Revisi Format RPS dan Dimensi Iman, Ilmu dan Amal

Revisi Format RPS dan Dimensi Iman, Ilmu dan Amal

Oleh: Muhammad Faqih Nidzom
Dosen Islamisasi Universitas Darussalam Gontor

afi.unida.gontor.ac.id-Baru-baru ini, kami mendapatkan tugas merevisi Rencana Pembelajaran Semester (RPS) untuk beberapa mata kuliah Islamisasi Ilmu yang merupakan mata kuliah wajib Universitas. Jika sebelumnya ada deskripsi matkul, tema-tema bahasan, referensi dan metode pembelajaran, kali ini ditambah dengan satu item; kriteria dan bentuk perilaku. (merujuk ke Tim Pengembang Kurikulum Perguruan Tinggi Berbasis SN-Dikti Kopertais IV Surabaya).

Seperti pada umumnya, kita sudah maklum bahwa pengajaran tidak hanya berhenti pada aspek kognitif, menyampaikan pengetahuan, melainkan harus sampai pada aspek afektif (pembentukan sikap) dan psikomotorik (perilaku/perbuatan). Inilah tugas kami, menuliskan secara eksplisit kriteria dan bentuk perilaku mahasiswa sebagai capaian akhir, di tiap tema yang diajarkan tiap pertemuannya.

Setelah memulai mengerjakan, ternyata saya menemui beberapa kesulitan. Dalam beberapa tema, ternyata tidak mudah menentukan bentuk perilakunya. Menarik untuk diberikan catatan sekaligus bahan muhasabah untuk saya pribadi dan kita secara umum.

Pertama; sudahkah kita memikirkan secara serius dan menyusunnya dengan sistematis untuk mahasiswa kita? Jika pertanyaan ini diajukan kepada saya pribadi, maka jawabannya “belum”.

Perlu kiranya kita meneladani para ulama kita. Misalnya dalam pembahasan tentang bab Qadha’ dan Qadar dalam Aqidah Islam (diajarkan di matkul Worldview Islam I), selain definisi, dalil, dan konsep secara umum, mereka juga menulis secara rinci tentang hikmahnya. Kadang dibahasakan dengan buah, faedah, keutamaan, rahasia atau falsafahnya. Jika kita telaah, bahasan ini pun memilki cakupan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.

Dari buku-buku ulama kita, misalnya karya Sulaiman al-Asyqar, Hasan Habanakkah al-Maidani, Said Ramadhan al-Buthi dan banyak lagi, akan kita dapati di antara hikmah iman kepada Qadha dan Qadar Allah swt, yaitu melatih diri untuk senantiasa bersikap dan berlaku syukur dan sabar sekaligus, karena keberuntungan dan ujian semuanya merupakan ketentuan-Nya. Lebih dari itu, iman ini memupuk sifat optimis dalam diri kita, giat bekerja, dan menghilangkan kemalasan serta berhati-hati dalam bertindak. Sehingga, setiap amalan kita memulainya dengan doa, dibarengi dengan harapan, dan diikuti dengan tawakkal.

Guru kami, Ustadz M. Kholid Muslih menyusun RPS matkul Agrotech in Islam, yang salah satu bahannya adalah seluk beluk irigasi serta urgensinya dalam pertanian. Untuk kriteria dan bentuk perilaku tema ini beliau menulis; 1. Timbul kesadaran mahasiswa akan pentingnya air dalam kehidupan, 2. Peduli terhadap air sebagai sumber irigasi, dan 3. Waspada akan bahaya pencemaran atau kekurangan air, dst.

Inilah beberapa contoh yang barangkali relevan untuk kita cermati dan amalkan bersama. Setidaknya, tugas revisi RPS ini menjadi stimulus bagi kita untuk mengkaji dan menelaah kembali khazanah intelektual para ulama kita terdahulu. 

Muhasabah kedua; pernah kan kita mendapati diri kita, atau mahasiswa kita, melakukan hal yang bertentangan dengan hal-hal yang kita ajarkan di kelas? Mengapa demikian?

Misalnya dalam mata kuliah Epistemologi Islam, kita ajarkan mereka Khabar Shadiq sebagai satu metode transmisi ilmu dan kebenaran, di mana di dalamnya diajarkan tentang otoritas keilmuan, sikap kritis dan selektif terhadap berita, serta keterkaitan erat antara ilmu dan adab.

Tapi sebaliknya, ada dari mereka yang kurang ta’dzim kepada ulama, kepada tokoh tertentu, sebagian tidak menerima ilmu darinya hanya karena berbeda mazhab atau metode dakwah, ketika mendapati berita tertentu, di antara mereka dengan segera membagikannya, tanpa usaha memastikan validitas sumber dan kontennya, tidak ada tabayyun. Mungkin, mereka berilmu tapi masih memiliki sikap sombong, atau intelektualitasnya digunakan untuk merugikan manusia dan alam semesta.

Inilah beberapa hal yang perlu menjadi bahan renungan kita. Apakah dalam mengajar selama ini kita hanya terfokus pada aspek kognitif? Atau bahkan belum memikirkan secara sistematis sama sekali untuk aspek lainnya? Kalau sudah, barangkali kita belum bisa menjadi teladan dalam mengamalkan kebaikan yang kita ajarkan?

Kampus ini punya segenap pendukung untuk tercapainya proses pendidikan yang baik, di dalam dan di luar kelas. Dengan usaha maksimal dosen dalam pengajaran, penyusunan materi, serta kesempatan untuk mengontrol mahasiswa setiap saat, akan memberi sumbangan peran dalam integrasi iman, ilmu dan amal. Semoga kita mampu memaksimalkan potensi tersebut.

Seperti yang Ustadz. Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi sering nasihatkan, bahwa iman harus melahirkan ilmu, ilmu menjadi penopang iman, amal kita pun berbasis keduanya, jadilah kita orang yang berilmu amaliyah dan beramal ilmiyah. Di kesempatan lain, dengan redaksi yang kurang lebih sama beliau menekankan, berislam tidak boleh berhenti pada ritual, tapi juga dalam intelektual dan meniscayakan keshalihan pribadi dan sosial. Semoga nasihat ini teraktualisasikan dalam diri kita, dan menularkannya kepada anak didik kita. Wallahu A’lam.

Artikel Lainnya:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *