KAMU KECANDUAN GAME ONLINE?

KAMU KECANDUAN GAME ONLINE?

afi.unida.gontor.ac.id – Masalah kecanduan bermain game online bukanlah masalah baru di Indonesia, upaya untuk mementingkan kecanduan kembali muncul. Media telah berusaha mengatasinya dengan berbagai cara. Namun, kondisi ini terlalu sulit untuk diakhiri jika hanya bergantung pada medianya. Di detik ini, akibat kecanduan bermain game online semakin amat banyak, sehingga banyak korban berjatuhan. Buah candu game online ini menjadi kebutuhan mendesak. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran praktis terkait apa saja dampak dari kecanduan bermain game onlinekepada para gamers, yaitu anak kecil hingga orang dewasa. Penelitian yang digunakan adalah kualitatif. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Metode yang digunakan adalah metode penelitian pustaka yaitu dengan melakukan telaah dan analisis mendalam terkait literatur-literatur yang berkaitan dengan game online. Hasil penelitian ini memberikan dampak negatif masalah kecanduan bermain game online, yaitu dapat merusak akal, moral, mental serta jasmani. Di sisi lain, menjadikan manusia cuek atau antipasti terhadap lingkungan sekitar.

FENOMENA GAME ONLINE Dampak Positif dan Negatif Game Online

            Di awal September, pembicaraan tentang upaya untuk mengurangi kecanduan bermain game online di Indonesia[1] kembali mencuat atau muncul kembali. Kali ini, Pakar Parenting, Elly Risman Musa menargetkan pengurangan kecanduan game online melalui perhatian orangtua kepada anak-anaknya. Faktanya, kecanduan bermain game online bukanlah masalah baru di negara ini. Media telah bekerja keras untuk mengatasinya baik melalui Laporan Utama, Dirasah, Tafsir, serta Sikap. Namun, kondisi ini terlalu sulit diselesaikan jika hanya bergantung pada medianya. Buah candu game online yang amat banyak ini menjadi kebutuhan mendesak.

baca juga

            Keberadaan pertandingan game online di Indonesia[2] telah berlangsung untuk memperebutkan Piala Presiden E-Sport 2019 pada Maret lalu. Sebagai negara yang pada 2017 kinerja industri gamenya menempati peringkat ke-16 dunia, prestasi negara tentu disambut dengan baik. Hal ini tercermin dari turnamen game berskala Internasional Player Unknown’s Battlegrounds atau PUBG Mobile yang akan digelar di Indonesia dalam Final Turnamen PUBG Mobile Club Open 2019 bahkan semakin banyaknya turnamen game yang terus digelar pada tahun mendatang.[3] Namun, keberadaan pertandingan game belum mampu menjadi tulang punggung penghidupan.

            Pada tahun 2018, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan kecanduan game atau game disorder sebagai penyakit gangguan mental.[4] Selain itu, WHO juga mengatakan kecanduan game bisa disebut penyakit bila memenuhi tiga hal. Pertama, seseorang tidak bisa mengendalikan kebiasaan bermain game.Kedua, seseorang mulai memprioritaskan game di atas kegiatan lain. Ketiga, seseorang terus bermain game meski ada konsekuensi negatif yangterlihat jelas. Jadi ketiga hal ini harus terjadi atau terlihat selama satu tahun sebelum analisis dibuat. Jika bermain game ini bisa menggangu atau merusak kehidupan pribadi, keluarga, sosial, pekerjaan, dan pendidikan, maka bermain game adalah gangguan mental yang dapat menghilangkan fokus manusia bahkan menjadikan manusia menggurung diri terlalu lama di dalam rumah. Untuk alasan ini, peneliti mencoba memberikan gambaran praktis tentang apa saja dampak dari kecanduan bermain game online kepada para gamers. Mengingat di Indonesia ini, kecanduan game online menjadi hal yang bukanlah main-main karena memiliki pengaruh besar di lingkungan rumah.

            Mengapa dampak game online? Sejak muncul game online, tak sedikityang mendapat efek negatif terhadap kesehatan,baik kerusakan otak, mata, saraf, fisik, hingga kesehatan mental, dan semakin hari juga semakin banyak korban berjatuhan akibat kecanduan bermain game online. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran praktis mengenai apa saja efek hubungan game dan manusia.

GADGET

            Penggemar game online disebabkan karena tidak ada kedekatan anak dengan orangtua, anak-anak menjadi tidak memiliki kasih sayang dan kehangatan. Ketidakhadiran orangtua pada anak, kemudian diganti dengan gadget, maka anak merasa gadget adalah ibunya maka ketika anak diambil gadgetnya, anak merasa ibunya yang diambil. Situasi di Indonesia saat ini, sedang panen besar dampak gadget, sebab orangtua kurang memberi perhatian kepada anak-anaknya.[5]

            Anak usia 0 sampai 2 tahun harus mendapat kasih sayang dan pendisiplinan dari orangtua, sebab pada usia tersebut anak perlu mengidentifikasi orangtuanya, sehingga perlu orangtua hadir dan dekat dengan anak. Usaha lain yang mesti dilakukan oleh orangtua untuk mengenali lebih dekat tentang apa saja yang menjadi tontonan anak dan juga “games” yang mereka mainkan. Peminat game online tersebut menderita bebarapa penyakit sebagai berikut: 1. RSI (repetitive strain injury)[6] 2. Degenerasi Makula 3. Nitendo Epilepsi atau epilepsi fotosensitif.[7]

            Pengelola/pengurus game harus mempertimbangkan pembatasan usia, konten, waktu dan dampak yang mungkin ditimbulkan. Selain itu, harus juga meninggalkan game yang berkonten pornografi, perjudian, perilaku sosial menyimpang dan juga konten yang dilarang agama dan peraturan perundang-undangan. Sebab, Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh telah mengeluarkan fatwa haram terhadap untuk salah satu jenis game online yaitu Player’s Unknown Battlegrounds (PUBG)dan sejenisnya.[8] Jadi, segera realisasikan fatwa game online PUBG dan sejenisnya secara kaffah.

GAME ONLINE = CANDU

            Pecandu game onlineakan melupakan kewajiban mereka baik di rumah[9] maupun kewajiban di sekolah.[10] Bahkan tidak sedikit anak yang melawan orangtua lantaran dilarang untuk bermain game online. Dalam perkaranya, anak terjun dari apartemen karena orantuanya mengambil gadgetnya.[11]Ia terlihat melepaskan tangannya dan jatuh. Namun, para petugas pemadam kebakaran telah memberikan pertolongan dengan menyiapkan bantal balon pemantul yang cukup besar di bawah balkon apartemen ini. Diduga anak ini marah karena orangtuanya telah menyita ponsel dan iPadnya. Jadi, ketika anak asyik bermain game online, mereka akan memaksakan mata untuk bermain walaupun dengan waktu yang cukup lama, sehingga banyak anak yang sering main game online ada masalah dengan penglihatannya, seperti mata minus dan sebagainya.[12]

            Di samping itu, radiasi yang dihasilkan dari game online juga dapat berpengaruh pada otak anak. Hal itu yang selalu luput dari perhatian orangtua. Mereka hanya ingin anak-anak tenang dan tidak rewel tanpa mau memperhatikan dampak bahaya yang mengancam nyawa anak-anak. Namun demikian, kecanduan bermain game online tidak selalu anak yang disalahkan, pastinya ada peran orangtua yang lalai dan selalu menjadikan game online sebagai alternatif akhir dari solusi menjaga anak. Di sinilah, orangtua wajib bisa bersikap tegas terhadap anak dalam percanduan game online. Jangan sampai game online membuat mereka kehilangan masa kanak-kanaknya. Dan memberikan teladan untuk disiplin[13] dan menciptakan lingkungan yang baik.[14]

baca juga AKHLAK MUSLIMAH DI MEDIA SOSIAL

            Apa yang akan dialami pecandu game online[15] sebagai berikut: 1. Gampang marah dan tantrum (emosi) 2. Waktu habis terbuang 3. Interaksi sosial dengan orang lain kurang 4. Malas belajar dan sulit berkonsentrasi 5. Gampang melawan keras dan mencuri 6. Menghilangkan kesempatan berbuat baik 7. Cenderung rendah diri 8. Sulit berteman 9. Prestasi kurang memadai 10. Perilaku brutal dan radikal 11. Bersifat statis atau berhenti di tempat 12. Tidak dinamis 13. Serta meninggal.[16]Wallahu a’lam.

            Pecandu game onlineakan tidak pernah kenal capek, waktu, dan bahkan pola makannya tidak teratur. Sampai pekerjaan yang menjadi prioritas utama justru diacuhkan. Efek candu inilah yang berbahaya, dapat merugikan generasi muda dan masyarakat pada umumnya. Saking berbahayanya, telah tercantum pada fatwa nomor 3 tahun 2019 tentang Hukum game PUBG (Player Unknown’s Battle Grounds) dan sejenisnya menurut Fiqh Islam.[17]

KESIMPULAN

            Penulis menyimpulkan dengan tujuan untuk memberikan dampak negatif kecanduan bermain game online, yaitu dapat merusak akal, moral, mental, serta jasmani. Agar kecanduan bermain game online dapat diakhiri orangtua harus bersikap tegas terhadap anak dan memberikan teladan untuk disiplin dan menciptakan lingkungan yang baik. Pecandu game online akan tidak pernah kenal capek, waktu, dan bahkan pola makannya tidak teratur. Pecandu game online akan menjadi manusia cuek atau antipasti terhadap lingkungan sekitar. Mengingat efek candu dari bermain game online, amat sangat berbahaya maka dengan segera tinggalkan permainan game online.

Daftar Pustaka

Buku

Nafis, Ali, MENGAPA UMAT ISLAM MUNDUR?, Jakarta: RESTU ILAHI, 2008
Tasmara, Toto, YAHUDI Mengapa Mereka Berprestasi, Jakarta: Sinergi Publishing, Cet.1, 2010
Waid, Abdul, Menguak Rahasia Cara Belajar Orang YAHUDI, Jogjakarta: DIVA Press, Cet. IX, Oktober 2013

Majalah

Gontor, Edisi 05 Tahun XVII/September 2019

Internet

www.tekno.tempo.co,
www.hidayatullah.com,
www.nasional.republika.co.id
www.techno.okezone.com,


                [1] Kondisi bangsa Indonesia saat ini, amat menyedihkan, baik dari segiekonomi, keilmuan, teknologi maupun kebudayaan dan menjadi bulan-bulanan orang-orang kafir. Sebabnya, tidak lain karena perlindungan dan pertolongan dari Allah SWT. telah dicabut karena beberapa sebab. Maka mari kitamemanfaatkan bersama-sama dan menjadikan bekal warisan intelektual ummat Islam seperti potensi Sumber Daya Nilai yakni Al-Qur’an, As-Sunnah, khazanah perdaban dan keilmuan serta wibawa sejarah secara kaffah. Selengkapnya lihat, Ali Nafis, MENGAPA UMAT ISLAM MUNDUR?, (Jakarta: RESTU ILAHI, 2008), 166-217.

                [2] Berapakah jumlah gamer di Indonesia? Menurut Ferdinandus Setu, Plt. Kepala Biro Humas Kominfo kepada Okezone, ada sekira 142 juta pengguna internet di Indonesia, di mana 30 juta anak milenial aktif bermain game. Lihat https://techno.okezone.com/read/2019/03/28/326/2036223/30-juta-anak-milenial-gemar-bermain-game-setiap-hari, diakses Sabtu, 5 Oktober 2019

                [3] Hal ini dipaparkan Director Marketing PUBG Mobile untuk Asia Tenggara Oliver Ye di Jakarta, seperti dilansir jpnn.com, Jum’at, 24 Mei 2019.

                [4] Hal ini setelah WHO menambahkan kecanduan game ke dalam versi terbaru Internasional Statistical Classification of Diseases (ICD), Senin, 18 Juni 2018.

                [5] Hal ini diutarakan Pakar Parenting Elly Risman Musa dalam menyikapi dampak buruk terhadap kecanduan game di Jakarta Selatan, 23 Juli 2019.

                [6] RSI adalah radang jari tangan/sidnrom vibrasi lengan serta nyeri tulang belakang yang berakibat pada kecacatan.

                [7] Serangan mendadak yang ditimbulkan oleh kilatan cahaya dengan pola tertentu. Sinar merah yang kuat akan membuat sinyal abnormal yang dikirim ke otak melalui retina membuat anak menjadi kejang.

                [8]Selain PUBG dan Mobile Legenda, game perang lain yang cukup populer antara lain Free Fire, Mobile Legends, Lords Mobile: Battle of Empire, Clash of Kings, Rise of Kingdoms, Lineage 2 Revolution, Ragnarok M: Eternal Love, Crisis Action, Modern Combat 5: Blackout, Call of Duty: Heroes, Blitz Brigade, Point Blank Mobile, dan FinalShot. Lihat https://tekno.tempo.co/read/1217123/ulama-aceh-haramkan-pubg-dan-game-online-perang-perangan/full&view=ok, diakses Jum’at, 4 Oktober 2019

                [9] Rasa respek anak terhadap orangtua mulai menurun. Lihat https://nasional.republika.co.id/berita/o66v53282/tujuh-dampak-psikologis-untuk-anak-yang-kecanduan-emgameem-daring, diakses Sabtu, 5 Oktober 2019

                [10]Di sekolah, pelajar-pelajar Yahudi tidak pernah pegang elektronik, seperti HP, televisi, internet dan sebagainya. Menurut mereka, jenis-jenis tekonologi tersebut bukan media tepat untuk belajar sesuatu yang membutuhkan konsentrasi penuh. Oleh karenanya, wajib setiap individu menjalankan perannya masing-masing di semua tempat dengan baik. Selengkapnya lihat, Abdul Waid, Menguak Rahasia Cara Belajar Orang YAHUDI, (Jogjakarta: DIVA Press, Cet. IX, Oktober 2013), 197-198.

                [11] Seperti dikutip dari World of Buzz dalam sebuah video seorang anak yang diduga berumur 12 tahun didapati terlihat bergantung di ujung balkon di dekat jendela di sebuah kondominium di Sengkang West, Singapura.

                [12] Lihat Satori Ismail, “Orangtua Harus Tegas Larang Anak Gunakan HP”, dalam Gontor, edisi September 2019

                [13] Disiplin, ketangguhan, dan istiqamah adalah identitas dan harga diri setiap pribadi Muslim. Tanpa disiplin hancurlah tatanan kehidupan. Maka sejak dini, kita harus tanamkan makna dari disiplin ini kepada anak-anak kita. Selengkapnya lihat, Toto Tasmara, YAHUDI Mengapa Mereka Berprestasi, (Jakarta: Sinergi Publishing, Cet.1, 2010), 220.

                [14] Lihat Piet Hizbullah Khaidir, “Solusi Al-Qur’an Mengatasi Candu Game Online” dalam Gontor, edisi September 2019

                [15] Kecanduan game online sudah nempel dengan kecanduan pornografi yang kemudian bisa tercandu pada kriminal. Keburukan berkawan dengan keburukan. Lihat https://www.hidayatullah.com/berita/nasional/read/2017/06/03/117858/ketua-gin-game-online-salah-satu-pemicu-abg-jadi-gangster.html, diakses Sabtu, 5 Oktober 2019

                [16] Wawancara wartawan Majalah Gontor Edithya Miranti dengan Helmawati, September 2019

                [17] MPU Aceh memutuskan 3 Hal, yaitu: 1. Game PUBG (Playes Unknown’s Battlegrounds) dan sejenisnya adalah sebauah permainan interaktif elektronik dengan jenis pertempuran mengandung unsur kekerasan dan kebrutalan, mempengaruhi perubahan perilaku menjadi negatif, menimbulkan perilaku agresif, kecanduan pada level yang berbahaya, dan mengandung unsur penghinaan terhadap simbol-simbol Islam. Selengkapnya lihat, Mohamad Deny Irawan, “Bahaya Game Online Bisa Haram atau Sakit Jiwa!” dalam Gontor, edisi September 2019.

Pen :
Alfi Huda
Mahasiswa AFI UNIDA Gontor

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *