Silatul Falsafah UGM dan UNIDA Gontor

Silatul Falsafah UGM dan UNIDA Gontor

afi.unida.gontor.ac.id.- Hari ini 30/04/19 Kaprodi Aqidah dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin mendapatkan kehormatan menemani Fungsionaris Prodi Aqidah dan Filsafat Islam S2, S3, dan Prodi HES S2 menyambut kunjungan istimewa dari Fakultas Filsafat Universitas Gajah Mada Yogyakarta dalam rangka studi banding pengembangan kefilsafatan dalam bidang akademik dan non akademik.

Hadir dalam acara ini Dr. Hamid Fahmy selaku Direktor Pasca sarjana yang sekaligus memberikan sambutan dan selamat datang. Dalam sambutannya, Dr. Hamid Fahmy memberikan ulasan singkat konsep Islamisasi yang menjadi program UNIDA yang salah difahami sebagian orang. Islamisasi simple, bukan anti barat sama sekali, tetapi mengambil sisi positif dalam ilmu barat, lalu mengintegrasikan dengan nilai Islam, dilanjutkan dan membuang sisi negatif.

Baca juga : Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM) Kunjungi Pascasarjana UNIDA Gontor

Proses mengambil ini membutuhkan ilmu. Islamisasi juga bukan labelisasi. Beliau menyatakan; “Islamisasi kita ini bukan ayatisasi, otak-atik matuk…tapi asasnya epistemologi. Jadi bukan islamisasi saintek, islamisasi sepeda motor, Islamisasi, pesawat”.

Dr. Hamid juga menyatakan bahwa posisi prodi AFI pada tingkat S1,S2, dan S3 di UNIDA menempati garda terdepan dalam agenda Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer. Mahasiswa AFI S1 dituntut memahami konsep-konsep dasar dan perbedaan worldview Islam dan Barat, AFI S2 mampu mengintegraaikan berbagai konsep dalam disiplin Ilmu, sedangkan pamungkasnya adalah AFI S3 yang diwajibkan mampu menemukan teori dan konsep baru dalam bidang ilmu sebagai hasil Islamisasi.

Kekhasan AFI Unida jika dibandingkan dengan yang lain adalah menjadikan Aqidah dan kalam sebagai induk pengetahuan. Ada aspek-aspek epistemologi dalam Aqidah. “Theologi itu basis ilmu dalam Islam, makanya kita membangun epistemologi yang dasarnya theologi,…. membangun ilmu dengan asas keyakinan bukan dengan keraguan”, Terang beliau.

Dr. Farid yang mewakili Filsafat UGM dalam sambutanya menjelaskan core Fakultas ini. Beliau menyatakan bahwa materi-materi filsafat barat dan timur dipelajari di UGM sebagai muqaddimah menuju Filsafat Nusantara, lebih spesifik lagi Filsafat Pancasila. “Tapi semuanya nanti muaranya adalah penguatan filsafat pancasila”.

Pakar Filsafat Agama yang juga jebolan Jerman ini juga memuji sistem Pondok Gontor. Bagi mereka sistem pendidikan yang ideal adalah sistem pesantren, dimana ada hubungan spiritual antara mursyid dan murid. “Kalo diluar, dosen menerangkan, mahasiswanya main HP”.

Baca juga : KEREN, PERTAMA KALI DI UNIDA DKP AWARD 2019

Acara yang berlangsung mulai pukul 10.00-12.00 ini berlangsung cukup akrab, tak jarang diselingi dengan gelak tawa. Kedua belah lihat sepakat akan terus melaksanakan kerjasama, tukar menukar dosen, penelitian bersama, bahkan ada usul menerbitkan jurnal bertajuk “theological epistemologi” yang terbilang jarang. Ditutup dengan do’a dan perfotoan.

Rep : Moh. Isom Mudin
Ed : Nabila Huringiin

One comment

  1. Pingback: Nasehat Untuk Ketua Baru | Tips Memimpin Suatu Organisasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *