Tips Persiapan Menyambut Bulan Suci Ramadhan, Rugilah Bagi yang tidak Melakukan Ini

Tips Persiapan Menyambut Bulan Suci Ramadhan, Rugilah Bagi yang tidak Melakukan Ini

afi.unida.gontor.ac.id.- Tidak terasa kini kita telah berada di bulan Sya’ban, itu artinya sebentar lagi kita mendekati bulan suci Ramadhan, bulan yang penuh dengan berkah, rahmat, dan maghfirah. Banyak keistimewaan-keistimewaan yang terdapat di bulan Ramadhan, maka tak heran jika semua orang muslim akan sangat menantikan bulan suci ini.

Dijelaskan dalam suatu riwayat bahwa Usamah bin Zaid menceritakan:

Aku bertanya kepada Rasul; ‘Wahai Rasulullah aku tidak melihatmu banyak berpuasa seperti di bulan Sya’ban?’, kemudian beliau menjawab; ‘Sya’ban adalah bulan yang suka dilupakan banyak orang, letaknya antara Rajab dan Ramadhan. Di bulan tersebut amal manusia di angkat (ke langit), oleh Allah Swt dan aku menyukai pada saat amal di angkat aku dalam keadaan berpuasa’.
HR. An-Nasa’i

Nah, pertanyaannya, bagaimana agar kita bisa optimal dalam melaksanakan ibadah puasa Ramadhan? Tentu kita harus benar-benar mempersiapkan diri, berikut tips dalam persiapan menyambut bulan suci Ramadhan.

Persiapan Diri Secara Maksimal
  • Persiapan Mental

Persiapan mental untuk puasa dan ibadah sangatlah penting. Apalagi pada saat menjelang hari-hari terakhir karena tradisi yang ada di Indonesia banyak persiapan yang kerap kali dilakukan untuk menyambut hari raya, seperti; membuat kue lebaran, pulang kampung, persiapan hari raya, dll.

Baca juga: Sains Islam Sebagai Shibghah Umat

Hal ini sangat mempengaruhi umat Islam dalam menunaikan kekhusu’an ibadah Ramadhan, karena di penghujung Ramadhan menjadi titik penentu suksesnya dalam menjalankan ibadah Ramadhan yang banyak di isi dengan i’tikaf dan taqarrub.

  • Persiapan Ruhiyah (Spiritual)

Persiapan ruhiyah dalam dilakukan dengan memperbanyak ibadah, seperti memperbanyak membaca al-Qur’an, puasa sunnah, zikir, berdo’a, dll. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah dengan memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Aisyah r.a. berkata;

“Saya tidak melihat Rasulullah menyempurnakan puasanya, kecuali di bulan Ramadhan dan saya tidak melihat dalam satu bulan yang lebih banyak puasanya kecuali pada bulan Sya’ban”
HR. Muslim

  • Persiapan Fikriyah

Persiapan fikriyah atau akal dilakukan dengan mendalami ilmu, khususnya ilmu yang berkaitan dengan ibadah Ramadhan. Banyak orang yang berpuasa tidak menghasilkan kecuali lapar dan dahaga. Hal ini dilakukan karena puasanya tidak dilandasi dengan ilmu yang cukup, seseorang yang beramal tanpa ilmu, maka tidak menghasilkan kecuali kesia-siaan belaka.

  • Persiapan Fisik dan Materi

Seorang muslim tidak akan mampu atau berbuat maksimal dalam berpuasa jika fisiknya sakit. Oleh karena itu mereka dituntut untuk menjaga kesehatan fisik, kebersihan masjid dan lingkungan. Rasulullah mencontohkan kepada umatnya agar selama berpuasa tetap memperhatikan kesehatan.

Sarana penunjang lainnya yang harus disiapkan adalah materi, sebagai bekal dalam ibadah Ramadhan. Idealnya seseorang muslim telah menabung selama 11 bulan lamanya sebagai bekal ibadah Ramadhan, sehingga ketika datang Ramadhan mampu memfokuskan ibadahnya untuk lebih ditingkatkan lagi.

Merencanakan peningkatan Prestasi Ibadah (Syahrul ibadah)

Ibadah Ramadhan dari tahun ke tahun harus ditingkatkan. Tahun depan harus lebih baik dari tahun ini dan tahun ini harus lebih baik dari tahun lalu. Ibadah Ramadhan yang kita lakukan harus dapat mengubah dan memberikan output yang positif. Perubahan pribadi, perubahan keluarga, perubahan masyarakat dan perubahan sebuah bangsa.

Allah SWT, berfirman;

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”
QS. ar-Ra’du, Ayat 11

Di antara bentuk-bentuk peningkatan amal ibadah seorang muslim di bulan Ramadhan, misalnya; peningkatan ibadah puasa, peningkatan dalam tilawah al-Qur’an, hafalan, pemahaman dan pengamalan.

Baca juga: Feminisme Dalam Pandangan Islam; Analisis Gerakan Feminisme

Peningkatan dalam aktivitas sosial seperti; infaq, memberi makan kepada tetangga dan fakir-miskin, santunan terhadap anak yatim, beasiswa terhadap siswa yang membutuhkan dan meringankan beban umat Islam dan juga merencanakan untuk mengurangi pola hidup konsumtif.

Mengutamakan Ukhuwah Islamiyah dan persatuan Umat Islam

Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan rahmat, dimana kasih sayang dan persaudaraan harus diutamakan dari yang lainnya. Ukhuwah Islamiyah adalah prinsip dari kebaikan umat Islam, sehingga ibadah Ramadhan harus memiliki dampak pada ukhuwah Islamiyah, namun tetap berlandaskan dengan al-Qur’an dan Sunnah Nabi.

Ukhuwah Islamiyah dan persatuan umat Islam harus lebih penting. Maka diperlukan sikap bijaksana dalam menyikapi perbedaan pendapat yang akan menimbulkan perpecahan.

Menjadikan Ramadhan sebagai Syahrul Taubah (Bulan Taubat)

Bulan Ramadhan adalah bulan dimana syaitan dibelenggu, hawa nafsu dikendalikan dengan puasa, pintu neraka ditutup dan pintu surga dibuka. Sehingga bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat kondusif untuk bertaubat dan memulai hidup baru dengan langkah baru yang lebih Islami.

Taubat berarti meninggalkan kemaksiatan, dosa dan kesalahan serta kembali kepada kebenaran. Atau kembalinya hamba kepada Allah, meninggalkan jalan orang yang dimurkai dan jalan orang yang sesat.

Taubat bukan hanya terkait dengan meninggalkan kemaksiatan, tapi juga terkait dengan pelaksanaan perintah Allah. Orang yang bertaubat masuk kelompok yang beruntung. Allah SWT, berfirman dalam al-Qur’an:

“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”
QS. an-Nuur, Ayat 31

Oleh karena itu, di bulan Ramadhan orang-orang beriman harus memperbanyak istigfar dan taubah kepada Allah. Mengakui kesalahan dan meminta maaf kepada sesama manusia yang pernah dizaliminya serta mengembalikan hak-hak mereka. Taubah dan istigfar menjadi syarat utama untuk mendapatkan maghfirah (ampunan), tamat dan karunia Allah SWT.

“Dan (dia berkata): ‘Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertaubatlah kepadanya-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa’”.
QS. Hud, ayat 52

Menjadikan Bulan Ramadhan Sebagai Syahrul Tarbiyah, Dakwah

Bulan Ramadhan harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh para seluruh umat Islam untuk melaksanakan dakwah dan tarbiah. Terus melakukan gerakan reformasi (Harakatul Islah). Membuka pintu-pintu hidayah dan menebar kasih sayang bagi sesama. Meningkatkan kepekaan untuk menolak kezhaliman dan kemaksiatan.

Menebarkan syi’ar Islam dan meramaikan masjid dengan aktivitas ta’lim, kajian kitab, diskusi, ceramah, dll. Hingga sampai terwujudnya perubahan-perubahan yang esensial berupa hal-hal yang positif dalam berbagai bidang kehidupan.

Ramadhan bukan bulan istirahat yang menyebabkan mesin-mesin kebaikan berhenti bekerja, tetapi menjadi momentum dalam memupuk semangat dan menebarkan kebajikan, tidak hanya selama bulan Ramadhan, tetapi juga di luar Ramadhan semangat kebaikan tersebut harus tetap untuk bahkan harus ditingkatkan.

Mengambil Keberkahan Ramadhan Secara Maksimal

Ramadhan adalah bulan penuh berkah dari segala sisi kebaikan. Oleh karna itu, umat Islam harus mengambil segama keberkahan Ramadhan dari segala aktivitas positif dan dapat memajukan Islam dan umat Islam. Namun aktivitas yang bernilai positif tersebut jangan sampai mengganggu kekhusu’an ibadah Ramadhan terutama di 10 hari terakhir di bulan Ramadhan.

Menjadikan Ramadhan Sebagai Syahrul Muhasabah (Bulan Evaluasi)

Dan terakhir, semua ibadah Ramadhan yang telah dilakukan tidak boleh lepas dari muhasabah atau evaluasi. Muhasabah terhadap langkah-langkah yang telah kita perbuat dengan senantiasa menajamkan mata hati (bashirah), sehingga kita tidak menjadi orang/kelompok yang selalu mencari-cari kesalahan orang lain tanpa mau mencermati perbuatan kita sendiri yang mungkin lebih jelas kesalahannya.

Semoga Allah Senantiasa menerima segala amal saleh yang kita lakukan, mudah-mudahan tulisan ini dapat membangkitkan semangat beribadah kita semua. Wallahu a’lam

Penulis & Editor : Joko Kurniawan

3 Comments

  1. Pingback: Memahami Makna Adab

  2. Pingback: Teosofi Qur'an; Meneropong Corak Filsafat Nursi

  3. Pingback: UNIDA dan Kajian Islam, Iman, Ihsan di tengah Kepanikan Masa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *