Aqidah dan Filsafat Islam

Orientalisme dan Oksidentalisme (Mengenal Pemikiran Timur dan Barat)

afi.unida.gontor.ac.id – Melakukan kajian tentang perkembangan pemikiran tentang orientalisme dan oksidentalisme bukanlah hal yang mudah. Meskipun kajian Orientalisme telah berkembang cukup lama, namun untuk melacak dinamika intelektualismenya harus melibatkan banyak elemen dan beberapa variabel. Maka dari itu tulisan ini kita buat untuk membahas tentang pengertian pergerakan dan cara pandang Barat dan Timur, kita juga akan membahas awal mula dari cara pandang tersebut serta tujuan dari setiap pandangan.

Dalam perspektif Timur, Barat sering digambarkan sebagai materialisme, kapitalisme, rasionalisme, dinamisme, saintisme, positivisme, dan sekularisme. Sedangkan di Barat menganggap Timur sebagai kemiskinan, kebodohan statis, fatalistis, dan kontemplatif. Barat secara Geografis dan Teologis terletak di Bagian Dunia sebelah Barat benua Eropa dan Amerika dan menganut agama Kristen dan Yunani. Sedangkan Timur terletak di Timur yang menganut Agama Islam serda Cina Kuno. Sebelum kita mendalami sejarah maupun asal usul dari pandangan pandangan tersebut, kita harus mengetahui pengertian dari pandangan itu sendiri.

BACA JUGA: KURIKULUM DAN METODE PENDIDIKAN

Pengertian Orientalisme dan Oksidentalisme

  1. Orientalisme

Orientalisme berasal dari kata latin “oriens” yang berarti the rising of the sun (terbit matahari), the eastern part of the world (belahan dunia timur); the sky whence comes the sun (langit asal datangnya matahari); the east (timur).[1]

Secara epistemologi orientalisme, dikenali sebagai istilah merepresentasikan cara berpikir dan epistemoligi (asal-usul dan sumber pengetahuan) Barat tentang dunia Timur. Dalam hal ini orientalisme bergerak dalam bidang sains-sosial-humaniora seperti kajian sejarah, seni, sastra, geografi, dan budaya mengenai dunia Timur. Dengan demikian, titik pembahasan orientalisme ada pada epistemologi dan budaya, tidak mengkaji di bidang geografi.[2]

Adapun Definisi yang diungkapkan dari beberapa Tokoh, diantaranya :

  1. Hasan Hanafi, Orientalisme berasal dari kata Prancis ‘Orient’ yang berarti timur, kata Orientalisme berarti ilmu-Ilmu yang berhubungan dengan dunia timur, Orang-orang yang mempelajari / mendalami ilmu-ilmu tersebut yang biasa disebut Orientalisme atau ahli ketimuran.[3]
  2. Joesoef Sou’yb, Orientalisme berarti suatu paham / aliran yang berkeinginan menyelidki hal-hal yang berkaitan dengan dengan bangsa-bangsa di Timur beserta lingkungannya.[4]
  3. Edward W Sa’id, Suatu cara untuk membahas dunia Timur, berdasarkan tempatnya yang khusus dalam pengalaman manusia barat eropa.[5]

Dan inti dari pandangan Orientalisme ini adalah dimana gerakan atau cara pandang Dunia Barat kepada segala ada yang di Timur, dengan cara membaratkan segala yang ada di Timur.

2. Oksidentalisme

Oksidentalisme berasal dari bahasa Inggris, occident, yang berarti negeri barat. Sehingga oksidentalisme dapat dimaknai sebagai studi tentang Barat dengan segala aspeknya. Oksidentalisme ini dilawankan dengan orientalisme, namun demikian oksidentalisme tidak memiliki tujuan hegemoni dan dominasi sebagaimana orientalisme.

Oksidentalisme berasal dari kata “Occident” yang berarti Barat dan “Isme” yang berarti faham (Fattah, 2003: 38). Artinya, oksidentalisme ialah hal-hal yang berhubungan dengan Barat, baik itu budaya, ilmu, dan aspek sosial lainnya. Dalam kamu al-Mawardi, terdapat beberapa istilah yang berkaitan dengan studi ini seperti Occidental yang berarti Barat, Occidentalist adalah orang yang mengkaji peradaban Barat.

Studi pembahasan dalam oksidentalisme tidak berada dalam ruang lingkup geografi, walaupun ada beberapa faktor yang membahas hal itu. Secara sederhana Oksidentalisme adalah suatu disiplin ilmu yang dilakukan oleh orang-orang Timur untuk mengkaji peradaban Barat di tinjau dari aspek kaca mata Timur.

Adapun Pengertian dari Tokoh lain, yaitu :

Ridho al Hamdi, Oksidentalisme berasal dari kata ‘Occident’ yang berarti barat dan ‘isme’ yang berarti paham, artinya hal-hal yang berhubungan dengan barat. Baik itu budaya, ilmu dan aspek sosial lainnya. Dalam The World University Encyclopedia kata’Occident’berarti barat / belahan bumi bagian barat, yang aslinya terdiri dari Eropa sebagai padanan Asia/ Orient. Secara sederhana Oksidentalisme adalah satu disiplin ilmu yang dilakukan oleh orang-orang timur untuk mengkaji peradaban Barat yang ditinjau dari berbagai aspek dengan kacamata Timur.[6]

Maka dari sini kita dapat simpulkan bahwasanya oksidentalisme adalah gerakan atau cara pandanga Bangsa Timur dalam menghadapi Orientalisme ataupun cara pandang Bangsa Barat.

BACA JUGA: MEMAHAMI MAKNA AGAMA ILMU DAN ALAM

Asal Usul dan Sejarah

  1. Orientalisme

Asal Usul, Orientalisme lahir ditandai dengan adanya usaha penjelajahan Barat terhadap wilayah – wilayah yang berada di Timur, dengan tujuan awal untuk kepentingan ekonomi dalam perspektif non-akademik. Jika ditinjau dari perspektif pengetahuan, ini merupakan salah satu tujuan penting bagi Barat untuk mengetahui lebih jauh perihal Timur seperti Budaya, sosial, politik, dan ekonomi.

Dalam perkembangannya, Edward Said menyatakan bahwa usaha mengenali dan memahami Timur di perkuat dengan adanya usaha Barat untuk mendidik dunia Timur, dengan anggapan bahwasanya dunia Timur masih bersandar kepada peradaban barat. Lebih lanjut lagi  Orientalisme berujung menjadi hegemoni Barat sebagai gerakan kolonialisme dan imperialisme Barat terhadap dunia Timur.

Sejarah, Agama islam didasarkan atas 2 sumber utama yaitu Al-Quran dan Hadist, tidak hanya merupakan doktrin teologis tetapi lebih dari pada itu, Islam juga melahirkan peradaban. Peradaban yang dilahirkan oleh islam melalui ulama-ulama nya tidak hanya berwujud tradisi pemikiran, tetapi juga berupa arsitektur yang masih dapat kita lihat pada zaman sekarang ini.

Pada zaman puncak keemasan Islam, para intelektual muslim telah mengadakan proses transfer ilmu pengetahuan dari berbagai perdaban (Yunani, Persia dsb) mereka mendirikan sekolah, perguruan dan perpustakaan sehingga ilmu pada saat itu dapat berkembang pesat.

Pada Abad ke-13 kemajuan umat islam mendapat perhatian oleh orang-orang barat yang mana pada kala itu barat sedang mengalami kemunduran (dark age). Mereka mempelajari sains islam yang kemudian mereka kembangkan. Pada abad ke 19 mereka datang kedua kalinya kepada islam dengan membawa teknologi dan sains yang pernah mereka peljari di dunia islam yang telah mereka kembangkan selama 6 Abad.

Meskipun Islam cenderung mundur dari pada barat, tetapi khasanah perdaban islam masih terjaga. Hal ini menjadikan orang-orang Barat yang memiliki sains dan teknologi tertarik untuk mengembangkan keahliannya dalam meneliti dan mengenali Kembali dunia Islam, sehingga lahirlah orang Barat ahli di bidang ketimuran yang disebut Dengan Orientalis, hal tersebut tidak terletas dari tendensi politis, ekonomi, agama maupun akademik [7]

Dalam perkembangannya kita dapat membagi perkembangan orientalisme menjadi 3 bagian

  • Masa Sebelum meletusnya Perang Salib

Tujuan orientalisme pada masa ini adalah memindahkan ilmu pengetahuan dan filsafat dari dunia islam ke Eropa, tujuan ini meningkatkan mereka dalam mempelajari Bahasa Arab. Ketika Peter memberikan otoritas untuk penerjemahan dan penafsiran teks-teks Islam yang berbahasa Arab terjadilah cerita-cerita yang tidak sesuai dengan konteks aslinya. Mereka menerjemahkan tulisan-tulisan islam dengan arah memojokan dan merendahkan martabat islam.

Kaum Barat mengagumi Timur saat munculnya tulisan-tuisan timur, dimualai dari tulisan Ibnu Syina yang menjelaskan tentang dasar-dasar kedokteran, kemudian terdapat tokoh Politik Ayyubiyah Shalah al-Din yang sangat terkenal dengan diplomasi politik yang ia jalankan. Dari sini mereka mengamati sikap dan praktek religious yang shaleh dari umat Islam

  • Masa Perang Salib sampai Masa Pencerahan di Eropa

Pada periode perang salib dibentuklah studi islam untuk tujuan misi pada abad ke 12 pada masa Peter Agung (sekitar 1094 – 1156M)

  • Munculnya Masa Pencerahan di Eropa sampai sekarang

Masa pencerahan (Enlightenmen) ditujukan untuk mencari kebenaran, bangsa barat mulai meninggalkan gereja karena menganggap peraturan-peraturan dan ketetapan-ketetapan gereja tidak pas dengan rasio yang berkembang. Akibatnya terjadilah perubahan religious, politik, dan intelektual yang mendalam pada reformasi pada abad ke 16.

Kekuatan rasio mulai meningkat, Barat mulai berkiblat ke Islam dan memuji karya-karya Islam, seperti yang ditulis Voltaire (1684 -1778) dan Thomas Carlyle (1896-1947). Tidak semua tulisan mengenai Islam mengandung serangan-serangan dan menjelek-jelekan, akan tetapi mulai ada penghargaan terhadap nabi Muhammad SAW dan Al-Qur’an serta ajaran-ajaranya.

Kemudian datanglah masa Kolonialisme, mereka bangsa Barat ingin lebih dalam mengetahui apa sebenarnya yang membuat bangsa Timur berkembang. Barat melakukan perdagangan dan menundukan bangsa-bangsa Timur untuk melihat lebih dekat termasuk agama dan kultur mereka, karena dengan itu hubungan menjadi lancer dan mereka lebih mudah ditundukan.[8]

Pada periode ini tulisan-tulisan orientalis ditujukan untuk mempelajari islam secara objektif, agar dunia Islam diketahui dan dipahami lebih mendalam, hal ini tidak bisa begitu saja terlepas dari kolonialisme, bahkan juga usaha kristenisasi[9].

Pada intinya orang barat ingin menguasai timur, oleh karena itu dibutuhkan pengetahuan Timur secara objektif dan menyuluruh agar dapat Menyusun-menyusun strategi untuk mencapai tujuan.

2. Oksidentalisme

Asal Usul, Pembahasan oksidentalisme dimulai disaat lahirnya peradaban Timur yang diwakili oleh tradisi Islam selama empat belas abad lebih, dapat dilacak sumber-sumber oksidentalisme didapatkan melalui hubungan antara Islam dan Yunani-Romawi di masa lalu, selain wilayah ini Kristen-Yahudi, merupakan kesadaran Eropa yang ter-ekspos dan menjadi bagian dari Barat baik ditinjau dari segi geografis, sejarah, maupun peradabannya. Sedangkan peradaban timur yang diwakilkan oleh Islam memiliki akar yang lebih jauh kembali, yaitu peradaban timur kuno, Mesir, Kan’an, Asyuria, Babilonia, India, dan Cina (Hanafi,2000b: 59-60).

Oleh karenanya, dapat disimpulkan bahwa oksidentalisme dapat dilacak dalam relasi antara peradaban peradaban Islam dengan peradaban Yunani. Hal ini terjadi melalui bebeapa tahapan sebagai berikut:

  1. Penerjemahan Tekstual, ialah tahap awal yang dilakukan dengan penerjemahan buku-buku asli Yunani apa adanya, sebagai bentuk perhatian dalam istilah-istilah filsafat
  2. Penerjemahan Kontekstual, tahap ini sudah mengedepankan makna daripada teks sebagai manifestasi keinginan untuk memberikan perhatian kepada bahasa terjemahan
  3. Pemberian Anotasi , penjelasan dan penguraian terhadap teks-teks Yunani berupa catatan penjelasan tertentu
  4. Peringkasan, Tahap ini dimulainya pendalaman kajian secara spesifik yang sesuai dengan inti dari tema tersebut.
  5. Mengarang, cendikiawan muslim mulai menuangkan kreativitas mereka dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan
  6. Kritik, selain mengarang dan menulis buku para cendikiawan muslim mulai mengkritik karya-karya yang berasala dari dalam maupun luar.
  7. Menolak, panjangnya proses pendekatan oksidentalisme menimbulkan sikap akan menolak penolakan tradisi asing, dengan dasar ajaran Islam sudah mencukupi.

Sejarah, Menurut Hasan Hanafi, oksidentalisme ini muncul bukan pada masa modern saja melainkan dari abad 12, oksidentalisme telah muncul dan berkembang dengan adanya pengkajian ilmu ilmu barat. 

Dengan sikap pasif dalam menghadapi dan mengkaji ilmu dan kebuudayaan barat, para cendikiawan lebih kaya akan ilmu dan filsafat yang ada, hingga dapat Hanafi dapat  menyimpulkan 2 fase transformasi yunani kedalam islam secara garis besar :

Fase pertama , umat islam mengambil alih pemikiran Yunani secara tekstual dan kontekstual yang dilakukan dengan proses penerjemahan.

Fase kedua, orang islam bersikap kritis terhadap pemikiran Yunani.

BACA JUGA: KONSEP ATOMISME DALAM TEORI ASH’ARIYAH

Metode dan Tujuan

Adapun metode dan tujuan yang dikaji oleh masing masing pandangan sebagai memperkuat pandangan tersebut.

  1. Orientalisme

Metode penelitian Orientalisme terhadap Islam terbagi menjadi tiga, yaitu:

  • Pendekatan Filologi dan teks

Dalam metode ini serign digunakan dalam mengkaji Al-Quran dan Hadist yang berbentu teks, metode ini digunakan untuk menemukan makna sejati dari Al-Qur’an dan Hadist, Jeffrey menegaskan bahwasanya teks di dalam Al-Qur’an belum final, oleh karena nya di perlukan kembali teks Al-Qur’an dalam bentuk teks kritis.

  • Pendekatan Historical Critism (kritik sejarah)

Dalam metode kritik sejarah ini bertujuan untuk memilih dan membedakan antara sejarah dan legenda, antara fiksi dan fakta, antara mitos dan realitas dengan menilik kembali pada nash (teks) di dalam Al-Qur’an yang digunakan para ilmuwan Barat hingga kini.

Kelemahan dari metode ini ialah ketika sumber dan bahan referensi yang tidak lengkap akan menimbulkan kesimpulan yang invalid dari sumber-sumber bacaan yang dihasilkan.

  • Implikasi Kajian Orientalisme

Dengan mengkaji secara mendalam Periodesasi sejarah Timur dari awal kebudayan dan peradaban Timur, masa Ke emasan dan masa kemunduran, dengan melihat faktor-faktor yang membaangun fase-fase tersbut.[10]

Tujuan yang dimiliki Orientalisme, diantaranya :

  1. Membuat keraguan terhadap keabsahan alqur’an sebagai firman Allah Para Orientalis mengatakan tentang humanismenya Al Qur’an sehingga mereka berkesimpulan bahwa ia bukan besumber dari Allah, tapi merupakan ungkapan tentang lingkungan Arab yang dikarang oleh seorang Rasul.
  2. Membuat keraguan terhadap kebenaran ajaran nabi Muhammad Upaya peraguan yang mereka lakukan mencakup masalah keabsahan hadist-hadist Nabi Muhammad, mereka mencari-cari alasan bahwa hadist Rasulullah mengandung dusta tanpa menghiraukan usaha keras yang dilakukan ulama-ulama kita dalam menyeleksi hadist-hadist yang sahih atau tidak.
  3. Membuat keraguan terhadap urgensi bahasa Arab sebagai bahasa yang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Tidak hayal lagi, bahwa bahasa Arab termasuk salah satu bahasa dunia yang paling kaya kosa katanya, istilah-istilah didalamnya, dan ia mampu berjalan seiring dengan kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan.
  4. Membuat keraguan terhadap nilai fikih Islami yang asasi. Para orientalis benar-benar membuat kekeliruan ketika menelaah tentang kebebasan undang-undang fikih tersebut. jadi mereka langsung saja menduga bahwa fikih yang luar biasa ini bersumber dari undang-undang Romawi (Eropa).[11]

2. Oksidentalisme

Metode dalam keilmuan harus bergandengan dengan sumber-sumber epistemologinya, oleh karenanya, Hanafi menawarkan 2 metode ilmiah dalam kajian ilmu oksidentalisme, yaitu: Metode dialetika-historisdan metode fenomonologis.

  • Metode Dialektika-Historis

Dalam pemikiran Hanafi, metode dialektika digunakan untuk menjelaskan sejarah proses perkembangan pembentukan kesadaran Eropa yang meliputi, kelahiran, kebangkitan, keruntuhan  dan keberakhiranya, dalam artian membahasa pembentukan, struktur, dan nasib kesadaran Eropa.

Selain itu, metode historis digunakan juga oleh Hanafi untuk menggambarkan kesadaran Eropa dalam lingkup sejarahnya.

  • Metode Fenomenologi

Bagi Hanafi, Metode fenomenologi juga tidak kalah penting, walaupun metode fenomenologi merupakan metode yang keras untuk mengalisa kesadaran, dikarenakan fenomenologi bertugan untuk membentangkan langkah-langkah yang harus diambil sehingga sampai kepada fenomena yang murni.

Metode ini baginya merupakan teori tentang konsepsi kesadaran personal dan kesadaran peradaban Eropa, dan kajian yang diperdalam ialan pembentuan kesadaran Eropa dengan menjelaskan sumber-sumber yang selama ini di sembunyikan.[12]

Sedangkan Tujuan Oksidentalisme, beberapanya :

  1. Tujuan terakhir, adalah dengan Oksidentalisme manusia akan mengalami era baru di mana tidak ada lagi penyakit rasialisme terpendam seperti yang terjadi selama pembentukan kesadaran Eropa yang akhirnya menjadi bagian dari strukturnya.
  2. Membebaskan ego dari kekuasaan the other pada tingkat peradaban agar ego dapat memposisikan diri sebagai dirinya sendiri. Dalam konteks ini, Hasan Hanafi memandang, bahwa Oksidentalisme mampu melakukan pembebasan dengan landasan otologisnya, bukan landasan epistemologinya.
  3. Dimulainya generasi pemikir baru yang dapat disebut sebagai filosuf, pasca generasi pelopor di era kebangkitan. Hal ini dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan yang sering meluncur seputar, apakah kita memiliki filosuf? Menurut Hasan Hanfi setiap interaksi dengan Barat dalam konteks ini disebut filsafat dan setiap orang yang mengambil sikap terhadap orang lain disebut filosuf.
  4. Membentuk peneliti-peneliti tanah air yang mempelajari peradabannya dari kacamata sendiri dan mengkaji peradaban lain secara netral dari kajian yang pernah dilakukan Barat terhadap peradaban lain. Dengan begitu menurut Hasan Hanafi, akan lahir sains dan peradaban tanah air, serta akan terbangun sejarah tanah air.[13]

Semua perkembangan Ilmu, budaya, sosial, politik dan lain lain sudah lahir dan berkembang dari zaman Nabi dan Rasul, tetapi semua pemikiran ini muncul dimulai dari Perang Dunia ke II yang dimana Barat dengan rasa ingin tau nya dan ingin menguasai segalanya melakukan cara pandang ini.Akan tetapi bangsa Timur tidak hanya diam, tetap melakukan dengan cara sendiri, mempertahankan bahkan mengembangkan ilmu dari barat tersebut dengan cara sendiri. Oleh karena itu, lahirlah metode dan tujuan dari masing masing pandangan agar memperkuat dasar dari setiap bangsanya.

Oleh: Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Darussalam Gontor


[1] Wahib, Ahmad Bunyan. Orientalisme dalam Hukum Islam, Magnum PUSTAKA HUTAMA hal: 3

[2] Ahmad bunyan Wahib, Orientalisme dalam hukum islam : Kajian hukum islam dalam tradisi barat( Yogyakarta:2018)

[3] Hanafi, Hasan, Orientalisme di Tinjau Menurut Kacamata Al Qur’an dan Hadist, hal 9

[4] Maman Buchori, Menyingkap Tabir Orientalisme, hal 7

[5] Edward W Sa’id Orientalisme : Menggugat Hegemoni Barat dan Menundukkan Timur sebagai subjek, hal 4

[6] Ridho al Hamdi, Epistemologi Oksidentalisme, hal 47

[7] Abdul Rahim, Sejarah Perkembangan Orientalisme, Jurnal Hunafa, Vol.7, No.2 Desember 2010 hal: 180

[8] Ibid, hal: 187

[9] Hanafi,  Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam,1999. Hal: 57

[10] Rohman Ambo Masee, Kajian Hukum Islam Perspektif Orientalisme, Jurnal.

[11] https://danang56.wordpress.com/2017/04/20/orientalisme-dan-oksidentalisme/

[12] Ridho Al-Hamdi,Epistemologi Oksidentalisme “membongkar mitos superior barat, membangun kesetaraan peradaban, Samudra biru (Yogyakarta : 2019)

[13] https://danang56.wordpress.com/2017/04/20/orientalisme-dan-oksidentalisme/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *