Aqidah dan Filsafat Islam

Sejarah Peradaban Islam (Perjuangan dan kekuatan Militer Islam)

afi.unida.gontor.ac.id – Ranah Sejarah merupakan suatu lingkup yang harus diketahui oleh umat Islam, dikarenakan sejarah merupakan tonggak yang diperlukan untuk mendalami Islam secara luas. Sejarah pada zaman sekarang selalu berbicara mengenai ranah politik dan militer. Di masa keemasannya, kekuatan militer Islam menjadi momok yang ditakuti oleh musuh-musuhnya. Padahal  saat itu kekuatan militer didaerah Arab masih berbentuk suku-suku dan qabilah-qabilah yang bermacam-macam.

Dan cara yang paling efektif untuk melawan serangan dari luar jazirah Arab adalah dengan membentuk aliansi yang kuat. Peperangan yang dilakukan pada masa Arab jahiliyah merupakan peperangan dengan skala kecil yang mempertemukan antara suku-suku dan qabilah yang berseteru dan tidak mengubah wajah jazirah Arab. Namun semenjak kedatangan Islam, kekuatan kemeliteran jazirah Arab menjadi solid, dikarenakan banyaknya pasukan yang bergabung dengan Islam dari berbagai macam suku dan bahkan bukan hanya orang Arab saja.

Dalam rangka meningkatkan kekuatan bermiliter, Islam memiliki semangat “jihad” yang selalu digaungkan untuk memacu semangat perang para serdadu militer Islam yang tidak dimiliki oleh Arab jahiliyah dulu. Pada masa jahiliyah, kemenangan akan perang selalu identik dengan minum-minuman keras atau khamar dan bersenda gurau dengan para biduan-biduan cantik. Sangat kontras berbeda dengan apa yang dilakukan Islam. Bebagai kemenangan yang digapai oleh Islam selalu dibarengi dengan ketawadhuan bukan kesombongan.

Suatu prestasi tersendiri dimana Rasululullah dengan 23 tahun masa dakwahnya dapat mengubah citra masyarakat Arab secara signifikan. Contohnya masyarakat Arab yang biasanya berperang dengan secara kecil melawan para qabilah-qabilah yang ada disekitarnya dapat melesat naik dengan melawan musuh yang jauh lebih besar dan kuat seperti Romawi dan Persia yang pada saat itu jauh lebih maju dari Islam di masa awal. Dan yang perlu dicatat disini adalah adanya sebuah prestasi yang sangat membanggakan dimana para pasukan kaum Muslimin di saat perang Mu’tah tidak kalah dari pasukan Romawi. Padahal pada saat itu Romawi merupakan kekuatan yang setara dengan satu dunia.

Pada perang Mu’tah jumlah pasukan Muslimin hanya kisaran tiga ribu orang, sedangakan pasukan Romawi berjumlah dua ratus ribu pasukan. Dan posisi perang mu’tah pada saat itu secara geografis terletak di Suriah, Syam yang merupakan wilayah kekuasaan Romawi.  Dan hebatnya, pasukan Islam yang berjumlah sangat minoritas itu berhasil menandingi pasukan Romawi yang berjumlah sangat besar di wilayah mereka dan tidak kalah. Berbeda dengan tentara Romawi yang dijamin segala macam perbekalan dan amunisinya. Tentara Islam dengan ikhlas mengikuti perang dengan perbekalan masing-masing dan tanpa paksaan. Hal ini terjadi karena adanya aspek kepercayaan yang sangat tinggi terhadap Islam.

Pada perang Tabuk, pasukan kafir yang dikomandoi oleh Heraclius dan Syam merencanakan serangan besar-besaran untuk menghancurkan Islam. Perjanan dimulai dari Baitul Maqdis, Syam untuk menuju Madinah. Tapi sebelum para tentara kafir sampai ke Madinah, Rasulullah memainkan opininya dengan menggerakkan pasukannya ke Tabuk tanpa menunggu pasukan Heraclius sampai di Madinah terlebih dahulu. Dengan dua puluh ribu pasukan, Rasulullah memimpin perjanan menuju Tabuk dan pada saat itu suasana iklim sedang mengalami musim panas yang amat terik.

Akan tetapi, rencana ini terdengar oleh pasukan Heraclius, dan mereka memilih untuk mundur dan mengurungkan niatnya untuk menghadapi umat Islam. Setelah ditunggu selama dua minggu lamanya di Tabuk, ternyata pasukan Heraclius tidak pernah datang, ini menunjukkan kemenangan Islam atas pasukan kafir serta membuktikan bahwa kemenangan dalam perang tidak harus selalu fisik akan tetapi juga dapat menang tanpa adanya sentuhan fisik dengan kecerdikan opini dan taktik yang luar biasa.

Fakta menarik yang dapat dilihat dari sejarah diatas adalah bahwa pasukan Romawi tidak pernah menyerang Islam secara langsung, akan tetapi diserang terus-menerus oleh pasukan Islam. Di zaman Utsman bin Affan, Islam mulai membangun kekuatan maritim di bawah Gubernur Muawiyah bin Abi Sofyan pada saat itu dan memulai perjalananya dengan menaklukan Siprus yang berada di dekat Yunani yang notabenya merupakan pesisir daerah Eropa, laur biasa.

Bahkan dimasa sebelum fathul Makkah, Rasulullah berdakwah bukan dengan cara menyulut perang, namun dengan cara menyambangi satu-persatu pemuka qabilah Arab dengan harapan dapat mengikuti jejaknya untuk kembali kejalan yang lurus tanpa adanya pemaksaan. Namun setelah dakwah yang dilakukan Rasulullah berhasil dan diakuinya Islam dengan segala kehebatannya. Maka, berbodong-bondonglah orang Arab yang memasuki Islam.

Perlu kita ketahui mengenai sejarah peradaban Islam adalah bahwasanya peradaban Islam tidak hanya menampilkan hal yang baik saja, akan tetapi juga memperbaiki sesuatu yang salah. Dan untuk menegakkan kebenaran, umat Islam harus memahami apa itu kebenaran yang baik dan juga paham apa yang dimaksud dengan kerusakan yang akan dihadapinya. Oleh karena itu, kita perlu mencari seperti apa bentuk kemunkaran modern sehingga dapat mencabutnya sampai keakar-akarnya sehingga mempermudah jalan mengekkan hal yang ma’ruf. Itulah salah satu bagian dari membangun peradaban.

Peradaban Islam di masa kejayaanya bahkan sampai pada titik dimana orang-orang yang membenci Islam tidak memiliki alasan untuk mencaci Islam. Pertannyaanya apakah kita mampu mengulangi kembali masa kejayaan ummat seperti yang dicontohkan Rasulullah dan para sahabatnya? Semoga kita diberikan kekuatan dan umur yang panjang sehingga dapat menjadi saksi kebangkitan ummat Islam seperti dahulu kala, Amin.

Oleh: Martin Putra Perdana
Mahasiswa Pascasarjana Universitas Darussalam Gontor

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *