Feminisme Dalam Pandangan Islam; Analisis Gerakan Feminisme

Feminisme Dalam Pandangan Islam; Analisis Gerakan Feminisme

Oleh: Joko Kurniawan
Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Darussalam Gontor

Feminisme berasal dari bahasa latin, Femina atau feminus yang merupakan kombinasi dari kata fe berarti iman dan mina atau minus yang artinya kurang, jadi femina artinya kurang iman. Penamaan ini membuktikan bahwa di Barat perempuan dianggap sebagai makhluk yang kurang iman, dalam pengertian makhluk sekunder atau kedua setelah laki-laki[1].

Dan kata isme berasal dari bahasa Yunani –ismos yang menandakan suatu paham atau ajaran atau kepercayaan[2]. Sedangkan pengertian Feminisme adalah sebuah gerakan dilakukan oleh kaum perempuan yang menuntut emansipasi atau kesamaan dan keadilan yang setara dengan para lelaki[3].

Istilah ini mulai dikenal dan berkembang pada tahun 1980-an yang tidak terlepas dari gelombang westernized-globalization, yang didalamnya terdapat era postmodernism.[4] Pada masa inilah yang banyak menghasilkan produk-produk pemikiran barat seperti relativisme, equality, nihilism, serta deconstruction.[5] Dengan memasukkan istilah “Posmo”, feminisme mampu menjadi sebuah idiologi dengan visi dan misi yang tersebar luas hingga saat sekarang ini.[6]

Sejak awal mula kedatangannya, Islam telah menghapus diskriminasi terhadap kaum perempuan,[7] setelah sebelumnya pada zaman jahiliyah praktek pembunuhan bayi perempuan merupakan suatu hal yang lazim dilakukan, namun ketika Islam datang hal tersebut dihapuskan dan dilarang secara keseluruhan.[8]

Di dalam agama, terdapat perbedaan-perbedaan dalam hal pembagian hak, peran dan tanggung jawab atara pria dan wanita. Namun, semua itu sudah dianggap adil diantara keduanya tanpa adanya diskriminasi.

Ketika peradaban Barat memasuki kedalam dunia Islam, mereka banyak melakukan pengkritikan terhadap syari’at Islam yang selama ini menjadi suatu keyakinan oleh umat Islam baik dalam masalah hak, peran, dan tanggung jawab. Dengan mengatas dalih mencapai kebebasan terhadap status dan persamaan peran antara laki-laki dan perempuan atau yang lebih kita kenal dengan kesetaraan gender[9].

Namun, anehnya para pemikir Muslim terpengaruh dan menimbulkan wacana baru dalam dunia Islam. Konsep-konsep Islam tentang peran dan hak wanita dipertanyakan dan dibongkar dengan dalih tidak sesuai konteks zaman dan tidak adil bagi wanita itu sendiri.[10] Mereka menuduh Islam memberikan perhatian lebih kepada laki-laki dari pada perempuan dari segala lini kehidupan, padahal jika kita telusuri dan pahami dengan baik, laki-laki dan perempuan jelas berbeda secara fitrah, namun sejatinya akan menjadi mulia dengan masing-masing tugasnya tanpa merasa terdiskriminasi.

Pengertian Kesetaraan Gender dan Feminisme

Kata Gender berasal dari bahasa Inggris yang berarti jenis kelamin (sex).[11] Atau kesetaraan gender dikenal dengan gender equality, yang bermakna persamaan gender.[12] Akan tetapi menurut Nasaruddin Umar makna sex kurang tepat jika disamakan dengan jenis kelamin, karena kosa kata ini terbilang baru, sehingga tidak ditemukan dalam Kamus Besar bahasa Indonesia.[13] Pada awalnya kedua kata tersebut (Gender dan Sex) digunakan secara rancu.[14] Beberapa tahun terakhir di tengah maraknya gerakan feminis, kedua kata tersebut didefinisikan secara berbeda. Perbedaan konseptual antara gender dan sex bermula dikenalkan oleh Ann Oakley.[15]

Sex adalah pembagian jenis kelamin yang ditentukan secara biologis yang melekat pada jenis kelamin tertentu yang tidak dapat dipertukarkan atau bahkan dirubah secara permanen, serta merupakan ketentuan biologis atau ketentuan Tuhan (Kodrat).[16] Sedangkan konsep gender adalah pembagian laki-laki dan perempuan yang dikontruksi secara sosial maupun kultural bukan termasuk kedalam kodrati atau non-biologis, karena tidak abadi dan dapat dipertukarkan.[17]

Hal inilah yang dijadikan sebagai landasan kaum feminis dalam melancarkan idiologi mereka, bahwasanya gerakan gender tidak mempermasalahkan  perbedaan identitas antara laki-laki dan perempuan dari segi anatomi biologis atau jenis kelamin, akan tetapi mengkaji aspek sosial, budaya, psikologis dan aspek-aspek non-biologis lainnya[18], hal tersebut senada dengan pernyataan Nasaruddin Umar yang mengatakan bahwa gender merupakan suatu konsep yang digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan antara laki-laki dan perempuan dilihat dari segi aspek konstruk sosial-budaya.[19]

Secara istilah, gender mempunyai beberapa pengertian. Helen Tierney misalnya, mengartikan gender sebagai sebuah konsep kultural yang berusaha membuat perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam hal peran, perilaku, mentalitas dan karakteristik emosional dalam kehidupan sosial bermasyarakat.[20] Menurut H.T Wilson, gender merupakan suatu dasar untuk menentukan perbedaan sumbangan laki-laki dan perempuan pada kebudayaan dan kehidupan kolektif sehingga berakibat mereka menjadi laki-laki dan perempuan.[21] Hilary M. Lips mengartikan gender sebagai harapan-harapan budaya terhadap laki-laki dan perempuan.[22]

Dari beberapa pengertian diatas, gender dapat dipahami sebagai suatu konsep yang dipakai untuk membedakan identitas laki-laki dan perempuan dari segi sosial dan budaya.[23] Berbeda dengan konsep sex yang secara umum digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi anatomi biologis manusia.[24]

Asumsi dasar kesetaraan gender yang dibawa oleh feminisme berangkat dari teori nurture. Menurut mereka, peran gender hanya berasal dari kontruksi sosial (Nurture) semata dan bukan alamiah atau kodrati (Nature), sehingga dapat dipertukarkan.[25] Dengan demikian peran gender pada hakikatnya adalah netral, setara, sama dan dapat dilakukan oleh laki-laki dan perempuan. Tidak ada perbedaan antara keduanya, semuanya adalah sama.

Hal semacam inilah yang di gagas oleh para kaum feminis dimana kesamaan atau netral atas kondisi ideal laki-laki dan perempuan. Jika kenetralan ini dilanggar, maka dalam pandangan mereka akan menimbulkan ketimpangan sosial, yakni diskriminasi terhadap kaum perempuan. Pada umumnya kaum feminis memakai ukuran kuantitatif dalam menentukan apakah terjadi ketimpangan seperti melihat out come, lot atau keberhasilan yang telah dicapai laki-laki dan perempuan di dunia publik.[26]

Perempuan dalam Perspektif Islam

Islam mengembangkan peradaban melalui ilmu pengetahuan dan akal yang dipandu oleh wahyu yang diturunkan oleh Allah atas perantara jibril kepada Nabi Muhammad Saw untuk disebar luaskan kepada seluruh umat manusia.[27] Perempuan sebelum datangnya Islam sangat memprihatinkan dan sangat buram, dianggap sebagai makhluk yang tidak berharga, karena menjadi bagian dari laki-laki (Subordinatif).[28]

Namun setelah Islam datang, secara bertahan Islam mengembalikan hal-hak perempuan sebagai manusia yang merdeka, mengangkatnya drajatnya sebagai makhluk yang memiliki kehormatan yang harus dijaga hal inilah merupakan gerakan emansipatif yang tiada tara pada masanya, disaat perempuan terpuruk dalam kegelapan.[29]

Sejarah teleh menuliskan secara jelas bagaimana seorang perempuan pada masa-masa Islam diturunkan mendapat penghargaan tinggi, terutama dari Nabi Muhammad Saw, yang merupakan figur panutan dari seluruh umat Islam.[30] Menurut Asghar Ali Engineer, merupakan suatu revolusi yang sangat besar dimana Nabi Muhammad Saw, telah memprakarsai melakukan perubahan dalam masyarakat Makkah secara menyeluruh, secara bertahap Islam menjadi agama yang sangat mapan dengan ritualisasi yang sangat tinggi.[31]

Dalam sejarah, perempuan telah memainkan peranan yang sangat strategis pada masa awal maupun pertumbuhan dan perkembangan Islam itu sendiri, baik dalam segala urusan, hal ini terbukti melalui peranan perempuan didalam membantu perjuangan Rasulullah Saw, didalam melakukan misi dakwah ataupun didalam misi medan perang. Khadijah misalnya, istri Nabi yang sangat setia, telah memberikan segala kekayaan yang ia punya untuk kepentingan dakwah dan perjuangan Islam.[32]

Islam mengoptimalkan potensi kaum perempuan dengan memberikan jaminan kehidupan dengan demikian dapat diharapkan mempu mengurangi level stres dan depresi perempuan, karena dalam keadaan apapun itu, semunya telah terjamin didalam tatanan Islam bahkan menetapkan penjaga-penjaga dan menjamin kehidupan kaum perempuan.[33] Ibnu ‘Abbas meriwayatkan bahwa ia mendengar Nabi SAW berkata,

“Tidak ada Muslim yang memiliki dua anak perempuan lalu ia merawatnya dengan baik, kecuali ia akan masuk surga.”
(HR. al-Bukhari).

Hadis lain terkait hal itu:

“Barangsiapa memiliki tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan, atau dua anak perempuan, atau dua saudara perempuan, dan ia menjaga mereka dengan baik dan takut kepada Allah tentang urusan mereka, maka tempat mereka adalah surga”
(HR. al-Tirmidhi).

Tidak ada Muslim yang memiliki dua anak perempuan lalu ia merawatnya dengan baik, kecuali ia akan masuk surga.” (HR. al-Bukhari). Hadis lain terkait hal itu, “Barangsiapa memiliki tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan, atau dua anak perempuan, atau dua saudara perempuan, dan ia menjaga mereka dengan baik dan takut kepada Allah tentang urusan mereka, maka tempat mereka adalah surga” (HR. al-Tirmidhi).

Islam telah memberikan status yang mulia bagi perempuan sehingga perempuan tidak perlu merasa kurang berharga, harus membuktikan diri dalam persaingan dengan laki-laki, yang selalu dihinggapi rasa takut gagal yang berlebihan.[34] Hal inilah yang seharusnya dijadikan sandaran bagi para kaum feminis, yang terus menggaungkan kesetaraan antara perempuan dan laki-laki, karena sejatinya konsep kesetaraan dalam Islam adalah keadilan diantara keduanya.

Islam tidak membatasi ruang gerak perempuan yang hanya didalam kehidupan domestik, akan tetapi juga mengakui kerja sama laki-laki dan perempuan dalam kehidupan publik. Perempuan-perempuan yang sedang tidak memiliki tanggung jawab domestik, seperti perempuan yang masih lajang atau kaum ibu yang anak-anaknya sudah mandiri, yang kemudian didorong untuk mengambil peran dalam kehidupan sosial masyarakat.[35]

Perinsipnya, AL-Qur’an tidak melarang kaum perempuan bekerja, adapun anjuran untuk tinggal di rumah bertujuan untuk melindungi dan lebih kepada persoalan preventif (pencegahan). Al-Qur’an bahkan memberikan hak perempuan untuk bekerja, baik dalam arti beramal saleh maupun mencari nafkah untuk diri dan keluarga.[36] Allah berfirman yang artinya:

”… (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, Allah maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. An-Nisa: 32)

Dengan demikian, sebenarnya tidak ada larangan keluar rumah bagi perempuan, kecuali untuk melakukan maksiat. Bahkan Allah secara khusus, menyebutnya sebagai penolong laki-laki dalam tugas amar makruf nahi mungkar hal tersebut di jelaskan didalam surah At-Taubah: 71,[37] tanpa mengurangi peranan seorang perempuan sekaligus tanggung jawabnya dan tidak perlunya menuntut pemberlakuan kesetaraan dengan laki-laki.

Tipologi[38] Historis Feminisme

Pembagian tipologi feminisme Barat, pertama adalah “Liberal Feminism”. Feminisme liberal adalah paham feminis yang pertama dan sekaligus yang masih eksis hingga saat sekarang ini, gerakan feminis liberal merupakan paham yang masih sangat dekat dengan fenomena penindasan terhadap kaum perempuan yang kemudian menuntut persamaan hak aspirasi berkeadilan gender (gender justice) yang neyetarakan antara laki-laki dan perempuan.[39]

Gerakan feminis liberal ini secara teroganisir dipelopori oleh Mary Wollstonecraft[40] (1759-1799), salah satu karyanya yang terkenal berjudul “A Vindication of the Rights of Women” pada tahun 1972.[41] Ia mendeskripsikan bahwa kerusakan psikologis dan ekonomi yang dialami perempuan disebebkan oleh ketergantungan perempuan secara ekonomi dan peminggiran perempuan dari ruang publik.[42] Tulisan ini sukses membuka kebebasan ekonomi, seksual dan publik wanita di Barat.[43]

Kedua, Radikal feminism. Secara definitif, Feminisme Radikal adalah paham yang ingin merekonstruksi sistem gender yang partiarkal, untuk kemudian membentuk masyarakat baru, di mana laki-laki dan perempuan setara di setiap level elemennya.[44] Dengan menggunakan sistem baru dengan komposisi sebagaimana telah tersebut.[45]

Ketiga, Marxist dan Socialist Feminism. Dalam memahami permasalahan ini tidak terlepas dari pemahaman terhadap struktur industri masyarakat modern yang kemudian Marx mengklasifikasikan masyarakat mendjadi dua kelas, yang biasa dikenal dengan borjuis dan proletar, yakni antara pemilik modal (Capitalist) yang senantiasa dituntut untuk menguasai buruh (Labour).[46]

Hal ini lah yang menjadikan Sosialis-Marxis merasa adanya suatu ketimpangan antara jumlah buruh laki-laki dan perempuan dan antar keduanya memiliki waktu bekerja yang relatif berbeda. Hal ini tentunya menghasilkan sudut pandang secara uniequal dimana seorang perempuan mendapatkan upah yang lebih rendah atau bahkan tidak sama dibandingkan dengan upah laki-laki.[47]

Berangkat dari ketimpangan ekonomi inilah, yang kemudian feminis sosialis-Marxis berupaya untuk melakukan sebauh resolving problem dengan menunjukan bahwa kualitas kerja seorang perempuan tidak kalah dengan laki-laki di kalangan publik sehingga tidak menimbulkan suatu ketimpangan antara keduanya.[48]

Keempat, Psychoanalytic And Existential Feminism.[49] Dimensi psikologi yang dianggap ada pada penindasan terhadap kaum perempuan berkembang menjadi feminisme psokoanalitis-eksistensial. Mereka berpendapat berdasarkan landasan teori psikoanalisis Sigmund Freud, bahwa cara berpikir seorang perempuan bersumber dari alam bawah sadar mereka.[50] Eksistensialisme mejadikan hubungan antara alam bawah sadar seorang manusia dengan lingkungannya terkaitu bagaimana manusia berkembang dari makhluk yang “tidak sadar” menjadi makhluk “sadar” yang mandiri.[51]

Kelima, Postmodern Feminism-Postfeminism. Feminis Postmodern, sesuai dengan namanya sangatlah identik dengan fase keempat filsafat Barat; Postmodern[52] Sarah Gamble menggambarkan ciri keduanya tidak hanya identik di nama namun juga terdapat nilai-nilai ayng bersifat “Post” yang dilahirkan dari ketidak pastian semantis yang disebabkan post didepannya.[53] Sejatinya postfeminisme telah mendekonstruksi pemahaman feminisme secara keseluruhan yang ada sebelumnya,[54] namun demikian postfeminisme secara subtansial ia problematis, baik secara istilah maupun idiologis.[55]

Konsep Kesetaraan Gender Dalam Tafsir Al-Qur’an

Amina Wadud menulis sebuah buku yang berjudul Quran and Woman: Rereading the Sacred Text From a Woman’s Perspective.[56] Melalui tulisannya Wadud berusaha membongkar tatacara penafsiran Al-Qur’an model klasik, ia menilai bahwa penafsiran AL-Qur’an model klasik menghasilkan tafsir berbias gender, menindas wanita.[57]

Wadud tidak menolak Al-Qur’an secara utuh, akan tetapi ia menolak metode penafsiran klasik dan menggantinya dengan metode tafsir baru, yang diberinama “Hermeneutika Tauhid”. Dengan metode tafsir ini, meskipun Al-Qur’an-nya sama, produk hukum yang dihasilkan akan sangat berbeda dari sebelumnya. Wadud juga mengatakan bahwa “Tidak ada metode tafsir al-Qur’an yang benar-benar objektif. Masing-masing ahli tafsir melakukan beberapa pilihan subjektif”.[58]

Beberapa pandangan kaum feminis tentang penafsiran Al-Qur’an, yang kaitannya dengan persoalan antara relasi laki-laki dan perempuan yang memperlihatkan pandangan yang egaliter[59]. Menurut Asghar, Al-Qur’an-lah yang pertama kali memberikan perempuan hak-hak yang sebelumnya tidak pernah mereka dapatkan dalam aturan yang legal. Hal senada diungkapkan oleh Syakh Mahmud Syaltut dalam bukunya “al-Islam Aqidatun wa Syari’atun”, yang menjelaskan tentang bagaimana kedudukan soerang perempuan yang tidak pernah diperoleh perempuan pada syari’at agama samawi terdahulu dan tidak pula ditemukan dalam masyarakat manusia manapun.[60]

Salah satu ayat yang banyak digugat oleh kaum feminis adalah masalah kepemimpinan dalam rumah tangga. Sebagaimana yang tertulis didalam Al-Qur’an:

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.”
(QS. AN-Nisa: 34)

Mereka menolak jika ayat tersebut diartikan sebagai suatu keharusan bagi laki-laki sebagai pemimpin dalam rumah tangga. Menurut mereka, penempatan wanita sebagai yang terpimpin dalam rumah tangga adalah konsep budaya, bukan suatu hal yang kodrati.[61]

Para kaum feminis juga beranggapan bahwa prinsip kesetaraan gender yang mengacu pada suatu realitas antara laki-laki dan perempuan, dalam hubungannya dengan Tuhan, yakni sama-sama sebagai seorang hamba. Yang tugas utama dari seorang hamba adalah untuk mengabdi dan menyembahNya,[62] sebagaimana yang tertulis dalam firmannya: “dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku” (QS. Al-Dzariyat: 56).

Oleh karena itu, mereka beranggapan bahwa dalam kapasitas sebagai seorang manusia dan berstatus hamba, tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Perbedaan sejatinya ialah ketaqwaan yang dijadikan sebagai ukuran untuk memuliakan atau merendahkan drajat seorang manusia itu sendiri.[63] Dan masih banyak lagi argumen-argumen yang Al-Qur’an dijadikan mereka sebagai landasan dalam kepemahaman kesetaraan dan merupakan angapan dari nilai-nilai Islam yang berlaku secara universal.[64]

Dari cara berifikir para kaum feminis yang menggunakan segala aspek sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya, maka sejatinya ujung dari ini semua adalah untuk menimbulkan ijtihad hukum yang tidak merujuk kapada pendapat ulama masa lalu dan tidak pernah terdengar sebelumnya.

Mereka berupaya untuk mengubah cara pandangan terhadap wanita dan berupaya untuk menghapuskan kesenjangan antara laki-laki dan perempuan dengan menuntut persamaan (equality), di antaranya hukum yang akan dicapai ialah:

  1. Mengharamkan poligami, karena yang berhak berpoligami adalah para laki-laki sedangkan perempun di haramkan;
  2. Menghalalkan perkawinan beda agama, seorang Muslimah dengan non-Muslim atau sebaliknya;
  3. Pernihakan dapat dilakukan tanpa wali, ijab-qobul dapat dilakukan calon suami istri;
  4. Masa iddah bukan hanya dimiliki oleh seorang perempuan, akan tetapi juga unutk laki-laki. Masa iddah laki-laki adalah 130 hari.
  5. Talak, tidak hanya dijatuhkan oleh pihak laki-laki, tetapi boleh dilakukan oleh suami atau istri didepan Sidang Pengadilan Agama;
  6. Bagian waris anak laki-laki dan wanita disama ratakan.[65]

Penutup

Feminisme secara singkat dapat dimaknai sebagai wacana yang patut untuk dikritisi, karena secara konseptual tidak diperlukan. Diskursus gander berangkat dari masa lalu kelam perempuan di Barat sehingga menimbulkan gerakan-gerakan yang pada akhirnya menuntut kesetaraan. Dimulai dari aspek teologis, yang kemudian menjalar kepada ranah sosial. Berbeda dengan Islam itu sendiri, fakta sejarah telah membuktikan, bahwasanya wanita didalam Islam memiliki kedudukan yang terhormat, ia dilindungi dan dimuliakan.

Perbedaan yang terjadi antara laki-laki dan perempuan bukanlah suatu dimensi intimidasi yang berlaku satu sama lainnya, namun justru aplikasi keadilan Tuhan adalah pertimbangannya. Ketika setiap perangkat mampu ditempatkan sesuai dengan porsinya, maka ilulah keadilan. Konsep keadilan didalam Islam itu sendiri ialah bukan semata-mata sama rasa, namun lebih kepada menempatkan sesuatu sesuai dengan koridor firahnya masing-masing. Karena pada keyataannya baik laki-laki maupun perempuan tetap mulia dengan ciri khas yang dimilikinya.

Pemahaman kaum feminis tentang kesetaraan, sejatinya mereka telah terjebak didalam ‘pra-pemahaman’ subjektif dari konsep gender equality sekuler liberal yang jelas-jelas bukan merupakan produk dari peradaban Islam. Allah SWT, telah membagi peran untuk seorang laki-laki dan perempuan sebagai makhluk yang saling melengkapi satu sama lainnya. Perbedaan peran bukanlah suatu penistaan terhadap para perempuan, karena didalam Islam setiap peranan akan dipertanggung jawabkan nanti di hari kiamat. Allah membatasi pergerakan-pergerakan yang dialkuakan oleh perempuan bukan berarti Allah menghinakan perempuan, justru Allah menunjukan kasih sayang kepada perempuan dengan mengurangi beberapa beban tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Agustina, Nurul. “Islam, Perempuan dan Negara”, Islamika, No. 6, tahun 1995. “Feminisme”, Jurnal Kalimah, Vol. 12, No.1, Maret 2014.
Anderson, Pamela Sue. Feminisme dan Filsafat, dalam Pengantar Memahami Feminisme dan Postfeminisme, Ed. Siti Jamilah, dkk. (Yogyakarta: Jalasutra, 2010).
Bagus, Lorens. Kamus Filsafat, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2005).
Engineer, Asghar Ali. “Menemukan Kembali Visi Profetis Nabî: Tentang Gagasan Pembebasan dalam Kitab Suci”, Ulumul Qur’an, No. 4, Vol. III, tahun 1992.
Fadlan, Islam, Feminisme dan Konsep Kesetaraan Gender Dalam Al-Qur’an, KARSA, Vol. 19. No. 2 Tahun 2011.
Fakhrudin, Ali. Relasi Gender dalam Keberagamaan Qira’at, Suhuf. Vol. 3, No. 1 2010.
Fakih, Mansuor. Analisis Gender dan Transformasi Sosial (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999).
Hasyim, Syafiq. Hal-hal yang Tak Terpikirkan: Tentang Isu-isu Keperempuanan dalam Islam (Bandung: Mizan, 2001).
http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/15/05/27/noywh5-inilah-10-negara-dengan-populasi-muslim-terbesar-di-dunia
http://thisisgender.com/analisis-ruu-kkg-dariperspektif-hukum-indonesia/ http://www.hidayatullah.com/read/22033/03/04/2012/
Humm, Maggie. Ensiklopedia Feminisme, (Yogyakarta: Fajar Pustaka, 2007).
Husaini, Adian. problematika Tafsir Feminis: Studi Kritis Konsep Kesetaraan Gender, At-Tahrir. Vol. 15 No. 2 November 2015.
Jhon M. Echol dan Hassan Syadily, Kamus Inggris-Indonesia, (Jakarta, Gramedia, 1996).
Kamus Besar Bahasa Indoensia
M. Aunul Abied Shah dan Hakim Taufiq, “Tafsir Ayat-ayat Gender dalam Al-Qur’ân: Tinjauan terhadap Pemikiran Muhammad Syahrûr dalam Bacaan Kontemporer”, dalam M. Aunul Abied Shah et.al. (ed.) Islam Garda Depan: Mosaik Pemikiran Islam Timur Tengah (Bandung: Mizan, 2001).
Mas’udi, Masdar F. Islam dan Hak-hak Reproduksi Perempuan: Dialog Fiqih Perempuan (Bandung: Mizan, 1997).
Megawangi, Ratna. Membiarkan Berbeda? Sudut Pandang Baru Tentang Relasi Gender, (Bandung: Mizan, 1995).
Mutawakkil, M. Hajir. “Keadilan Islam dalam Persoalan Gender”, Jurnal Kalimah, Vol. 12, No.1, Maret 2014.
Nugroho, Riant. Gender dan Administrasi Publik; Studi tentang Kualitas Kesetaraan Gender dalam Administrasi Publik Indonesia Pasca Reformasi 1998-2002, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008).
Oxford Learner’s Pocket Dictionary, (London: Oxford University Press, 1995).
Pawitasari, Erma. Muslimah Sukses Tanpa Stres, (Jakarta: Gema Insani, 2015)
Pawitasari, Erma. Pendidikan Khusus Perempuan Antara Kestaraan Gender dan Islam, Jurnal Tsaqafah,  Vol. II, No. 2 November 2015.
Rizal Maulana, Abdullah Muslich. “Feminisme sebagai Diskursus Pandangan Hidup”, Jurnal Kalimah Vol. II, No. 2, September 2013.
Rizal Maulana, Abdullah Muslich. “Feminisme sebagai Diskursus Pandangan Hidup” Jurnal Kalimah Vol. II, No. 2, September 2013.
Shihab, M. Quraish. Tafsir al-Misbah, jilid II
Sugiharto, Bambang. Postmodernisme; Tantangan Bagi Filsafat, (Yogyakarta: Kanisius, 2008).
Umar, Nasaruddin. Argumen Kesetaraan Gender Perspektif Al-Qur’an, (Jakarta: Paramadina, 2001).
Wadud, Amina. Quran Menurut Perempuan: Meluruskan Bias Gender dalam Tradisi, terj. Abdullah Ali (Jakarta: Serambi, 2001).
Zaki Al-Barudi, Syaikh Imad. Tafsir Wanita, Terj. Samson Rahman, (Jakarta:Pustaka Al-Kautsar, 2003).
Zarkasyi, Hamid Fahmy. Liberalisasi Pemikiran Islam, (Gontor, Center for Islamic and Occidental Studies-CIOS-ISID)

Kutipan (Footnote)


[1] dalam sejarahnya di Barat, perempuan sering kali menjadi korban inquisisi dan juga perkosaan. Konsepsi yang merendahkan tersebut menghasilkan suatu kesadaran sosial dan gerakan untuk melawan perlakuan diskriminatif tersebut. Lihat, “Feminisme” Jurnal Kalimah, Vol. 12, No.1, Maret 2014, hal. 69. dan Lihat, Oxford Learner’s Pocket Dictionary, (London: Oxford University Press, 1995), hal. 153.

[2] Penjelasan dari “Wikipedia dan Ensiklopedia Bebas”, pada https://id.wikipedia.org/wiki/-isme di akses pada hari Selasa, 12 April 2017, pada pukul 14.40.

[3] Pengertian singkat dari “Feminisme” pada https://id.wikipedia.org/wiki/Feminisme, di akses pada hari Selasa, 13 April 2017, pada pukul 15.36.

[4] Pamela Sue Anderson, Feminisme dan Filsafat, dalam Pengantar Memahami

Feminisme dan Postfeminisme, Ed. Siti Jamilah, dkk. (Yogyakarta: Jalasutra, 2010), hal. 187-199.

[5] Abdullah Muslich Rizal Maulana, “Feminisme sebagai Diskursus Pandangan Hidup”, Jurnal Kalimah Vol. II, No. 2, September 2013, tentang  Hal. 272.

[6] Postmodern, sesungguhnya adalah sebuah idiologi yang tidak pernah lepas dari perdebatan konvensional sehingga sulit menemukan hakikat makna aslinya dalam sebuah penjelasan dan cenderung didefinisikan dengan poststrukturalis yang kental dengan ke-Nietzsche-an. Sehingga maknanya tidak pernah jauh dikenali dari ciri-ciri “dokonstruktif” yang ditemukan diatas. Menurut Bambang Sugiharto, istilah Postmodern lebih sering “mengecoh”, namun aplikasi pemakaiannya di masyarakat hanyalah karena istilah ini sudah terlanjur beredar dan populer. Bambang Sugiharto, Postmodernisme; Tantangan Bagi Filsafat, (Yogyakarta: Kanisius, 2008), hal 43-57.

[7] Dalam catatan sejarah, Islam turun di tengah masyarakat jahiliyah, dimana mereka memandang kaum perempuan tidaklah ada artinya. Islam datang dan menetapkan hukum untuk mengangkat herkat martabat perempuan dan mengajarkan bagaimana seorang perempuan sebagai kondratnya, sehingga ketimpangan sosial yang terjadi pada waktu itu menjadi seimbang.

[8] M. Hajir Mutawakkil, Jurnal Kalimah, Vol. 12, No.1, Maret 2014. Tentang “Leadilan Islam dalam Persoalan Gender”. Hal. 68.

[9] Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan Gender Perspektif Al-Qur’an, (Jakarta: Paramadina, 2001), hal. 68.

[10] M. Hajir Mutawakkil, “Keadilan Islam dalam Persoalan Gender”, Jurnal Kalimah, Vol. 12, No.1, Maret 2014. Hal. 69.

[11] Jhon M. Echol dan Hassan Syadily, Kamus Inggris-Indonesia, (Jakarta, Gramedia, 1996), hal. 265.

[12] Maggie Humm, Ensiklopedia Feminisme, (Yogyakarta: Fajar Pustaka, 2007), hal. 123.

[13] Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan Gender Perspektif al-Qur’an, (Jakarta: Paramadina, 2001), hal. 33.

[14] Umar, Argumen Kesetaraan Gender, hal. 34.

[15] M. Aunul Abied Shah dan Hakim Taufiq, “Tafsir Ayat-ayat Gender dalam Al-Qur’ân: Tinjauan terhadap Pemikiran Muhammad Syahrûr dalam Bacaan Kontemporer”, dalam M. Aunul Abied Shah et.al. (ed.) Islam Garda Depan: Mosaik Pemikiran Islam Timur Tengah (Bandung: Mizan, 2001), hlm. 237

[16] Mansuor Fakih, Analisis Gender dan Transformasi Sosial (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999), hal. 7-8

[17] Ibid, Hal. 8-9.

[18] Hamid Fahmy Zarkasyi, Liberalisasi Pemikiran Islam, (Gontor, Center for Islamic and Occidental Studies-CIOS-ISID), hal. 111. Lihat juga, Lindsey, Gender Roles: A Sociologixal Perpective, New Jersey, Prientice Hall, hal. 2.

[19] Nasarudin Umar, Argumen Kesetaraan Gender, hal. 35.

[20] M. Hajir Mutawakkil, “Keadilan Islam dalam Persoalan Gender” Jurnal Kalimah, Vol. 12, No.1, Maret 2014. Hal. 69-70. Lihat juga, Helen Terney, Women’s Studies Encyclopedia, Vol. 1, (New York: Green Wood Press, T. Th), hal. 153.

[21] Ibidi, hal. 70. Lihat juga, H.T. Wison, Sex and Gender, Making Cultural Sense of Civilization, (Lieden, New York, Kobenhavn: E.J. Brill, 1989), 2.

[22] Ibidi, hal. 70. Lihat juga, Hillary M. Lips, Sex and Gender: an Introduction, (London: Mayfield Publishing Company, 1993), hal. 4.

[23] Riant Nugroho, Gender dan Administrasi Publik; Studi tentang Kualitas Kesetaraan Gender dalam Administrasi Publik Indonesia Pasca Reformasi 1998-2002, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008), hal. 38.

[24] Studi tentang sex atau jenis kelamin biasanya mengacu pada aspek biologis seseorang, seperti komposisi kimia dan hormon dalam tubuh, anatomi fisik, reproduksi, dan lain sebagainya. Sementara gender lebih kepada aspek sosial, budaya, psikologis, dan aspek-aspek lain yang bersifat non biologis. Lihat, Linda L. Lindsey, Gender Roles: a Sociological Prespective, (New Jersey: Prentice Hall, 1990), hal. 517.

[25] Ratna Megawangi, Membiarkan Berbeda? Sudut Pandang Baru Tentang Relasi Gender, (Bandung: Mizan, 1995), hal. 95.

[26] Ibid, hal. 48.

[27] Erma Pawitasari Pendidikan Khusus Perempuan Antara Kestaraan Gender dan Islam, Jurnal Tsaqafah,  Vol. II, No. 2 November 2015, hal. 265.

[28] Syafiq Hasyim, Hal-hal yang Tak Terpikirkan: Tentang Isu-isu Keperempuanan dalam Islam (Bandung: Mizan, 2001), hlm. 18-19

[29] Nurul Agustina, “Islam, Perempuan dan Negara”, Islamika, No. 6, tahun 1995, hlm. 91

[30] Ibid.

[31] Asghar Ali Engineer, “Menemukan Kembali Visi Profetis Nabî: Tentang Gagasan Pembebasan dalam Kitab Suci”, Ulumul Qur’an, No. 4, Vol. III, tahun 1992, hal. 65

[32] Fadlan, Islam, Feminisme dan Konsep Kesetaraan Gender Dalam Al-Qur’an, KARSA, Vol. 19. No. 2 Tahun 2011, hal. 111

[33] Erma Pawitasari, Muslimah Sukses Tanpa Stres, (Jakarta: Gema Insani, 2015), hal. 31-46.

[34] Erma Pawitasari Pendidikan Khusus Perempuan Antara Kestaraan Gender dan Islam, Jurnal Tsaqafah,  Vol. II, No. 2 November 2015, hal. 266.

[35] Erma Pawitasari, Muslimah Sukses Tanpa Stres, (Jakarta: Gema Insani, 2015), hal. 59-60.

[36] Qurash Shihab, Tafsir al-Misbah, jilid II, hal. 267.

[37] Ali Fakhrudin, Relasi Gender dalam Keberagamaan Qira’at, Suhuf. Vol. 3, No. 1 2010, hal. 47-48.

[38] Tipologi, dalam Kamus Besar Bahasa Indoensia disebutkan: ilmu watak manusia tentang bagian manusia dari golongan-golongan menurut corak watak masing-masing.

[39] Abdullah Muslich Rizal Maulana, “Feminisme sebagai Diskursus Pandangan Hidup” Jurnal Kalimah Vol. II, No. 2, September 2013, Hal. 274. Lihat juga, Rosemarie Tong, Feminist Thought; A More Comprehensive Introduction. (Colorado: Westview Press, 2009), hal. 1.

[40] Mary Wollstonecraft lahir pada 27 April 1759 – 10 September 1797 adalah seorang penulis, filsuf dan feminis Britania Raya pada abad ke-18.

Lihat https://id.wikipedia.org/wiki/Mary_Wollstonecraft di akses pada 12 April 2017  pukul. 21.23.

[41] Pada buku itu, ia menulis bahwa wanita secara alamiah tidak lebih rendah dari laki-laki, tetapi terlihat seperti itu hanya karena mereka tidak memperoleh banyak pendidikan. Ia mengusulkan agar pria dan wanita dianggap setara. Lihat https://id.wikipedia.org/wiki/Mary_Wollstonecraft di akses pada 12 April 2017  pukul. 21.23.

[42] Rosemarie Tong, Feminist Thought; A More Comprehensive Introduction. (Colorado: Westview Press, 2009), hal 1. Lihat juga, John Stuart Mill, “The Subjection of Women,” in John Stuart Mill and Harriet Taylor Mill, Essays on Sex Equality, ed. Alice S. Rossi (Chicago: University of Chicago Press, 1970), hal. 184–185.

[43] Ibid, 23.

[44] Ibid.

[45] Alison M. Jaggar and Paula S. Rothenberg, eds., Feminist Frameworks (New York: McGraw-Hill, 1984), hal. 186

[46] Lorens Bagus, Kamus Filsafat, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2005), hal. 574. Secara definitif, Marx menafsirkan kapitalisme dengan teorinya mengenai nilai-lebih kerja sebagai satu sistem eksploitasi kelas buruh oleh Kaum Kapitalis.

[47] Abdullah Muslich Rizal Maulana, “Feminisme sebagai Diskursus Pandangan Hidup”, Jurnal Kalimah Vol. II, No. 2, September 2013, Hal. 275-276.

[48] Alison M. Jaggar, Sexual Difference and Sexual Equality, dalam Alison M. Jaggar

ed., Living with Contradictions: Controversies in Feminist Social Ethics, (Oxford: Westview Press, 1994), hal 23.

[49] Feminisme Psikoanalitis dan Eksistensialis terkadang juga menjadi dua macam tipologi yang berbeda, namun berkenaan dengan keterkaitan antara keduanya.

[50] JIll Steans, Gender And International Relations, (Cambridge: Polity Press: 1998), hal 22.

[51] Rosemarie Tong, Feminist Thought; A More Comprehensive Introduction. (Colorado: Westview Press, 2009), hal 23.

[52] Sarah Gamble, Postfeminisme, hal. 54.

[53] Ibid.

[54] Ibid.

[55] Ibid.

[56] Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Quran Menurut Perempuan.

[57] Adian Husaini, problematika Tafsir Feminis: Studi Kritis Konsep Kesetaraan Gender, At-Tahrir. Vol. 15 No. 2 November 2015, hal. 370.

[58] Amina Wadud, Quran Menurut Perempuan: Meluruskan Bias Gender dalam Tradisi, terj. Abdullah Ali (Jakarta: Serambi, 2001), hal. 33.

[59] Egaliter berasal dari bahasa Perancis egal yang berarti sama adalah kecendrungan cara berfikir bahwa penikmatan atas kesetaraan dari beberapa macam primis umum misalkan bahwa seseorang harus diperlakukan dan mendapatkan perlakuan yang sama pada dimensi seperti agama, politik, ekonomi, sosial atau budaya. Lihat. Wikipedia/pengertian Egaliterisme.

[60] Fadlan, Islam, Feminisme dan Konsep Kesetaraan Gender Dalam Al-Qur’an, KARSA, Vol. 19. No. 2 Tahun 2011, hal. 113.

[61] Adian Husaini, problematika Tafsir Feminis: Studi Kritis Konsep Kesetaraan Gender, At-Tahrir. Vol. 15 No. 2 November 2015, hal. 370.

[62] Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan Gender Perspektif Al-Qur’an, (Jakarta: Paramadina, 2001), hal. 248.

[63] Fadlan, Islam, Feminisme dan Konsep Kesetaraan Gender Dalam Al-Qur’an, KARSA, Vol. 19. No. 2 Tahun 2011, hal. 114-115.

[64] Masdar F. Mas’udi, Islam dan Hak-hak Reproduksi Perempuan: Dialog Fiqih Perempuan (Bandung: Mizan, 1997), hlm. 29-31

[65] Hamid Fahmy Zarkasyi, Liberalisasi Pemikiran Islam, (Gontor, Center for Islamic and Occidental Studies-CIOS-ISID), hal. 112-113. Lihat juga, Counter Legal Graft, Kompilasi Hukum Islam, disusun oleh tim pimp. Dr. Musda Mulia, Litbang Departemen Agama. Dan usulan ini kemudian dibatalkan oleh Mentri Agama Maftuh Basuni.

2 Comments

  1. Pingback: Tips Persiapan Menyambut Bulan Suci Ramadhan, Rugilah Bagi yang tidak Melakukan Ini

  2. Pingback: Nasihat Imam al-Ghazali tentang Makna Kebahagiaan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *