantara hidayah atau petunjuk dan bimbingan dari Allah SWT, dan bukan sekedar pernyataan rasional dan bukti-bukti logis.[23] Maka kebenaran dalam konsep ilmu dalam Islam bersifat objektif dan subjektif tanpa ada pemisahan, dikotomi antar keduanya seperti konsep ilmu Barat.

Ilmu dalam Islam adalah suatu proses atau gerak-daya memperoleh pengetahuan dan merujuk kepada sifat yang berbeda pada suatu manusia yang hidup, yang membolehkan diri yang mengetahui itu mengetahui apa yang diketahui, ilmu juga pengenalan atau ma’rifat terhadap apa yang dikenali sebagaimana adanya, maka ilmu adalah sesuatauyang meyakinkan dan memahamkan sesuatu yang nyata dan benar atau al-haq.[24]

Maka ilmu dalam pemahaman Islam dapat dibagi dalam dua perkara yang jelas yaitu pengenalan dan penegtahuan. Ilmu dalam dua perkara ini merupakan satu kesatuaan yang memiliki dua kenyataan yang menjelaskan sifat beserta tujuannya. Pertama, ilmu pengenalan diperoleh berdasar tanzil, wahyu, dan sunnah; diperoleh melalui perhatia seseorang mengenai kalbu atau dirinya sendiri; dan juga bisa dari ilham dan juga ma’rifat, kasyaf, musyahadah dan gerak-upaya aqliyah. Kedua, ilmu penegtahuan yang diperoleh dengan gerak-upaya aqliyah, pemerhatian terhadap kalbu dan pengealaman, renungan atau musyahadah juga dapat dikategorikan dalam ilmu pengetahuan.[25]

Dalam artian ini ilmu pengetahuan memiliki dua bagian; pertama merujuk kepada hakikat ruahaniyah atau pemahaman  bentuk batin hakikat ruhaniyah yang berarti pemahaman atas dasar-dasar ilmiah yang jelas dan tidak perlu adanya bukti untuk kebenaran dan keabsahannya. Dan dengan hakikat ruhaniyah itu menyabitkan ilmu pengetahuan kepada pengenalan. Kedua merujuk kepada benda dan kenyataan alam sekeliling serta pengalaman yang diperoleh dari ikatan alam sekeliling dan dengan dirinya yang menagalami.[26] Dalam  ilmu seperti ini Al-Attas sampai kepada konklusi beliau yang dinyatakan dengan kalimat “ilmu itu tibanya ma’na ke dalam diri serempak dengan tibanya diri kepada ma’na.”[27]

Penyelarasan Ilmu, Agama, dan Alam

Setelah memahami makna agama dan ilmu yang menunjukan keharmonisan bahkan saling mendukung satu sama lain, namun tejangan globalisasi ilmu penegatahuan Barat serta reduksinya terhadap nilai-nilai, ajaran-ajaran Islam membuatnya seakan tidak selaras. Bahkan S.M.N. Al-Attas dalam prenggen 16 buku Risalah untuk Kaum Muslimin, secara tegas menegmukakan banwa Barat telah melakukan dua skema dalam penjajahan untuk menentukan kaum muslim kedalam keadaan yang seperti sekarang ini.

Pertama ialah memutuskan laum muslimin terhadap ilmu penegtahuan mengenai Islam secara benar dalam sistem pembelajaran dan pelajaran secara lambat laun. Dan kedua ialah memasukkan unsur-unsur, nilai-nilai, dan paham-paham serta konsep-konsep kebudayaan Barat yang sedikit demi sedikit akan menggerogoti dan menggantikan unsur-unsur, nilai-nilai kebudayaan Islam di kalangan umat Islam seluruhnya.[28]  

Secara terbatas ilmu pengetahuan yang kita pahami sekarang ini adalah ilmu yang secara bukan hanya lahir di peradaban Barat saja. Dengan kata lain ia dibangun diberbagai peradaban lain dari peradaban kuno sampai sekarang ini. Namun demikian setiap peradaban memiliki cara pandang tentang realitas dan kebenaran masing-masing maka perbedaan dari setiap produk ilmu akan kentara terlihat dari tujuan, asumsi dasar, metodologi, bahkan mengenai pengaplikasian teori atau produk ilmu pastinya berbeda.

Dalam buku The History of and Philosophy of Islamic Science karya Osman Bakar dalam bagian IV mencoba mengarahkan ilmu pengetahuan modern yang saat ini kepada pengetahuan spiritual. Dan memang sepanjang perjalanan ilmu pengetahuan tidak akan lepas dari pengetahuan spiritual. Baik pra-modern dan modern, ilmu pengetahuan tidak lepas darinya. Osman Bakar dalam menyatukan ilmu modern ini menggunakan rujukan tradisi intelektual muslim atau tradisi keilmuan dalam Islam.[29]

Ilmu pengetahuan spiritual yang dimaksudkan disini adalah ilmu yang berkaitan dengan tatanan spiritual dan esensi dari pengetahuan ini adalah pengetahuan atau pemahaman akan ruh itu sendiri. Sehingga jika kita menggunakan Islam yang mana basis dari segala pengetahuannya adalah pengetahuan dan pemahaman dari Sang Maha Esa. Pengetahuan tentang Tuhan dan Kesatuannya ini atau dalam konsep Islam adalah at-Tawhid sebagai landasan, tujuan akhir dan sebagai pengetahuan yang paling tinggi dan utama.[30]

Dalam pengertian at-Tawhid bukan hanya berarti ruh yang murni saja, namun juga beragam manifestasi dari ruh atau at-Tawhid tadi yang membentuk suatu realitas alam semesta. Atau dengan kata lain komponen utama memahami ¬at-Tawhid adalah memhami alam semesta sebagai efek dari kekuasaan Tuhan akan penciptanNya. Hubungan Tuhan dengan yang diciptakanNya, atau hubungan antara prinsip Ilahi dan manifestasi kosmik merupakan dasar paling mendasar dari kesatuan ilmu pengetahuan dan pengetahuan spiritual.[31]

Untuk mencapai pada pemahaman demikian dalam Islam sumber paling penting adalah Al-Qur’an dan hadits kenabian. Di dalam dua sumber ini mengandung konsep-konsep kunci dan ide-ide kunci dalam memahami seluruh pengetahuan spiritual dan berbagai manifestasinya yang terbentuk dalam berbagai realitas. Maka kedua sumber ini menjadi sumber utama dalam memahami konsepsi Islam dan pengalaman spiritualnya.

Al-Qur’an sebagai Sumber Ilmu Pengetahuan dan Pengetahuan Spiritual

Al Qur’an sebagai sumber intelektual seorang muslim dalam memahami berbagai ilmu pengetahuan. Ia adalah sumber inspirasi utama dalam visi seorang muslim mengenai kesatuan antara ilmu pengetahuan dan spiritualitas yang mendalam. Hal ini merupakan konsekuensi dari apa yang menjadi prinsip utama seorang intelek muslim yaitu at-Tawhid.

Manusia memperoleh segala ilmu pengetahuan dari berbagai sumber dalam berbagai sarana dan beragam metode dan cara. Namun dalam konsepsi Tauhid semua berasal dari Sang Maha Tahu. Dalam Al-Qur’an telah dijelaskan bahwa manusia diberikan oleh Allah berbagai kemampuan dan instrument untuk dapat mengetahui berbagai hal. Bahkan lebih jauh bagi seorang muslim menuntut ilmu dan mencari ilmu wajib hukumnya, karena iman akan Allah memerlukan sebuah pengenalan dan pengakuan yang keduanya berasal dari manusia mengilmui sesuatu itu sepertia apa adanya.[32]

Uniknya Al-Qur’an bukanlah buku sains, namun Al-Qur’an memberikan segala prinsip-prinsip yang ada dalam pengetahuan. Prinsip-prinsip ini selalu berkaitan antara pengetahuan metafisik dan pengetahuan fisik, pengetahuan dan spiritual. Keunikan itu juga terletak pada proses tanzil Al-Qur’an dengan kalimat bacalah dengan menyebut nama Tuhan-mu yang Menciptakan. Maka setiap ilmu pengetahuan yang dicerap manusia akan didasarkan pada realitas Tuhan, maka Islam secara tegas memberikan legitimasinya akan keterkaitan ilmu dengan Tuhan.[33]

Alam sebagai Sumber dari Ilmu Pengetahuan Ilmiah dan Spiritual

Alam merupakan sumber besar bagi ilmu pengetahuan baik berupa fisika, metafisika, matematika, ilmiah dan spriritual, kualitatif dan kuantitatif, praktis dan estetis. Sebagai sebuah kesatuan melihat dunia ini maka ilmu keseluruhan aspek dari semua unsur tadi memiliki keterkaitan satu dengan yang lain. Keilmuan yang berkembang di Barat menafikan dari satu aspek yang saling berkaitan itu fisik tidak dikaitkan dengan metafisik, karena Barat menafikan metafisik. Hal ini muncul karena konsekuensinya atas konsep materialisme yang mereduksi alam hanya sebatas fisik saja dalam cara pandang mengenai kebenaran dan realitas wujud atau worldviewnya.

Tentu keilmuan Barat ini bersifat sangat subjektif bahkan bisa dikatakan mereka egois dalam menentukan dasar-dasar keilmuan yang melulu harus yang bersifat materi yang bisa dirasa, dilihat atau lebih tepaynya bisa diindra, dan selain itu bukanlah suatu ilmu. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Eddington dan Whitehead yang ditulis oleh Syed Hussein Nasr dalam karyanya Man and Nature: The Spiritual Crisis in Modern Man.[34]

Konsep Tauhid dalam Islam sebagai prinsip ilmu penegetahuan diaplikasikan pada setiap ilmu. Bisa kita lihat dalam asas fundamental dalam matematika dipahami dalam seluruh aspek baik kualitatif dan kuantitatif, sebagaimana yang diungkapkan Ikhwan as-Shafa di abad ke 11 yang menyatakan bahwa seluruh dunia ini tersusun atas keselerasian hubungan geometris, arithmatika, dan hubungan musikal.[35]

Dalam pengaplikasian teori-teori matematika para cendikiawan msulim mengangkat nilai-nilai kebajikan. Syed Hussein Nasr dalam karyanya Islamic Cosmological Doctrines menyatakan bahwa  mendasarkan tujuan dari geometri adalah untuk membantu mempersiapkan jiwa manusia kedalam perjalanan dunia ruh dan kehidupan abadi.  Ilmu Angka dilihat dari kacamata spiritual bukan hanya bilangan yang atau entitas yang hanya bisa dikuarangi, ditambah, dibagi dan lain sebagainya. Namun bilangan dalam segi kualitatifnya adalah citra spiritual yang menggambarkan manusia sebagai ciptaan-Nya. Ikhwan as-Shofa menerangkan bahwa angka 1 adalah manifestasi Tuhan akan alam yang diciptakannya dan anka 0 adalah melambangkan esesnsi dari Kekuasaan Allah atas semua penciptaan-Nya.[36]

Alam ini juga memiliki segi spiritual, metafisik, bukan hanya sekedar alami begitu saja. Alam fisik yang terlihat ini terhubung dengan alam yang metafisik yang ada dibalik fisik bukan tidak bisa dilihat ataupun tidak kelihatan namun posisinya memang tidak terindra namun kebenarannya ada. Hal ini ditunjukan dengan adanya keteraturan alam, bahkan sebagai cerminan, manifestasi, simbol-simbol dari hal-hal yang bersifat spiritual, metafisika.

Pembuktian ini tidak hanya berlaku dalam Islam bahkan semua tradisi keilmuan yang telah ada sebelumnya, (sebelum dikekang oleh pengetahuan Barat) telah mengakui bahwa alam adalah akibat dari sebab yang ada di dalam dunia spiritual. [37] Pengetahuan yang dibangun dalam Peradaban Barat memang ada pembatasan antara dunia fisik dan dunia metafisik, alam dan spiritual yang fisik diidentifikasi dengan yang profan atau hanya bersifat fisik sementara hal yang besrsifat spiritual diidentifikasikan dengan yang suci, sakral tidak bersatu dengan yang bersifat materi. Maka konsekuensi dari itu adalah alam yang nihil tanpa nilai-nilai sakral, dan kehilangan esensinya sebagai sesuatu yang sakral.

Dalam filsafat Islam dan beberapa literatur tentang teologi, pemahaman akan adanya sebuah aturan mengenai alam yang berkaitan dengan spiritual. Bahkan dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa alam ini adalah sebagai makrokosmos dan manusia sebagai mikrokosmos, dan di dalam keduanya memiliki tanda-tanda atau al-ayah Tuhan. Ayat-ayat dalam Al-Qur’an juga disebut ayat Allah, ini menunjukan adanya koneksi yang unik yang memungkinkan alam terkait dengan Penciptanya. Sebagai tanda-tanda alam ini menyampaikan pesan-pesan transenden mengenai metafisik dan spiritual, dan mengantarkan manusia kepada keyakinan akan Tuhannya (imanen).

Alam sebagai Hukum Ilahi

Perpisahan alam dan aspek spiritualitas yang ada di Barat menyebabkan pemahaman bahwa hukum alam (bahkan yang dibuat) bertentangan dengan hukum Tuhan. Kerusakan atas konsekuensi pemahaman alam yang tidak terkait dengan Tuhan maka akan menyebebkan yang demikian. Maka pemahaman tentang keserasian keduanya harus ditekankan ulang untuk memungkinkan ilmu pengetahuan yang menjadi produk tetapa ada hubungannya dengan spiritualias.

Dalam Islam tidak pernah terjadi pertentangan itu, mereka sejalan, harmonis, bahkan ilmu yang dihasilkan terhadap pengkajian akan alam menghantarkannya kepada Sang Maha Kuasa. Karena Hukum alam adalah tidaklah bukan Hukum Tuhan, Semua hukum yang berlaku di alam adalah refleksi dari Prinsip Ilahi, Dan Tuhan adalah Pemberi Hukum bahkan Sebaik-baiknya Pemberi Hukum. Ia mewujudkan Kehendak-Nya baik di kosmos (alam) maupun di tataran kehidupan manusia. Syariah adalah hukum Tuhan untuk mengatur kehidupan manusia atau dalam istilah disebut nawamis al-anbiya’, dan hukum Tuhan yang mengatur tentang seluruh alam semesta ini adalah hukum penciptaan atau namus al-Khilqah.[38]

Pengetahuan Kosmologis sebagai Sumber Kerangka Konseptual bagi Kesatuan Sains dan Pengetahuan Spiritual

Kosmologi menurut Al-Farabi dalam karyanya Ihsa’ Al-Ulum adalah cabang metafisika, dan memang kosmologi dalam Islam merupakan penghubung metafisika dan sains-sains yang partikular, karena tujuannya memerlihatkan kesalingterkaitan segala sesuatu dan hubungan tingkat hirarki kosmik satu sama lain dan akhirnya pada Prinsip Tertinggi (Tauhid).

Dunia yang dicerap oleh manusia adalah salah satu bagian dari berbagai tingkatan eksistensi. Cendikiawan muslim mengembangkan kosmologi ke dalam berbagai konsep-konsep yang berbasis pada data skriptual tertentu. Setiap model dapat diidentifikasi dengan penggunaan satu tipe simbol atau lebih. Sebagai contoh dalam medel kosmologi Phytagoran Muslim, seperti Ikhwan as-Shofa digunakan kombinasi simbolisme numeris, alfabetis, alkemis, dan astrologis untuk menggambarkan tingkat-tingkat dan sifat realitas kosmik.[39]

Model Paripatetik, Al-farabi dan Ibn Sina, menggunakan simbolisme yang inhern dengan skema  geosentris astronomi Ptolemus. Model filosof Isyraqi mengunakan simbol cahaya (Suhrawardi), Model kosmologi sufi Ibn Arabi menampilkan kualitas-kualitas kosmik sebagai refleksi dari Nama-nama dan Sifat-Sifat Ilahi dan setiap tingkat eksistensi kosmik sebagai “Kehadiran Ilahi”. Walau dengan simbol-simbol yang berbeda cendikiawan muslim mampu untuk mengejawantahkan dan membuktikan adanya hubungan vertikal antara alam dan Tuhan.[40]

Kesimpulan  

Ilmu dan agama perlu untuk diintegrasikan ataupun di-Islamisasi-kan agar seiring dengan fitrah manusia. Jika ilmu itu sejalan dengan fitrahnya maka akan timbul sebuah kebijaksanaan dalam meletakkan ilmu itu dan daripadanya menghasilkan amal yang selaras dengan adab, amal yang sesuai dengan adab ini bila dikerjakan dengan kolektif maka akan timbul suatu keadilan.

Metode ilmiah yang kini digandrungi oleh banyak orang, ilmuan, scientis, cendikiawan nyatanya harus melepaskan klaimnya akan satu-satunya cara mengetahui sesuatu. Karena hasil mengetahuinya-pun kering akan nilai-nilai spiritual dan tentu konsekuensinya manusia akan kehilangan fitrahnya sebagai manusia. Sains modern harus melihat fakta historis bahwa telah ada peradaban yang ada di dalamnya masyarakat yang mengembangkan berbagai cara untuk mempelajari alam semesta. Dan Barat memang selalu semangat akan mereduksi alam ini karena reduksi sudah menjadi konsekuensi dari cara pandangnya terhadap alam.

Tentu ilmu yang melahirkan suatu adab, keadilan tak lepas dari pengenalan dan pengakuan akan hak keadaan sesuatu dan kedudukan seseorang. Adab bertitik tolak terhadap peneganalan sebagai ilmu dan pengakuan sebagai amal. Pengenalan tanpa pengakuan  seperti ilmu tanpa amal, dan sebaliknya. Jika pengenalan tanpa pengakuan maka memunculkan sifat ingkar dan angkuh, jika pengakuan tanpa pengenalan maka akan timbul ketidaksadaran dan kejahilan.[41]

Antara manusia dan ilmu harus diletakkan secara hak, baik dari segi kedudukan dan keadaan, maka ilmu itu mengarahkan kepada Tuhannya, dan Tuhannya senantiasa membimbimngya kepada jalan yang benar sehingga tujuan ilmu adalah bukan “ilmu untuk ilmu” namun “ilmu untuk beribadah”.

Oleh: Hanif Maulana Rahman
Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Darussalam Gontor


DAFTAR PUSTAKA

            Al Amin, Wisnu dan Ulfa, Maria, 2018. Hubungan Ilmu Pengetahuan dan Moralitas; Analisis Problem dan Tanggung Jawab Keilmuan, dalam Jurnal Tsaqofah, Vol. 14. Ponorogo: Universitas Darussalam Gontor.

            Al-Attas, Syed Muhammad Naquib. 2011 Risalah untuk Kaum Muslimin dalam Kuala Lumpur : ISTAC.

            Al-Attas, Syed Muhammad Naquib, 1989. Islam and Philosophy of Science, Kuala Lumpur: ISTAC, , terj. Saiful Muzani, 1995. Islam dan Filsafat Sains, Bandung: Mizan.

            Al-Attas, Syed Muhammad Naquib, 1995. Prolegomena to the Methapysics of Islam: An Exposmon of the Fundamental Elements of the Worldview of Islam, Kuala Lumpur: ISTAC.

            Al-Attas, Syed Muhammad Naquib, 2002. Tinjauan Ringkas Peri Ilmu dan Pandangan Alam, dalam majalah Al-Hikmah, Menjana Akal Budi Ummah. No. 21 Bil. 1 Tahun 8 2002, Kuala Lumpur: Forum ISTAC.

            Al-Attas, Syed Muhammad Naquib, 2015. Risalah untuk Kaum Muslimin dalam Himpunan Risalah, Kuala Lumpur : IBFIM – CASIS.

            Arif, Syamsuddin, 2016. Islamic Science: Paradigma, Fakta dan Agenda, Jakarta: INSISTS.

            Arif, Syamsuddin, 2017. Islam Diabolisme Intelektual, Jakrta: INSIST,

            Armas, Adnin, 2015. Krisis Epistemologi dan Islamisasi Ilmu, Ponorogo: CIOS.  

            Bakar,  Osman 1999. The History and Philosophy of Islamis Science, Cambridge: Islamic Texts Society.

            Daud, Wan Mohd Nor Wan, 2016. Falsafah dan Amalan Pendidikan Islam Syed Muhammad Naquib Al-Attas Satu Huraian Konsep Asli Islamisasi, Cet. VII. Kuala Lumpur: Penerbit University Malaya.

            Hussaini, Adian, 2005. Wajah peradaban Barat: dari hegemoni Kristen ke dominasi sekular-liberal, Jakarta: Gema Insani.

            Musthofa, Aziz dan Musbikin, Imam, 2001. Kloning Manusia Abad XXI Antara Harapan, Tantangan, dan Pertentangan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

            Nasr, Syed Hussein. 1989. Man and Nature: The Spiritual Crisis in Modern Man, Kuala Lumpur: Foundation for Traditional Studies.

             Agung  dan Rachmanta, Rezza Dwi, 2018. “Robert Oppenheimer, Ayah Bom Atom yang Menyesali Penemuannya”,

            Temperton, James, “’Now I am become Death, the destroyer of worlds’. The story of Oppenheimer’s infamous quote”, Wired.UK, https://www.wired.co.uk/article/manhattan-project-robert-oppenheimer

[1] James Temperton, “’Now I am become Death, the destroyer of worlds’. The story of Oppenheimer’s infamous quote”, Wired.UK, https://www.wired.co.uk/article/manhattan-project-robert-oppenheimer diakses pada 12 Juli 2020, pukul 20.39 WIB.

[2] Agung Pratnyawan  dan Rezza Dwi Rachmanta, “Robert Oppenheimer, Ayah Bom Atom yang Menyesali Penemuannya”, https://www.hitekno.com/sains/2018/08/08/183000/robert-oppenheimer-ayah-bom-atom-yang-menyesali-penemuannya diakses pada 12 Juli 2020, pukul 20.43 WIB.

[3] Aziz Musthofa dan Imam Musbikin, Kloning Manusia Abad XXI Antara Harapan, Tantangan, dan Pertentangan, (Yogyakarta; Pustaka Pelajar, 2001), h. 52. Lihat juga Wisnu Al Amin dan Maria Ulfa, Hubungan Ilmu Pengetahuan dan Moralitas; Analisis Problem dan Tanggung Jawab Keilmuan. Jurnal Tsaqofah, Vol. 14, No. 1, Mei 2018. H. 27.

[4] Lihat Syamsuddin Arif, Islam Diabolisme Intelektual, (Jakrta: INSIST, 2017), h. 184-186.

[5] Ibid, h. 184-186.

[6] Ibid, h. 184-186.

[7] Wisnu Al Amin dan Maria Ulfa, Hubungan Ilmu Pengetahuan dan Moralitas; Analisis Problem dan Tanggung Jawab Keilmuan. Jurnal Tsaqofah, Vol. 14, No. 1, Mei 2018. H. 27. Dalam makalah ini terdapat tiga ciri identik sains di Barat namun penulis menambahkannya pada makalah ini.

[8] Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Prolegomena to the Methapysics of Islam: An Exposmon of the Fundamental Elements of the Worldview of Islam, (Kuala Lumpur: ISTAC, 1995), h. 88. Lihat juga Adnin Armas, Krisis Epistemologi dan Islamisasi Ilmu, (Ponorogo: CIOS, 2015), h. 11-12.   

[9] Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Risalah untuk Kaum Muslimin dalam Himpunan Risalah (Kuala Lumpur : IBFIM – CASIS, 2015)h. 30.

[10] Ibid., h. 30-37.

[11] Ibid. 30-37.

[12] Ibid., h. 31-32

[13] Ibid., h. 32

[14] Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Risalah untuk Kaum Muslimin dalam Himpunan Risalah (Kuala Lumpur : IBFIM – CASIS, 2015), h. 34.

[15] Ibid., h. 34.

[16] Ibid., h. 34.

[17] Ibid., h. 35.

[18] Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Risalah untuk Kaum Muslimin dalam Himpunan Risalah (Kuala Lumpur : IBFIM – CASIS, 2015), h. 37.

[19] Ibid., h. 37.

[20] Ibid., h. 38. Lihat juga Adian Hussaini, Wajah peradaban Barat: dari hegemoni Kristen ke dominasi sekular-liberal, (Jakarta: Gema Insani, 2005)

[21] Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Islam and Philosophy of Science, (Kuala Lumpur: ISTAC, 1989), terj. Saiful Muzani, (Bandung: Mizan, 1995), h. 18-19.

[22] Ibid., h. 19.

[23] Ibid., h. 19-20

[24] Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Risalah untuk Kaum Muslimin dalam Himpunan Risalah (Kuala Lumpur : IBFIM – CASIS, 2015), h. 53.

[25] Ibid., h. 59.

[26] Ibid., h. 59.

[27] Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Tinjauan Ringkas Peri Ilmu dan Pandangan Alam, dalam majalah Al-Hikmah, Menjana Akal Budi Ummah. No. 21 Bil. 1 Tahun 8 2002, (Kuala Lumpur: Forum ISTAC, 2002), h. 6.

[28] Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Islam and Philosophy of Science, (Kuala Lumpur: ISTAC, 1989), terj. Saiful Muzani, (Bandung: Mizan, 1995), h. 48.

[29] Osman Bakar, The History and Philosophy of Islamis Science, (Cambridge: Islamic Texts Society, 1999), h. 61.

[30] Osman Bakar, The History and Philosophy of Islamis Science, (Cambridge: Islamic Texts Society, 1999), h. 62.

[31] Ibid., h. 62

[32] Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Risalah untuk Kaum Muslimin dalam Himpunan Risalah (Kuala Lumpur : IBFIM – CASIS, 2015), h. 53.

[33] Osman Bakar, The History and Philosophy of Islamis Science, (Cambridge: Islamic Texts Society, 1999), h. 63.

[34] Syed Hussein Nasr, Man and Nature: The Spiritual Crisis in Modern Man, (Kuala Lumpur: Foundation for Traditional Studies  1989), h. 45.

[35] Osman Bakar, The History and Philosophy of Islamis Science, (Cambridge: Islamic Texts Society, 1999), h. 64.

[36] Ibid., h. 67-69.

[37] Osman Bakar, The History and Philosophy of Islamis Science, (Cambridge: Islamic Texts Society, 1999), h. 69..

[38] Osman Bakar, The History and Philosophy of Islamis Science, (Cambridge: Islamic Texts Society, 1999), h. 71-72.

[39] Ibid., h. 73.

[40] Ibid., h. 74.

[41] Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Risalah untuk Kaum Muslimin dalam (Kuala Lumpur : ISTAC, 2011), h. 118.

One comment

  1. Pingback: Orientalisme dan Oksidentalisme (Mengenal Pemikiran Timur dan Barat)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *