Kriminalitas : Sebuah Problematika Antara Hak dan Kewajiban

Kriminalitas : Sebuah Problematika Antara Hak dan Kewajiban

afi.unida.gontor.ac.id-Salah satu masalah terbesar di seluruh negara saat ini adalah timbulnya berbagai macam bentuk kriminalitas yang mengacu pada perspektif hak asasi manusia. Kriminalitas ini mempunyai motif yang beraneka ragam, dan dapat dilihat secara jelas dengan mata awam. Umumnya, keberagaman ini diakari oleh kaum minoritas di suatu negara.

Ada dua faktor penyebab dirujuknya kelompok ini menjadi inti dalam kriminalitas tersebut. Pertama, termarginalkannya minoritas atas dictator mayoritas yang menindas mereka. Hal ini dapat  diargumentasikan dengan fakta actual mengenai kaum Muslim minoritas di suatu negara sekuler, yang bahkan berujung pada usaha-usaha genosida terhadap minoritas ini. Kedua, munculnya kaum minoritas yang menganggap diri mereka membutuhkan pengkauan atas keberadaan. Namun faktor ini mengalami interferensi, dikarenakan tidak semua minoritas faham akan hakikat manusia. Golongan ini muncul dikarenakan politik identitas mereka yang tertekan. Singkatnya, mereka beranggapan bahwa hak mereka harus dijunjung walaupun dengan kriminalitas sekalipun tanpa menyentuh ranah kewajiban manusia hakiki.

BACA JUGA : AMANAH WUJUD KETELADANAN

            Hak manusia memang harus sepadan dengan kewajiban yang patut dilakukan setiap individu. Hal ini seolah telah menjadi kausalitas dalam sebuah mu’amalah. Apabila kewajiban sudah terdeklamasi, hak-hak dengan sendirinya akan terpenuhi, dan apabila tidak sesuai kenyataan maka barulah dapat menuntutnya. Selain itu, perkembangan pemikiran manusia tentang hakikat dirinya membuahkan berbagai asumsi yang menyatakan bahwa adanya hak-hak asasi manusia nan serta merta mengiringi kelahiran manusia tersebut.

Menururt John Lock, seorang yang disebut-sebut sebagai bapak hak asasi manusia dalam Declaration of Human Right, Hak Asasi Manusia (HAM) memuat hak hidup, hak kemerdekaan, hak persamaan dan larangan, hak mendapatkan keadilan, hak mendapatkan proses hukum adil, dan lain sebagainya. Naasnya, pengetahuan tentang hak-hak ini tidak berintegrasi dengan eksistensi kewajiban asasi manusia. Sedangkan apabila dilihat dalam worldview Islam, hak manusia yang diberikan oleh Tuhan merupakan sebuah fasilitas khusus dari-Nya untuk mewujudkan tujuan penciptaan manusia, yaitu beribadah kepada-Nya dan menjadi khalifah di bumi.

BACA JUGA : TUHAN, ALAM DAN MANUSIA DALAM FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM

Kesimpulannya, dalam penuntutan hak asasi ini, kaum-kaum minoritas yang menodong pengakuan keberadaan tadi, mengalami kepincangan aspek dasar penetas hak-hak itu sendiri.

            Apabila merujuk pada kalam-kalam yang mengungkapkan bahwa hak asasi sudah ada sejak manusia itu lahir, situasi yang terjadi adalah timbulnya tumpukan hutang kewajiban yang harus ditanggung manusia sejak dibukanya perjalanan manusia di bumi. Selanjutnya, secara logika lantas manusia yang berakal akan berusaha melunasi huatng-hutangnya dengan melaksanakan kewajiban. Dan bukan malah merengek-rengek hak pengakuan yang diselingi dengan hal-hal gila berbau kriminal.

Oleh : Megi Nur Afifah (Mahasiswi Aqidah dan Filsafat Islam Semester 2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *