“Guru Ngaji” Versi Falsafah Gontory

“Guru Ngaji” Versi Falsafah Gontory

afi.unida.gontor.ac.id – “Jadilah kalian orang besar, jadilah pemimpin” adalah pesan implisit yang diamanatkan Gontor kepada para santrinya, kata Dr.Hamid Fahmy Zarkasyi dalam acara kesyukuran akhir dari Ujian Tengah Semester. Tapi apa arti orang besar menurut Gontor? Tanya beliau.

Menurut beliau asal usul istilah “orang besar” itu dari ucapan KH.Imam Zarkasyi ketika ditanya seorang tamu:“Berapa alumni Gontor yang menjadi orang besar?”

Pertanyaan ini dapat difahami sebagai suatu “sindiran” atau tantangan. Maka dari itu jawaban KH.Imam Zarkasyi tentu diluar dugaan tamu yang bertanya.

Baca juga Penutupan UTS 2019, Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.A:”Jadilah Pemimpin!”

KH.Imam Zarkasyi menjawab dengan bahasa diplomatis “Bagi kami orang besar itu bukanlah orang yang memiliki jabatan tinggi, harta yang melimpah, dikenal dimana-mana dan disorot televisi. Bagi kami alumni yang ikhlas mengajar sebagai “guru ngaji” walau di surau kecil disuatu kampung terpencil itu adalah orang besar. Insya Allah surganya tidak kalah dengan yang menjadi menteri”. Begitu kalau tidak salah jawaban beliau.

Al-Ustadz Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi menjelaskan bahwa ungkapan Almarhum Pak Zar tersebut mengandung bahasa metaforis, atau bahasa yang dimaknai suatu kata yang tidak mengandung arti sebenarnya. Sebab “Guru Ngaji” yang sekedar kita tahu adalah guru yang mengajarkan huruf hijaiyah dan tajwid beserta seluruh atribut dalam pembelajaran Al-Qur’an.

Tentu cita-cita pendiri Gontor dalam konteks peradaban Islam, tidak sekedar itu. Arti “Guru Ngaji” yang Pak Zar inginkan sebenarnya adalah adalah “pejuang” yang mengajar umat. Konon, Pak Zar sering berpesan, agar anak-anak setelah tammat nanti tidak lupa mengajar. Selain itu jika kita memahami motto pondok modern Gontor kriteria “Guru Ngaji” itu adalah yang memiliki akhlaq yang mulia, badan yang sehat, pengetahuan yang luas dan berfikiran bebas dan kreatif.

Motto ini adalah kriteria seorang “ulama mujtahid” dan mujahid atau “pejuang” yang berakhlaq mulia, ikhlas berjuang, hidup sederhana dan mandiri, menjadi perekat umat berjiwa ukhuwwah dan tidak terikat oleh lembaga atau partai politik manapun.

Menurut beliau jika terdapat alumni yang bercita-cita kembali ke kampung halaman, itu tidak salah. Akan tetapi tidak semua alumni harus kembali ke pelosok-pelosok desa dan memimpin desa. Bangsa dan umat ini memerlukan pemimpin yang menjadi pemimpin umat dan bangsa ditingkat nasional.

Filsafat Gontor mengajarkan bahwa manusia pejuang itu adalah satu orang yang bernilai seribu, artinya kita diajarkan untuk menjadi pemimpin bagi sebanyak banyak orang, minimal seribu orang”.

Jika pulang ke kampung, yang akan dipimpin tidak sebanyak kalau ia ke kota atau ibukota menjadi pemimpin bangsa dan umat.

“Masalah Umat yang kompleks ini tidak serta-merta selesai jika hanya diselesaikan dari kampung” tegas beliau.

baca juga TIPS DARI DR. HAMID FAHMY ZARKASYI; MENJAWAB TANTANGAN MAHASISWA DI ERA MILENIAL

Maka dari itu beliau menjelaskan bahwa tujuan “Program Kaderisasi Ulama” di UNIDA bukan hanya untuk kader ulama yang akan menyelesaikan masalah di pelosok-pelosok kampong, tapi utamanya sebagai garda terdepan memberantas pemikiran-pemikiran kaum liberal dan sekuler yang menjamur dikota-kota besar. Masyarakat perkotaan yang terpelajar itulah yang nanti berpotensi menjadi pemimpin bangsa ini. Oleh sebab itu kita harus mendidik dan meluruskan serta memimpin mereka kearah pemahaman Islam yang benar.

Maka, sebagai santri, alumni, guru-guru bahkan semua yang telah mengenal nilai-nilai Gontor; jangan lah mengartikan “kembali ke kampung” kembali ke desa-desa. Karena, ladang perjuangan kita tidak terbatas oleh areal tertentu. Yang kapasitas kembali ke desa-desa silahkan, tapi yang potensinya memimpin negeri ini anda harus memulai dari perkotaan. Akan tetapi poin pentingnya terletak pada perjuangan dan keikhlasan dalam menyampaikan nilai-nilai Al-Quran. Itu tafsir dari guru “Ngaji”.

[Rep : Nabila Huringiin, Prodi AFI]
Dirangkum dari sambutan Al-Ustadz Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi saat acara Tasyakuran Ujian Tengah Semester-Kamis, 24 Agustus 2019-Main Hall Lt.4

2 Comments

  1. Pingback: Ustadz Khoirul Umam: "Hal Kecil Bisa Bernilai Besar", Ini Syaratnya..

  2. Pingback: Pemimpin Idaman Ala Gontor

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *