Buku Mawaqif: Suatu Penghantar Bagi Ilmu Kalam

Buku Mawaqif: Suatu Penghantar Bagi Ilmu Kalam

afi.unida.gontor.ac.id Sabtu pagi tanggal 10 Rabiul Akhir 1441 bertepatan dengan 7 Desember 2019, bedah buku Mawaqif dilaksanakan di Universitas Darussalam Gontor. Buku Mawaqif Beriman dengan Akal Budi ini dibedah oleh penulis buku, beliau adalah Dr. Henri Shalahuddin, M.IRKH. Buku ini juga sebagai penghantar Ilmu Kalam.

Beliau merupakan alumni UNIDA yang dahulu dikenal dengan Institut Studi Islam Darussalam atau ISID. Dr. Henri Shalahuddin, M.IRKH. mendapat sanad Ilmu Kalam dari Rektor Universitas Darussalam Gontor, Prof. Dr. Amal Fathullah Zarkasyi, M.A.

Tamatan Progran Studi Aqidah dan Filsafat Islam ini, menyelesaikan studi di KMI satu masa dengan salah satu Dosen yang berpengaruh di kalangan mahsiswa, Al-Ustadz Hasib Amrullah, M.Ud. Pembedah buku Mawaqif ini berasal dari Bojonegoro.

Mahasiswa dan dosen UNIDA menghadiri bedah buku yang dilaksanakan di Auditorium Gedung Utama. Bedah buku kali ini hadir juga mahasiswa dari universitas lain, di sekitar Ponorogo.

Sambutan Menarik dari Sahabat Qorib

Al-Ustadz Hasib Amrullah, M.Ud. dalam sambutannya menyatakan: “mengapa saya memandang Unida kita lebih baik dari yang lain?”. “Karena Universitas kita memiliki orientasi yang sama. Dan mengapa seminar ini digelar untuk fakultas ushuluddin?

“Agar kita dapat menyatukan ide-ide dengan fakultas yang lain. “forum Sabtuan untuk membangun poros Universitas kita”. Begitulah sedikit ulasan dari Ust. Hasib Amrullah, M.Ud sewaktu menyampaikan sambutan kepada seluruh peserta.

Al-Ustadz Sohibul Mujtaba, M.Ud. sebagai moderator, memulai bedah buku dengan kalimat tanya: “Mengapa Dr. Henri mempunyai gelar Pendekar gender?” Pertanyaan yang muncul karena Dr. Henri yang memiliki pakar di bidang Ilmu Kalam. dan Beliau menukas dengan jawaban “karena gender ini masih satu bahasan dengan ilmu kalam. Dan gender ini merupakan tantangan pemikiran” ulas Moderator.

“Dan karena ketidak-mampuan kita dalam menetukan apa yang menjadi prioritas dalam hidup dan apa yang tidak menjadi prioritas dalam hidup”. Moderator menambahkan. Al-Ustadz Shohibul Mujtaba, M.Ud, memberi solusi bagi permasalahan diatas dengan pernyataan “Yang bisa menyembuhkan penyakit-penyakit tersebut bukan berupa obat-obatan akan tetapi, berupa ilmu kalam (مثل علم الكلام كمثل الدواء).

Pantun Hangat dari Moderator

Pembukaan beliau diakhiri dengan pantun “Ke Ponorogo niatnya nyatri, nyantrinya sama Kyai. Monggo Ust. Henri, materinya sudah dinanti”.

Dr.Henri Shalahuddin mengawali bedah buku Mawaqif ini dengan sebuah petanyaan “Beriman harus dengan akal budi, kenapa?”. Pertanyaan yang membuat para hadirin kebingungan dan mulai berfikir.

Beliau menyuguhkan pertanyaan kedua, “kenapa bukan akal sehat? “Karena akal yang sehat, mudah digunakan untuk pekerjaan yang tidak sehat” jawab beliau langsung mencairkan suasana.

Tujuan bedah buku Mawaqif ini adalah memperkenalkan betapa pentingnya peran Ilmu Kalam agar dipelajari dan dapat mengokohkan pondasi akal budi. Dan memberi pemahaman akan peranannya yang dapat memberikan al-amnu al-fikri atau keamanan berfikir.

ketika al-amnu al-fikri ini hilang di dalan suatu pribadi atau masyarakat, maka hilanglah al-iqtisodi atau keyakinan, dan merembet kepada hilangnya suatu pendangan hidup dan jalan hidup, maka hidup akan tidak harmonis.

Mawaqif, Penghantar Ilmu Kalam dan Tujuannya

Dr. Hendri Shalahuddin, M.IRKH. menulis buku Mawaqif dengan berbagai faktor diantaranya:

  1. Anggapan dari Umat Islam bahwa agama & keyakinan itu urusan pribadi atau ranah pribadi.
  2. Adanya kebingungan kolektif dalam menyikapi hal-hal yang seharusnya diselesaikan melalui diskusi & argumentasi, namun malah dengan adu mubahalah, stigmatisasi, sumpah pocong dan lain-lain.
  3. Karancuan dalam mendudukkan suatu perbedaan antara yang bersifat variatif (furu’iyyat & usuliyyat)
  4. Kepedulian kepada Ilmu Kalam yang rendah.

Pertanyaan, Jawaban dan Solusi

Dalam bedah buku kali ini sesi pertanyaan diisi dengan pertanyaan yang menarik. Pertanyaan pertama dari dosen UNIDA yaitu Al-Ustadz. Saiful yang bertanya tentang “kecenderungan Umat Islam dalam menghukumi wilayah Akidah dengan Fatwa”. Apakah porsinya sudah tepat?”

Pertanyaan kedua dari Alumni Program Studi Teknologi Informatika UNIDA Gontor, Hisyam Ataya bertanya mengenai “sosial media; pertarungan dalil sampai memilih antara Nabi Muhammad SAW atau Ulama?” “Bagaimana cara mencegah mereka yang saling memboikot?” tanyanya sambil menjelaskan.

“Tidak bisa kita lansung menghakimi, lihat alasannya atau kepercayaannya. Contoh: masalah sholat yang diqodho.” Jikalau dia percaya tidak wajib (itu masuk ke aqidah), jika karena malas (masuknya ke fiqh)” jawab pemateri untuk pertanyaan pertama.

Beliau menjawab pertamyaan ke dua dengan peryataan “Biarkan saja mereka, mungkin masih dalam keadaan nafsu, nafsu berdebat, nafsu memboikot, nafsu menjatuhkan, yang saya sarankan, mencegah diri dulu untuk tidak nimbrung. Niat mau menasehati malah dinasehati. Habis waktu kita dalam menseriusi semua yang ada di media sosial” jawabnya memberi saran yang tepat.

Bedah buku kali ini berjalan tertib dan khidmat. Pembedah buku sangat menghibur dari cara Dr. Hendri Shalahuddin, M. IRKH membawa para peserta untuk mau ikut berfikir dengan memberi hal-hal yang tidak terpikirkan sampai hadirin sepakat dengan beliau.

Reporter Mohammad Arsyad Naufal
Mahasiswa AFI Semester II
Diedit oleh Hanif Maulana Rahman

Lihat Juga:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *