Apel Tahunan UNIDA Gontor: Kesyukuran, Keteguhan Nilai dan Agenda Literasi Kita

Apel Tahunan UNIDA Gontor: Kesyukuran, Keteguhan Nilai dan Agenda Literasi Kita

Oleh: Muhammad Faqih Nidzom

Dalam Apel Tahunan Pekan Perkenalan Khutbatul ‘Arsy kali ini, Pondok Modern Darussalam Gontor mengangkat tema “Gontor Garda Terdepan Membina Bangsa, Mempertahankan Peradaban”. Tema ini juga berlaku untuk semua kampus cabang Gontor, tak terkecuali Universitas Darussalam (UNIDA Gontor)

Perlu ditekankan, Gontor adalah lembaga pendidikan. Maka maksud Gontor membina bangsa ini adalah lewat pendidikan. Ya, Gontor mendidik kader-kader bangsa dengan pendidikan yang sesuai dengan falsafah pendidikannya sendiri. Falsafah ini berdasarkan pada pemahaman akan hakikat pendidikan, yang kemudian memberikan corak dan pelaksanaan pendidikan.

Baca juga : Ukhuwwah Islamiyyah dalam LKBB: Analisa Panca Jiwa Pondok Modern Darussalam Gontor dan Islamic Worldview

Falsafah pendidikan Gontor tergambar dalam arah dan tujuan pendidikan yang ia canangkan. Yaitu membentuk pribadi beriman, bertakwa dan berakhlaq karimah yang dapat mengabdi pada umat dengan penuh keikhlasan dan berperan aktif dalam memberdayakan masyarakat. Dan secara garis besar, arah dan tujuan pendidikan di Gontor adalah Pendidikan Kemasyarakatan, Kesederhanaan, Tidak Berpartai, dan Menuntut ilmu karena Allah.

Ustadz KH. Hasan Abdullah Sahal dalam amanatnya juga menegaskan orientasi pendidikan tersebut. Misalnya dalam pernyataan beliau berikut: “Alhamdulillah Gontor aman, karena selalu mencetak kader ulama yang istiqomah, merawat wasathiyatul Islam, modernisasi pola dan sistem serta pola kemasyarakatan.”

Kesyukuran dan Kesyukuran

Pada Apel Tahunan Khutbatul Arsy di UNIDA Gontor kali ini (29/7), Ustadz K.H. Hasan Abdullah Sahal kembali mengajak semua yang hadir untuk bertahadduts binni’mah. Bagaimana tidak, Gontor dalam menuju 100 tahun tetap eksis, hidup bergerak, maju berkembang dan bermanfaat, insyāAllāh.

Apel Tahunan UNIDA Gontor: Kesyukuran, Keteguhan Nilai dan Agenda Literasi Kita

Diantara kesyukuran itu, Gontor tetap konsisten dengan keunggulannya; kekitaannya. Hal ini sangat tampak dalam kebersamaan, pengorbanan, toleransi, mendahulukan maslahat bersama, dan pemerataan pemberdayaan.

Namun Ustadz Hasan juga mengingatkan agar kita tidak terlena oleh kuantitas dan pengakuan-pengakuan dari orang lain. “Justru agar berusaha dan berupaya agar berpredikat benar-benar berkualitas”, pesan beliau.

Kekuatan Niat dan Semangat

Apa yang mesti kita lakukan? Beliau menyebut, kesungguhan dalam setiap pekerjaan adalah nyawa dinamo keberhasilan. Meningkatkan sense of belonging, sense of responsibility, Lillah karena Allah Swt. juga teramat penting.

“Maka tugas kita bersama untuk selalu membangkitkan semangat diri, mengeksplor, mengembangkan minat bakat mahasiswa, serta keluarga besar Pondok Modern Darussalam Gontor”, ujar beliau dalam even apel tahunan kali ini.

Tak lupa beliau menuturkan, hanya kekuatan niat dan semangat yang menentukan, bukan kemasyhuran dan popularitas atau fasilitas. Hal ini yang semestinya menjadi pertimbangan semua alumni Gontor ketika terjun dalam pengabdian di luar, terlebih bagi mereka yang akan mendirikan pondok atau lembaga pendidikan.

Nilai Gontory dan Agenda Literasi Kita

Dalam Kuliah Umum babak III kemarin (30/07), Ustadz Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi menjelaskan keunikan Gontor sebagai super-system. Di dalamnya terdapat sekian banyak sistem yang khas dan unik dalam berbagai bidang.

Misal, untuk menyebut diantaranya, sistem kaderisasi, sistem ekonomi proteksi, sistem wakaf, sistem pengajaran dan pendidikan, sistem kepemimpinan dsb, bahkan sistem kehidupan secara umum.

Kesemuanya sistem itu dijaga oleh nilai-nilai dan SDM yang dikader dengan konsisten. Hal ini menjadi perhatian para akademisi, sehingga banyak yang ingin meneliti di Gontor, dalam berbagai aspek sistem tadi, baik di tingkat skripsi, thesis bahkan disertasi.

Di Gontor, nilai-nilai islami yang menjiwai SDM dan menjaga sistem tadi bukan sekadar slogan yang ditempel, diucapkan dan dihapal. Dalam arti, disini tidak perlu definisi keikhlasan dan kesederhanaan, persaudaraan, kemandirian dan kebebasan, tapi semua penghuninya hidup dengannya, dalam setiap gerak aktifitas.

Baca juga : INI DIA SOSOK DIBALIK PENAMPILAN MEMUKAU PADUAN SUARA UNIDA GONTOR PADA ACARA KHUTBATU-L-ARSY

Nilai dan jiwa itu mewujud dalam perbuatan, visi bermanifestasi dalam aksi. Ini yang disebut Dr. Hamid dengan Living Wisdom. “We live in wisdom. We are the living wisdom. Ya, kita hidup dalam hikmah, dan kita adalah hikmah yang hidup”, begitu ungkap beliau.

Ini keunikan Gontor. Beliau berharap super-system yang khas tadi ada yang menuliskannya secara konseptual, menjadikannya sebagai tantangan literasi santri Gontor ke depan.

(BERSAMBUNG…)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *