Pembaharuan Pemikiran Islam Model Muhammadiyah

Pembaharuan Pemikiran Islam Model Muhammadiyah

Oleh: Martin Putra Perdana
Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Darussalam Gontor

Ide tentang gerakan pembaharuan pemikiran Islam pada dasarnya sudah dirintis sejak lama. Sudah beberapa abad terakhir, kita bisa melihat peran berbagai tokoh Muslim dalam mengembangkan dan mengemas Islam dengan berbagai rupa, yang intinya satu kesatuan, yakni menyebarkan dan mendakwahkan  Islam keseantero jagad raya. Gerakan di ilhami oleh perlunya perubahan dari berbagai aspek kehidupan.

Dalam aspek agama sendiri diharapkan dengan adanya gerakan pembaharuan Islam dapat memahami bahwa agama Islam sesuai al-Qur’an dan sunnah. Menjauhi segala bid’ah, khurafat, mitos, dan takhayul yang banyak mengakar di dalam kawasan masyarakat tradisionalis yang banyak terpengaruh oleh budaya dan kebiasaan tradisional setempat. Dan juga diharapkan bisa memerangi dan meluruskassn apa saja yang bertentangan dengan ajaran syari’at Islam.

Dengan adanya motivasi seperti itu munculah banyak organisasi pembaharu Islam di dunia. Dan di tinggkat internasional sendiri berdiri secara khusus organisasi yang mewadahi umat Islam, diantaranya adalah; OKI (Organisasi Konferensi Islam) atau OIC (Organization of the Islamic Conference) yang merupakan organisasi antar pemerintah yang terdiri dari beberapa negara.

Peran Organisasi dalam Proklamasi Kemerdekaan

Di Indonesia sendiri juga berhamburan organisasi yang menjunjung tinggi nama Islam. Bahkan tidak sedikit dari organisasi tersebut berperan aktif dalam membantu merebut kemerdekaan Indonesia dari tangan penjajah. Bahkan ada juga organisasi yang berdiri jauh sebelum kemerdekan Indonesia diplokamirkan. Sebut saja Jami’atul Khair (1901), Sarekat Islam (1912), Al-Irsyad (1914), Muhammadiyah (1912), Persis (1923), NU (1926) dan Masyumi (1937).

Pendirian organisasi-organisasi tersebut didirikan secara sukarela oleh sekolompok masyarakat yang memiliki kepentingan yang sama, tujuan yang sama untuk ikut berkontribusi dalam membangun keutuhan dan kejayaan negara. Dan pertanyaan yang datang yang mempermasalahkan tentang, mengapa di Indonesia banyak terdapat ormas Islam? Tentu jawabannya adalah karena mayoritas warga negara Indonesia adalah pemeluk agama Islam.

Baca juga : Paradigma Sistem Pemerintahan Islam

Memperkuat Kesatuan Bangsa

Tujuan ormas sendiri pada dasarnya adalah untuk menjaga, memelihara, serta memperkuat sendi-sendi persatuan dan kesatuan bangsa. Hal inilah yang mengilhami bahwa contoh organisasi masyarakat yang baik adalah yang syarat akan keterlibatanya dalam mewujudkan tujuan negara.

Organisasi masyarakat yang baik adalah yang bisa memicu terbentuknya persatuan dan kesatuan bangsa. Bukan malah bertindak “konyol” seperti menerapkan anarkisisme yang melanggar hukum negara. Dalam artikel ini, penulis mencoba mengkaji tentang salah satu organisasi besar di Indonesia yang memiliki eksistensi yang tinggi hingga sekarang, bahkan memiliki jumlah massa atau pengikut yang tidak bisa dibilang sedikit. Yakni mengenai pembaharuan pemikiran Islam didalam Muhammadiyah.

Sejarah Muhammadiyah

Muhammadiyah sendiri merupakan gerakan pembaharu yang didirikan oleh Ahmad Dahlan pada 18 Dzulhijjah 1330 H, atau bertepatan dengan 12 November 1912 M. Di Yogyakarta, Muhammadiyah sering dicap banyak kalangan sebagai organisasi Islam yang berwawasan Islam moderat.

Yakni berupaya menampilkan corak Islam yang memadukan antara purifikasi dengan dinamisasi dan  bersifat moderat (wasatiyah) dalam meyakini, memahami, dan melaksanakan pemikiran Islam. Muhammadiyah dengan begitu berbeda dengan karakter gerakan-gerakan Islam lain yang cenderung ekstrem, baik yang bersifat radikal-fundamentalis ataupun radikal-liberal.

Baca Juga : PEMBAHARUAN PEMIKIRAN ISLAM MODEL NAHDLATUL ULAMA

Ideologi dengan karakter moderat ini mengindikasikan bahwa Muhammadiyah berbeda dengan gerakan Islam radikal-liberal yang serba liberal dalam melakukan dekonstruksi atas pemikiran Islam sehingga serba relatif; dan Gagasan Pendidikan  pada saat yang sama berbeda dengan gerakan radikal-fundamentalis semisal Salafi, Wahabi, al-Ikhwan al-Muslimin, Taliban, Jemaah Tabligh, Islam Jemaah, Jemaah Islamiyah, Hizbut Tahrir, Majelis Mujahidin, Ansharut Tauhid, Islam Tradisional, Majelis Tafsir al-Qur’ân, dan kelompok Syi’ah.[1]

Tetap Taat Administratif Negara

Salah satu ciri gerakan Muhammadiyah yang moderat ditangan Kiai Dahlan adalah beliau tidak menafikkan bahwa Muhammadiyah merupakan organisasi formal yang ada dalam ruang wilayah sebuah negara. Jadi merupakan kewajiban bagi pengurus organisasi untuk memenuhi persyaratan administratif yang ditetapkan oleh pemerintah negara dimana Muhammadiyah berada, baik di Indonesia maupun negara lain.

Walaupun pada masa pendirianya yang berkuasa adalah Belanda, namun hal ini tidak menjadikan Kiai Dahlan mengabaikan masalah administratif.[2]

Siapa Ahmad Dahlan ?

K.H. Ahmad Dahlan sendiri merupakan seorang ulama yang kharismatik sekaligus kontroversial di masanya. Beliau sendiri lahir pada tanggal 1 Agustus 1864 dan wafat pada 22 Februari 1923. Beliau merupakan anak keempat dari K.H. Abu Bakar dan ibunya adalah putri dari H.Ibrahim yang merupakan pejabat penghulu Kesultanan Yogyakarta pada saat itu. Beliau sendiri memiliki nama kaecil Muhammad Darwis.

Semenjak kecil ia selalu serius dalam belajar agama dan bahasa Arab. Setelah beranjak dewasa Muhammad Darwis memulai perjalanannya dimulai dari menunaikan ibadah Haji dan bermukim selama 5 tahun. Beliau bertemu dengan gurunya Sayyid Bakri Syatha dan memberikan nama baru yakni Ahmad Dahlan. Ia juga sempat berguru dengan Syekh Ahamad Khatib yang juga merupakan guru Kyai Hasyim Asy’ari.[3]

Pemikiran Ahmad Dahlan sendiri banyak didasari pada pengalaman berguru selama bertahun-tahun, meskipun tidak pernah mengenyam pendidikan dalam tahapan formal Ahmad Dahlan banyak belajar pada; belajar Fiqih dari K.H. Muhammad Shaleh, Nahwu dengan K.H. Muhsin, ilmu Falaq dengan K.H. Raden Dahlan, ilmu Hadist dengan KH.Mahfud dan Syekh Hayyat, serta ilmu Qira’at yang ia peroleh dari Syekh Amin dan Syekh Bakri Satock, bahkan Ahmad Dahlan mempelajari ilmu pengobatan dan racun binatang dari Syekh Hasan.

Pemurnian Tauhid dan Menghindari Taqlid

Juga diketahui bahwa Ahmad Dahlan sangat mengagumi pemikiran Ibnu Taimiyah, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha dan Jamaludin Al-Afghani. Hal ini terlihat dengan pemahaman dan pembaharuan Islamnya yang berfokus pada pemurnian (tauhid) dan tidak beriman secara taqlid.

Dalam buku K.H. AR. Fahrudin (Ketua Muhammadiyah 1968) yang berjudul “Menuju Muhammadiyah”, menjelaskan mengenai hal-hal yang telah dilakukan KH. Ahmad Dahlan sepanjang kepemimpinanya, antara lain: (a). Meluruskan Tauhid, Peng-Esaan terhadap Allah swt. Meluruskan kebaradaan Allah sebagai Sang Khalik dan hubungan Allah dan makhlukNya tanpa perantara apapun; (b). Meluruskan cara beribadah kepada Allah swt. Tanpa adanya gerakan-gerakan yang kurang tepat dalam shalat; (c). Mengembangkan akhalakul karimah, etika sosial dan tata hubungan sosial sesuai tuntunan Islam.

Jika diperhatikan secara garis besar maka bisa terlihat bahwa Ahmad Dahlan merupakan ciri Muslim fundamentalis yang mengembalikan semuanya kepada sumber utama pemikiran Islam yakni Al-Qur’an dan Sunnah. Walaupun demikian beberapa pembaharuan yang dilakukan Ahmad Dahlan dalam hal; pembenaran arah kiblat di Masjid Agung Yogyakarta, pelurusan penetuan tanggal hari raya idul fitri yang ditentukan dengan hisab, penolakan terhadap Bid’ah dan Khurafat, dan perhatianya terhadap pendidikan dan gerakan kemasayarakatan.[4]

Ide dan Gagasan Muhammadiyah

Muhammadiyah sendiri lahir dari perenungan Kiai Dahlan, yang berkeinginan untuk menjadikan  Islam harus sehat, kuat dan besar, sehingga bisa menyelamatkan dunia dengan selalu membela mereka yang kesusahan dan menderita. Oleh sebab itu, harus ada organisasi kesatuan dan persatuan yang menempatkan menaungi dan menjadi wadah dari buah fikiran yang mulia itu, maka didirikanlah Muhammadiyah.

Dan dalam perancangan sistem  organisasi ini sendiri merujuk pada Firman Allah, “Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung.[5] Ayat ini berorientasi pada seruan agar manusia selalu berbuat baik di dunia dengan memperbanyak amal sholeh dan menjauhi segala perbuatan buruk.

Para aktivis gerakan Muhammadiyah  sering mengatakan bawa ayat itu merupakan ayat Muhammadiyah. Karena merupakan ayat yang menjadi landasan Kyai mendirikan Muhammadiyah.[6]

Khittah Perjuangan

Haedar Natsir menjelaskan dalam karyanya mengenai “Khittah Perjuangan”  yang merupakan program dasar yang menjadi pegangan seluruh anggota Muhammadiyah yang berisi:

  1. Muhammadiyah merupakan gerakan dakwah Islam dan ammar ma’ruf nahi munkar yang bergerak di bidang kemasyarakatan, bukan di bidang politik praktis/politik kekuasaan.
  2. Muhammadiyah hidup dan bergerak dalam wilayah dan di bawah hukum Negara Republik Indonesia yang berdasarlan Pancasila dan UUD 1945.
  3. Perjuangan Muhammadiyah berpedoman pada kepribadian Muhammadiyah.[7]

Gerakan Praktis

Amien Rais  sendiri mengatakan bahwa “Muhammadiyah adalah gerakan yang yang berfungsi sebagai gerakan keagamaan sesuai jati dirinya”. Dan sejauh yang saya ketahui menurut data yang ada, Muhammadiyah adalah gerakan Islam yang paling maju dalam bidang amal usaha, tidak hanya skala nasional, tapi juga skala internasional.

Dan Muhammadiyah sendiri merupakan gerakan yang praktis. Saat ini bisa kita lihat, bahwa grafiknya sedang menunjukkan kenaikan, khususnya dari segi kuantitatif, baik dalam bidang pendidikan, kesehatan, sosial, maupun ekonomi. Dan yang paling terlihat adalah dalam bidang pendidikan.[8]

Menurut Zuly Qodir, Muhammadiyah merupakan gerakan yang berorientasi dalam membangun moralitas keislaman masyarakat yang masih banyak diselimuti dengan tradisi-tradisi Hinduisme dan Budhiesme yang menjadi bagian dari tradisi masyarakat Indonesia dan menempatkan posisinya sebagai gerakan dakwah yang berupaya mentransfarmasi Islam sebagai bagian dari jiwa masyarakat Indonesia.[9]

Tawaran pembaharuan yang diberikan Muhammadiyah

Muhammadiyah yang merupakan organisasi dan gerakan sosial keagamaan yang didirikan oleh Kyai Dahlan adalah gerakan tajdid (reformasi; pembaharuan pemikiran Islam) yang disesuaikan dengan kondisi sosial masyarakat Jawa dan budaya masyarakat Indonesia pada umumnya.

Perkembangan Muhammadiyah sendiri bisa diterima dikalangan masyarakat luas dan dapat berkembang pesat. Orientasi pengembangan pendidikan yang dijadikan sebagai asas pergerakan berkembang ke bidang sosial yang lain seiring semakin besar dan meluasnya organisasi Muhammadiyah.[10]

Presiden Pertama Indonesia, Soekarno pernah memberikan pendapatnya mengenai Muhammadiyah. Dengan lantang ia berbicara:

“Dengan sedikit bicara banyak bekerja, Muhammadiyah telah memodernisasi cara perkembangan Islam. Sehingga, di seluruh Tanah Air Indonesia, mulai Sabang sampai Merauke telah berdiri cabang-cabang dan ranting-ranting. Selaku seorang yang pernah berkecimpung dengan lingkungan Muhammadiyah, saya ingin berpesan kepada saudara-saudara supaya selalu berpegang teguh pada motto ‘banyak bekerja’. Inilah sebabnya Muhammadiyah berkumandang dan menjadi besar”.[11]

Bergerak dalam Bidang Pendidikan

Maksud dan tujuan berdirinya Muhammadiyah sendiri adalah menegakkan dan menjunjung tinggi Agama dan pemikiran Islam, sehingga dapat mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Muhammadiyah sendiri cenderung lebih bergerak dan mementingkan pergerakannya di bidang pendidikan dan pengajaran yang berasaskan Islam, baik pendidikan dalam sekolah/ madrasah maupun pendidikan dalam masyarakat.

Maka, tidak heran bahwa gerakan ini sejak mulai berdirinya telah banyak membantu NKRI dalam hal mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mebangun madrasah-madrasah dan mengadakan tabligh-tabligh, bahkan juga banyak menerbitkan banyak buku dan majalah yang menyiarkan pemikiran Islam.[12]

Tujuan dan cita-cita yang diinginkan Muhammadiyah menurut Syarifuddin Jurdi adalah

“Ingin melihat agama Islam dapat dilaksanakan oleh umatnya secara baik sehingga akan mewujudkan masyarakat Islam yang sebenarnya dan cita-citanya adalah membuat umat Islam di Indonesia dapat menjalankan agamanya sesuai dengan Al-Qur’an dan hadist. Adapun mengenai pemerintahan, partai politik, dan sebagainya Muhammadiyah tidak mencampurinya, karena kelibatan anggota-anggota Muhammadiyah dalam partai politik bersifat individual dan tidak mewakili Muhammadiyah”.[13]

Problematika Fiqih

Muhammadiyah sebagai ormas yang memiliki jumlah massa dan pendukung yang besar juga tidak luput dari problematika. Ada yang berpendapat bahwa Muhammadiyah itu di masa awal berdirinya adalah NU, fiqihnya menggunakan mazhab Syafi’i yang sama dengan NU.

Kenapa demikian? Sebab Kiai Dahlan sendiri menimba ilmunya dari ulama-ulama yang sama tempat Kyai-kyai NU menimba ilmu. Satu guru satu ilmu, bahkan satu keluarga. Kiai Dahlan dan Kyai Hasyim adalah sama-sama keturunan Sunan Giri. Kiai Dahlan dan warga Muhammadiyah juga ketika itu mengamalkan qunut dan terawih 20 rakaat, mereka adzan jum’at 2 kali dan takbiran 3 kali.

Mereka shalat Id di masjid bukan di lapangan. Pendek kata, umat Muhammadiyah kala itu sama dengan umat Islam sekarang yang diklaim sebagai NU. Sebab, amalan beliau-beliau adalah amalan NU. Lalu pertanyaanya sejak kapan Muhammadiyah berubah?[14]

Jawaban dari pertanyaan itu adalah, bertahap. Kiai Dahlan mulai membuka Muhammadiyah untuk perkembangan global, akibat terlalu membuka diripun meruntuhkan sedikit demi sedikit paham fiqih bermazhab Syafi’i yang telah dianutnya. Bahkan pada tahun 1925 dua tahun sepeninggal Kyai Dahlan Muhammadiyah dinilai telah berubah dengan diterimanya paham wahhabi yang anti amalan pesantren, momentumnya ditandai oleh pelaksanaan sholat id’ di lapangan tahun 1925 yang berbeda dari ajaran mazhab syafi’i.

Namun beruntung Muhammadiyah memiliki Kiai Mansur yang berkat jasanya mendirikan Majelis Tarjih di tahun 1927, Muhammadiyah tidak jadi terseret dari arus deras Wahhabi global.

Kualifikasi Empat Masa

Muhammadiyah pun akhirnya bermetamorfosis dengan pengualifikasian empat masa yakni, Masa Syafi’i (1912-1925), Masa Pembauran Syafi’i-Wahhabi (1925-1967), Masa HPT (1967-1995) dan Masa Pembauran HPT-Globalisasi (1995-hingga kini). Pada  tahun 1927 itulah terjadi perubahan besar di tubuh Muhammadiyah, dengan menghilangnya jejak-jejak amalan NU yang diamalkan Kyai Dahlan dan masyarakat Muhammadiyah pada saat itu. Dan munculah statement dari banyak kalngan NU yang merasa telah kehilangan saudara tua.[15]

Problem yang dialami Muhammadiyah setelah sekitar sepuluh tahun pendiri Muhammadiyah wafat adalah Muhammadiyah terlihat mulai berubah menjadi sebuah gerakan syariat yang jauh dari problem kehidupan umat. Dan mayoritasnya adalah dari kalangan masyarakat miskin, kaum buruh dan petani.

Dan mulai terikat dengan gerakan politik menjelang kemerdekaan. Selain itu generasi mudanya tidak mudah menangkap geliat ilmu modern yang terus berkembang. Dan mereka juga banyak yang gagal memahami kertas kuning dan kertas putih ilmu-ilmu modern.  Dan lembaga pendidikan terus tumbuh sebagai lahan penunjang ekonomi bukan sebagai sarana dakwah dan peyuplai ilmu yang hakiki.[16]

Dan yang perlu dicatat disini adalah Muhammadiyah selama ini tidak pernah memisahkan diri dari Bangsa ini, bahkan kader-kader Muhammadiyah sudah banyak yang berjasa memberikan yang terbaik bagi negri ini.

Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Muhammadiyah juga bukan sekedar gerakan yang hanya menyeru “Amar Ma’ruf Nahi Munkar” yakni dengan mencegah kemunkaran dan menyeru kebaikan. Yang perlu diapresiasi adalah dengan upayanya untuk membebaskan manusia dari kesengsaraan dan ketertindasan dalam artian kebodohan, penyakit, maraknya kriminalisasi dan juga kebodohan. Dan hal yang sangat perlu diperhatikan disini, Muhammadiyah adalah ormas Islam yang memerlukan para alim ulama yang banyak. Di tangan para ulama yang baik lah Muhammadiyah akan lebih baik.

Yakni ulama yang mewarisi sifat dan karakteristik para nabi sebagai tauladan yang baik. Karena jika bukan di tangan ulama cekcok antarn paham akan menjadi fitnah. Dan di pangkuan para ulama lah Muhammadiyah dan NU bisa bersatu.[17]

Penulis: Martin Putra Perdana
Editor : Joko Kurniawan

Artikel Menarik lainnya



Kutipan (footnote)


  • [1] Toto Suharto, “Gagasan Pendidikan Muhammadiyah dan NU sebagai Potret Pendidikan Moderat di Indonesia”, Islamica, Vol. 9, No. 1,  September 2014,  h. 97-98.
  • [2] Ahmad Faizin Karimi, Pemikiran dan Perilaku Politik Kiai Haji Ahmad Dahlan, (Gresik: MUHI Press, 2012),  h. 102.
  • [3] Muh.Dahlan, “K.H. Ahmad Dahlan sebagai Tokoh Pembaharu”, Jurnal Adabiyah, Vol. 17, No. 2,  tahun 2014, h. 123-124.
  • [4] Muh.Dahlan, K.H. Ahmad Dahlan…, h. 126.
  • [5] Q.S. Ali Imron: 104.
  • [6] Majelis Diklitbang dan LPI PP Muhammadiyah, 1 Abad Muhammadiyah, (Jakarta: Kompas Media Nusantara, 2010), Prolog xxxv.
  • [7] Haedhar Nashir, Muhammadiyah Gerakan Pembaharu, (Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2016), h. 323-324.
  • [8] Muhammad Najib, Suara Amien Rais Suara Rakyat, (Jakarta: Gema Insani Press, 1999) h. 116.
  • [9] Zuly Qodir, Muhammadiyah Studies, (Yogyakarta: KANISIUS, 2010), h. 74.
  • [10] Djoko Marihandono, K.H. Ahmad Dahlan (1868-1923), Museum Kebangkitan Nasional , h. 201.
  • [11] Nashruddin Anshory, Matahari Pembaharuan, (Yogyakarta: Jogja Bangkit Publisher, 2010), h. 157.
  • [12] Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: Mutiara Sumber Widya, 1962), h. 269.
  • [13] Syarifuddin Jurdi, Sosiologi Islam dan Masyarakat Modern, (Jakarta: Perdana Media Group, 2010) , h. 130.
  • [14] Mochammad Ali Shodiqin, Muhammadiyah itu NU, (Jakarta: Noura Books, 2013), h. 14
  • [15] Mochammad Ali Shodiqin, Muhammadiyah…, h. 16
  • [16] Syarifuddin Jurdi, Sosiologi Islam…, h. 137.
  • [17] Mohamad Sobary, NU dan KEINDONESIAAN, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2010),  h. 30.

3 Comments

  1. Pingback: Pembaharuan Pemikiran Islam Model Nahdlatul Ulama - Aqidah dan Filsafat Islam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *