Ibnu Haitham, Mata dan Optik

Ibnu Haitham, Mata dan Optik

            Ketika saya berkunjung ke kampus ITS (Institute Teknologi Sepuluh Nopember) Surabaya 20 Oktober 2017 yang lalu, saya menghadiri seminar tentang “Iptek fotonika-perkembangan dan kontribusi Ilmuwan Muslim” yang dibawakan oleh salah satu Dosen di ITS yang bernama Agus Muhammad Hatta. Beliau memaparkan tentang “Kontribusi Ibnu al-Haitsam dalam ilmu optik”. Setelah mengikuti seminar itu saya tertarik untuk mendalami pemikiran Ibnu al-Haitsam.

            Ibnu al-Haitsam lahir di kota Basrah pada tanggal 1 Juli 965 M/354 H. dan memulai pendidikan awalnya di Basrah, kemudian beliau melanjutkan pendidikannya di Ahwaz dan Baghdad. Kecintaannya terhadap ilmu telah membawanya berhijrah ke Mesir. Selama di sana beliau telah mengambil kesempatan melakukan beberapa kerja penyelidikan mengenai aliran sungai Nil serta menyalin buku-buku di bidang sains mengenai “matematika, falak, geometri, pengobatan dan falsafah. Kajian beliau mengenai Mata, telah menjadi salah satu rujukan yang penting dalam bidang pengajian sains di Barat. Bahkan pengobatan mata ala beliau telah menjadi asas kajian pengobatan mata modern

baca juga Mengenal Ibnu Haitham, Sosok Penemu Ilmu Optik

            Ibnu al-Haitsam yang dikenal sebagai al-Hasan bin al-Haitsam adalah orang pertama kali yang meletakkan teori-teori pantulan dan kecondongan dalam ilmu cahaya, mengulas pecahnya cahaya dalam perjalanannya, yaitu pecah yang terjadi disebabkan sarana-sarana seperti air dan kaca serta udara. Ibnu Haitsam dalam hal ini telah mendahului apa yang dikatakan ilmuan Inggris, Issac Newton. (lihat:Jalal Mazhar, Hadarah Islam wa Atsaruha fi Taraqi al-Alimi, hal. 303).

            Ibnu al-Haitsam juga merupakan salah satu dari sekian Intelektual Muslim yang paling jenius di zamannya. Bukan hanya itu ia juga memiliki bangunan berpikir yang baik dan benar terutama di bidang ilmu optik. Seandainya ia hidup pada abad ini, sontak akan meruntuhkan teori para profesor Barat seperti Richard Lynn, Helmuth Nyborg dan John Harvey yang di dalam risetnya mengkaji sebuah hypothesis adanya korelasi negatif antara kecerdasan dan keimanan. Hyphotesisnya kira-kira berbunyi begini: “semakin cerdas seseorang,ia akan semakin sekular bahkan ateis dan semakin bodoh seseorang maka ia semakin religius”.

            Seperti halnya Verhage yang memberi kesimpulan pada penemuannya bahwa agnostik dan atheis rata-rata memiliki IQ empat point lebih tinggi dari orang beriman. Ibnu Haitsam adalah bukti nyata bahwa iman tidak berbanding lurus dengan kebodohan. Semakin religius seseorang bukan berarti semakin bodoh. Bahkan jika para ilmuan Arab mendapat kehormatan dengan pendapat-pendapat dan teori-teori ilmiah mereka, maka Ibnu al-Haitsam mendapat kehormatan dengan dinisbatkannya ilmu-ilmu optik kepadanya secara keseluruhan.(lihat: Musthafa Nazhif, Al-Hasan bin Al-Haitsam Buhutsah wa Kusyufuh Al-Bashariyah).

Karya dan Penelitian Ibnu Al-Haitsam

            Ilmu-ilmu optik merupakan salah satu cabang ilmu fisika, yang berarti mempelajari teori cahaya dan karakteristiknya, fenomena-fenomenanya dan penerapan praktisnya, termasuk di dalamnya penggunaan berbagai piranti optik yang beragam bentuk dan jenisnya. Arti penting ilmu-ilmu optik ini terletak pada kenyataan bahwa kemajuan apa pun yang dicapai para spesialis dalam bidang ini berimplikasi langsung terhadap cabang-cabang ilmu lainnya, dan apakah ilmu-ilmu astronomi, ruang angkasa, kimia, kedokteran, apotek, geologi, taksonomi, biologi, dan lainnya tidak mengalami kemajuan kecuali disertai dengan kemajuan berbagai piranti optik dan berbagai riset serta studi tentang cahaya dan optik?

            Ibnu al-Haitsam telah mampu menyelami dan menyulam studi dan riset yang terpisah-pisah yang dilakukan para pendahulunya untuk dirumuskannya setelah mengoreksi, merenovasi, dan menambahkan berbagai inovasi, serta menjadikannya ilmu yang berdiri sendiri secara penuh, hingga berbagai istilah dan penamaannya banyak disebutkan di seluruh bahasa di dunia.

baca juga BÎMÂRISTÂN ABAD KEEMASAN

            Ibnu al-Haitham termasuk ilmuan yang gemar melakukan penyelidikan. Penyelidikannya mengenai cahaya telah memberikan ilham kepada ahli sains Barat seperti Boger, Bacon, dan Kepler dalam menciptakan mikroskop serta teleskop. Beliau merupakan orang pertama yang menulis dan menemui pelbagai data penting mengenai cahaya.

            Di antara pencapaian Ibnu al-Haitsam yang menkjubkan dalam bukunya yang disebutkan adalah eksperimen tentang kotak hitam (black box), yang ditetapkan sebagai langkah pertama dalam menemukan kamera. Sebagaimana dikatakan oleh pembahasan ilmiah, bahwa Ibnu al-Haitsam ditetapkan sebagai orang pertama yang mendesain dan menciptakan kamera, yang disebut dengan Camera Obscura. (lihat: George Sarton, Introdution to History of Science, hal. 721).

            Ibnu al-Haitsam mengumpulkan sebagian besar studi dan penelitiannya serta menyatukannya dalam sebuah karya monumentalnya al-Manazhir yang menjadi rujukan sebagian besar ilmuwan Barat. Bahkan mereka masih obyektif dengan memperlihatkan kontribusi dan persembahan ilmuwan kenamaan bangsa Arab dan Islam ini dan menyebutnya sebagai al-Bannan (Sang Kontraktor), setiap kali membahas tentang ilmu-ilmu optik atau menulis buku-buku dan referensi. Dan bahkan mereka menyerukan kepada dunia untuk memperhatikan buku monumental ini dengan menerjemahkannya ke dalam bahasa Latin secara  total tahun 1572 M. Siapa saja yang menelaah kitab al-Manazhir dan bab-bab yang berhubungan dengan cahaya dan lainnya niscaya akan mengetahui bahwa Ibnu al-Haitsam telah menemukan ilmu cahaya dengan temuan baru yang belum didahului oleh siapapun. (lihat: Ahmad Fuad Basya, Sumbangan Keilmuan Islam pada Dunia, hal. 190).

            Dalam bukunya al-Manazhir yang telah di tanqih oleh Kamaluddin al-Farisi pada akhir abad ke 13 M, dengan judul “Tanqih al-Manazhir” dan diakhiri Prof. Dr. Mustahafa Nazhif pada pertengahan abad ini, dimana ia menulis buku berjudul “Al-Hasan bin al-Haitsam” dalam dua bagian ini. Penulis menjelaskan bahwa, Ibnu al-Haitsam mencetuskan revolusi besar-besaran dalam ilmu-ilmu optik ketika ia berhasil merumuskan teori optik yang benar, yang kemudian dikembangkan dalam ilmu cahaya modern, setelah melontarkan kritik terhadap berbagai teori klasik dan menganalisanya.

            Ibnu al-Haitsam juga merumuskan teori barunya tentang optik berdasarkan kriteria-kriteria ataupun pengertian-pengertian dimana penglihatan itu tidak terjadi kecuali dengannya. Teori dan kriteria-kriteria yang dimaksud adalah hendaknya benda yang menjadi obyek penglihatan itu bercahaya, baik dari benda yang menjadi obyek penglihatan itu bercahaya, baik dari benda itu sendiri maupun dari pantulan sinar benda yang lain, hendaknya antara benda yang menjadi obyek penglihatan dan mata berada dalam jarak tertentu, hendaknya dinding atau benda pemisah antara keduanya sifatnya trabsparan dan obyek-obyek yang dilihat memiliki volume dan ketebalan yang memungkinkan mata memandangnya, dan hendaknya mata tersebut tidak mengalami cacat yang menyebabkan penglihatan terganggu.

            Ibnu al-Haitsam juga memperdebatkan proses penglihatan dengan gaya-gaya rasioanal dan logis dan jauh dari mistis dan mitos-mitos klasik. Dalam hal ini, ia berkata “Kita mendapati mata apabila merasakan adanya obyek penglihatan lalu menutup kelopak matanya, maka perasaan tersebut pun batal. Apabila ia membuka kelopak matanya kembali dan obyek tersebut berada di hadapannya, maka perasaan itu pun kembali. Faktor itulah, yang apabila batal maka batal pula akibatnya dan apabila kembali, maka akibatnya pun kembali. Jadi, sebab itulah yang menyebabkan terjadinya sesuatu itu pada mata, yaitu obyek yang dilihat. “Dengan demikian, maka ia pun mencapai sebuah kesimpulan bahwa penglihatan tidak terjadi kecuali adanya pengaruh cahaya yang datang dari obyek kepada mata. Ia pun menjelaskan teorinya itu secara rinci mengenai proses terjadinya penglihatan melalui mata setelah menjelaskan anatomi dan fungsi-fungsi masing-masing organ. Ia menjelaskannya secara baik melalui cara-cara yang logis dan rasional dan membedakan antara pandangan melalui pengetahuan dan pandangan melalui logika dan pembedaan”.

            Ibnu al-Haitsam dengan teorinya diatas, secara tidak langsung telah meruntuhkan teori David Hume (1711-1804 M) sebagai bapak empirisme yang memandang bahwa sumber ilmu utama dalam mencari kebenaran hanyalahmelalui panca indera dengan menggunakan metode empiris, sehingga peran akal dinomorduakan. Tentunya terdapat kesalahan dalam teorinya ini, dikarenakan panca indera terutama mata sebagai penglihatan tidak akan mampu melihat sebuah obyek benda kecuali adanya pengaruh cahaya yang datang dari obyek kepada matatersebut. Hal ini tentunya berbeda dengan Islam, yang menggunakan metode tauhid sebagai asas dalam mencari kebenaran. Sehingga  metode “empiris dan rasional”, dalam ilmu pengetahuan tidak dipertentangkan, melainkan digunakan secara bersama-sama dan saling melengkapi.Faktanya, tidak semua hal itu dapat diindera, dan karenanya, pendekatan rasional harusdikedepankan. Lebih dari itu, dalam Islam dikenal pendekatan intuitif sebagai metodekeilmuan. (lihat: Mulyadhi Kartanegara, Integrasi Ilmu, hal. 137).

            Pada akhirnya, sejarah mengakui kehebatan dan kejeniusan Ibnu al-Haitsami dalam bidang optik. Hal ini dibuktikan oleh perkataan seorang ilmuan Barat, George Sarton dalam bukunya The History of Science bahwa “Umat Islam merupakan bangsa yang jenius di wilayah Timur pada abad pertengahan dan memberikan kontribusi terbesar bagi umat manusia”.Dan seorang profesor Amerika dan mantan ketua CIA, Graham E Fuller juga pernah mengatakan dalam bukunya A World Without Islam, “kalau bukan karena Islam, dunia ini miskin peradaban, kebudayaan dan intelektual”.

Pen: Al-Ustadz Dedy Irawan, M.Ag
Dosen Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam

One comment

  1. Pingback: SPIRITUALITAS MANUSIA MENURUT AS-SARRAJ DAN AL-HADDAD

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *