Tidak Buta Terhadap Politik, UNIDA Gontor Selenggarakan Kuliah Umum Politik dan Demokrasi

Tidak Buta Terhadap Politik, UNIDA Gontor Selenggarakan Kuliah Umum Politik dan Demokrasi

afi.unida.gontor.ac.id. 2 Maret 2019, Hall Gedung Utama Universitas Darussalam Gontor. Universitas Draussalam Gontor menyelenggarakan Kuliah Umum bertemakan Politik dan Demokrasi di Indonesia. Kuliah kali ini terasa sangat spesial karena diisi oleh Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi atau yang dikenal sebagai KPK beliau adalah Bapak M. Busyro Muqoddas, S.H., M.Hum. dan Mantan Wakil Ketua KPK sekaligus pendiri Indonesian Coruption Watch (ICW), beliau adalah Bapak Dr. Bambang Widjojanto, S. H.


Di pembukaan acara Rektor Universitas Darussalam Gontor , Al-Ustadz Prof. Dr. Amal Fathullah Zarkasyi, M.A. menyampaikan bahwa kita ini memang dilarang untuk berpolitik praktis sesuai dengan amanah wakaf TRIMURTI Pondok Modern Darussalam Gontor, namun jangan sampai kita buta akan politik. Kebutaan akan politik menjadikan bangsa ini semakin terperosok.


Hal ini sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Bapak M. Busyro Muqoddas, S.H., M.Hum. dalam kuliah ini. Beliau menyampaikan bahwa politik dengan basis demokrasi rentan akan bertumbuhnya praktek politik liberal jika tidak ada pengawasan dan penyeimbangan oleh masyarakat.


Beliau menambahkan dengan sangat tegas namun dalam prakteknya sejauh ini politik di Indonesia berjalan dengan adanya nilai-nilai yang tidak sesuai dengan apa yang telah disepakati bersama dalam Pembukaan UUD 1945 dengan banyaknya UU yang menyempitkan hak-hak aspirasi rakyat untuk mengeluarkan aspirasinya sebagai bukti pengecekan terhadap sistem demokrasi yang berjalan. Sebagai buktinya adanya UU ITE, UU Pemilu, UU MD 3 no. 17 th. 2004.


Beliau mengistilahkan fenomena semacam ini dengan kata “dableg” (Bhs. Jawa). Tentu hal ini akan berimplikasi pada kegiatan korupsi yang mengganas dan politik tidak sehat yang merajalela.  


Pemateri kedua Bapak Dr. Bambang Widjojanto, S.H. tidak kalah semangatnya beliau membakar peserta dengan menyuguhkan beberapa fakta terkini terkait peran pemuda saat ini, diantaranya Nadiem Makarim CEO dan pendiri GO-JEK dan Achmad Zaky CEO dan pendiri E-Comerce Bukalapak. Mereka berdua membuka lahan pekerjaan hingga 2 juta orang.

Prof. Dr. Amal Fathullah ZarkasyiM.A berpose dengan mantan Komisioner KPK Dr. Bambang Widjojanto, S.H. dan Dr. M. Busyro Muqoddas, S.H., M.Hum

Beliau menambahkan bawa pemuda itu hanya melihat spion untuk melihat masa lalu mereka jauh melihat ke depan, pemuda hebat itu yang bisa mengadirkan solusi masa depan di hari ini.


Dalam kesempatan kali ini Bapak Dr. Bambang Widjojanto, S.H. menyampaikan bahwa ada dua kelemahan dasar dari partai ; pertama, tidak ada proses pengkaderan yang melalui ujian dari masyarakat luas dan yang kedua, keterbukaan keuangan dalam partai politik. Kedua hal ini tentunya akan menimbulkan sistem politik oligarki yang mana para elit berkuasa pada rakyat kecil. Dan tentu saja ini merupakan pembajakan sistem demokrasi yang disepakati di awal.


Sebagai civitas akademika yang peduli politik sudah selayaknya kita peduli dengan politik negri ini dengan bertolak pada zaman sebelum kemerdekaan orang-orang cerdas dengan ijtihadnya memerdekaan bangsa ini dari penjajahan. Ada beberapa tips untuk mahasiswa untuk menjalani masa depan dari Bapak Dr. Bambang Widjojanto, S.H. ; pertama, kuasai apa yang anda pelajari, kedua, hadapi tantangan masa depan, ketiga, tahan terhadap serangan materalisme dan hedonisme dari berbagai faktor.      

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *