Relativisme Nilai dan LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender)

Relativisme Nilai dan LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender)

Relativisme Nilai dan LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender)

Oleh: Choirul Ahmad
Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Darussalam Gontor Semester VI

afi.unida.gontor.ac.id – Dalam sejarah pemikiran Barat semenjak zaman Yunani kuno, persoalan objektivitas nilai atau moral telah mendapat tempat yang cukup spesial di antara perdebatan-perdebatan filosof mereka. Ada yang mendasarkannya hanya pada akal manusia semata sebagaimana ajaran Protagoras bahwa “man is the measure of all things”, dengan demikian nilai kebaikan dan keburukan adalah subjektif tergantung pribadi masing-masing.

Ada juga Heraklitus dengan filsafat perubahannya yang mendakwa bahwa manusia tidak akan bisa mencapai nilai mutlak yang stagnan karena itu ia selalu dinamis di mana dalam salah satu ungkapannya ia menyatakan “it is impossible to step twice into the same stream”.

Tidak jauh dari masa setelah mereka berdua terdapat juga Epicurus yang mengambil sikap lebih ekstrem dengan mengatakan “pleasure is the sole ultimate good and the pain is the sole evil”, maka menurutnya berbagai bentuk kepuasan/foya-foya dan keseronokan merupakan kebaikan sedangkan bentuk hal-hal sulit yang mendatangkan kesakitan merupakan keburukan.

Itulah setidaknya beberapa nama filsuf yang pemikirannya cukup berpengaruh dalam peradaban Barat sampai hari ini. Faktanya, meskipun terdapat beberapa perbedaan dalam konsepsi teoritis mereka, namun bisa dikatakan secara umum mereka berangkat dari premis utama yang sama bahwa tidak ada nilai yang bersifat absolut, karena itu ia bersifat nisbi atau relatif sehingga harus diselaraskan dengan kondisi manusia mengikuti perubahan zaman.[1]

Tidak dipungkiri wujud agama sebagai sebuah institusi tertinggi dalam sebuah sistem masyarakat merupakan sumber objektif dari berbagai nilai dan moral, maka segala nilai baik dan buruk akan digubal sesuai dengan tradisi agama yang dianut suatu masyarakat tersebut.

Dari sini, usaha untuk menghilangkan atau meruntuhkan kewibawaan agama dalam segala bidang lini kehidupan baik dalam ranah sosial/masyarakat ataupun intelektual, hanya akan menimbulkan terjadinya diabolisme intelektual[2] dan relativisme moral sebagaimana yang telah berlaku sampai hari ini di Barat.

Gejala yang dinamakan sekularisasi ini memang tidak serta merta menolak peran agama dan menghilangkannya begitu saja, namun agama yang harus direka ulang mengikuti perkembangan historisitas manusia, seperti yang dialami oleh agama Kristen di mana meski jasad tubuhnya masih utuh sampai sekarang namun ia telah dirasuki dan dipengaruhi oleh ruh sekularisasi.[3]

Di antara kesan mendalam akibat upaya relativisme nilai yang dipicu oleh sekularisasi di Barat adalah pengagungan akal sebagai satu-satunya sumber untuk  menilai dan mengukur baik atau buruknya sesuatu, lebih lanjut lagi hal ini juga ditandai dengan maraknya pembahasan etika dengan hanya mengkhususkan pada moral saja (yang notabenenya hanya fokus mengkaji nilai-nilai relatif humanistis) di mana teologi dipisahkan darinya.

Akhirnya ajaran-ajaran agama yang mengandung nilai mutlak hanya sekedar menjadi teori yang dianggap terpisah dari praktiknya. Karena itulah tidak aneh jika pada banyak kasus banyak teori-teori moral ataupun konsepsi-konsepsi sosial yang mereka bangun, kita dapati begitu sarat dengan paham-paham pragmatisme, utilitarianisme, hedonisme atau materialisme yang jauh dari nilai-nilai agama maupun spiritual.[4]

Relativisme nilai juga telah membuat jurang pemisah antar generasi dalam konstruksi sosial masyarakat barat, hingga terjadilah perbedaan idealisme antara kaum tua dan muda di kalangan mereka. Idealisme para kaum tua dalam institusi keluarga atau masyarakat yang seharusnya ditinggikan dan dihormati dengan beragam pengalaman pahit-manis hidupnya setelah sekian lama hanya dianggap sebagai lantunan nada kuno yang sudah tidak relevan didengungkan di zaman modern ini, malangnya kaum muda mereka justru lebih terinspirasi dari institusi-institusi sosial budaya dari industri komersial seperti musik, film, sastra, hiburan dll. Karena itu juga bukan merupakan hal asing jika anak-anak dan remaja barat begitu bangga dengan suatu ungkapan “no more parent”.[5]    

Berdasarkan fenomena di atas, maka bukan merupakan suatu hal aneh jika kita temui berbagai ketimpangan moral yang berlaku pada manusia hari ini seperti halnya kasus LGBT. Dahulu diabad pertengahan secara gamblang gereja mengutuk keras dan mengharamkan tindakan homoseksual karena tidak sesuai dengan nilai etika agama tersebut, namun saat ini dunia menyaksikan seorang homoseksual telah diangkat menjadi Uskup di Gereja Anglikan, New Hamshire pada tahun 2003 lalu.[6]

Tentu contoh ini hanyalah satu dari sekian banyak kasus dengan tema besar LGBT dimana hingga saat ini ia telah menjadi suatu hal lumrah dan diterima secara luas yang tidak hanya diamini oleh suatu masyarakat tetapi juga disahkan oleh undang-undang negara di beberapa belahan dunia. Hari ini pun kaum LGBT semakin berani dan begitu berbangga dengan mengakui bahwa pasangan mereka adalah sesama jenis, bahkan di antara mereka ditengarai telah menjalin hubungan perkawinan dan mengikat janji untuk membangun kehidupan berkeluarga.[7]

Dunia muslim secara khusus di bumi Indonesia akhir-akhir ini juga digemparkan oleh berbagai pihak yang mendesak halalnya LGBT untuk diakui dalam perundang-undangan negeri, yang lebih mengherankan di antara mereka adalah kalangan akademisi bergelar tinggi yang sudah barang tentu telah mengetahui banyak sedikit tentang tradisi agama Islam yang diajarkan oleh Nabi dan dipegang teguh oleh para pengikutnya selama berabad-abad silam. Meski mereka (atau yang biasa mengaku sebagai muslim liberal atau modernis) juga mendasarkan pendapatnya dengan sumber primer yang sama, namun nuansa liberalisasi dan manipulasi terasa begitu kental dalam metodologi mereka. Yang jelas faktor apa pun yang membuat mereka begitu gigih membelanya kita belum tahu pasti apakah karena sebab arogansi atau memang agenda politik tersembunyi.[8]      

Sebagai penutup, dialektika perkembangan konsep nilai bernuansa relativisme khas kebaratan yang semakin hari kian meluas di berbagai belahan bumi sejalan dengan arus globalisasi yang dipacu sekularisasi, menunjukkan betapa Barat tidak pernah akan berhenti dalam merumuskan nilai-nilai yang dianggap baik bagi kehidupan masyarakatnya. Sejarah telah memperlihatkan perubahan nilai di Barat secara radikal, dimulai dari penerimaan pada etika moral gereja, sampai akhirnya berujung kepada penghapusan unsur-unsur metafisika dalam etika moralnya. Konsep nilai dan moral di Barat akan terus berevolusi, berkembang sesuai dengan pemahaman mereka terhadap hakikat manusia, agama, ilmu, dan kehidupan itu sendiri.[9]

Berbeda secara diametris dengan pandangan alam Islam (Islamic worldview) yang bertolak dari wahyu dan didukung dengan harmonis oleh akal dan intuisi yang mencerminkan finalitas dan otentisitas[10], Pandangan Barat terhadap realitas dan kebenaran adalah terbentuk berdasarkan akumulasi terhadap kehidupan kultural, tata nilai dan berbagai fenomena sosial, karena itu meski ia mencerminkan susunan yang koheren namun sejatinya adalah bersifat artifisial yang selalu berubah seiring dengan perubahan sosial, tata nilai, dan tradisi intelektual yang dialaminya.

Dalam kasusnya, pandangan ini terbentuk secara gradual/bertahap melalui spekulasi filosofis dan penemuan ilmiah yang selalu berubah dan terbuka sesuai kondisi dan situasi zaman, hingga ia mengalami proses transformasi dialektis dari thesis kepada anti thesis dan kemudian sinthesis, dalam konsep dunianya dari teosentis (god centered) kemudian antroposenris (man centered) menjadi (god-man centered), hingga pada tahapan yang disebut anti worldview/anti meta-naratif di zaman pos-modern yang sebenarnya bersifat skeptis.[11]

Referensi:

Arif, Syamsuddin, Orientalis dan Diabolisme Pemikiran (Jakarta:GIP,2008).

Armas, Adnin, Wacana Metafisika Al-Attas dalam jurnal ISLAMIA diterbitkan oleh INSIST Jakarta Vol. XI, No. 2, Agustus 2017.

Armayanto, Harda, Islam Memandang Homoseksual-Lesbian dalam jurnal IJTIHAD, diterbitkan oleh ISID GONTOR Vol. 4 No. 1 Muharram-Jum. Tsani 1431, hal. 49-62.

Dewi Kania, Dinar, Konsep Nilai dalam Peradaban Barat, dalam jurnal Tsaqafah diterbitkan oleh UNIDA GONTOR Vol. 9, No. 2, November 2013.

Farid Mohd Shahran, Mohd, Makna dan Matlamat Agama dalam Islam, pengajaran dari pemikiran Prof. Al-Attas, salah satu makalah dalam buku diktat kursus Worldview of Islam Series (WISE) 2016 yang diadakan oleh Himpunan Keilmuan Muslim (HAKIM).

Farid Mohd Shahran, Mohd, Akidah dan Pemikiran Islam:Isu dan Cabaran (Kuala Lumpur:ITBM,2015).

Muammar, Khalif, Atas Nama Kebenaran, Tanggapan Kritis terhadap Wacana Islam Liberal (Bangi:ATMA,2009).


[1] Mohd Farid Mohd Shahran, Akidah dan Pemikiran Islam:Isu dan Cabaran (Kuala Lumpur:ITBM,2015), hal. 47-9.
[2] Mengenai fenomena diabolisme intelektual ini lihat, Syamsuddin Arif, Diabolisme Intelektual dalam Orientalis dan Diabolisme Intelektual (Jakarta:GIP,2008) buku ini kemudian diterbitkan kembali dengan beberapa pengubahan dengan judul Islam dan Diabolisme Intelektual (Jakarta:INSISTS&PIMPIN,2017). 
[3] Syamsudddin Arif, Orientalis dan Diabolisme Pemikiran (Jakarta:GIP,2008), hal. 87; lihat Juga Mohd Farid Mohd Shahran, Makna dan Matlamat Agama dalam Islam, pengajaran dari pemikiran Prof. Al Attas, salah satu makalah dalam buku diktat kursus Worldview of Islam Series (WISE) 2016 yang diadakan oleh Himpunan Keilmuan Muslim (HAKIM), hal. 109.
[4]  Akidah dan Pemikiran Islam:Isu dan Cabaran, hal. 54.
[5] Ibid, hal. 54.
[6] Dinar Dewi Kania, Konsep Nilai dalam Peradaban Barat, dalam jurnal Tsaqafah diterbitkan oleh UNIDA GONTOR Vol. 9, No. 2, November 2013, hal. 260.
[7] Lihat sebagai contoh m.bintang.com/celeb/read/3222213/resmi-menikah-sejenis-ini-5-fakta-seputar-pasangan-ricky-martin. Selain Ricky martin ada beberapa nama artis juga yang menjalin pernikahan sejenis diantaranya Jesse Tyler Ferguson, Neil Patrick Harris,  Lance Bass, Elton John dan Michael Kors. Lebih lanjut buka laman web m.bintang.com/celeb/read/3223462/ricky-martin-dan-pernikahan-sejenis-5-artis-pria-lainnya. Diakses 21.05,20/01/18.
[8] untuk bantahan bagi para muslim liberal dan modernis mengenai LGBT lihat Khalif Muammar, Atas Nama Kebenaran, tanggapan kritis terhadap wacana Islam Liberal (Bangi:ATMA,2009), terutama hal. 59-102,  juga Harda Armayanto, Islam Memandang Homoseksual-Lesbian dalam jurnal IJTIHAD, diterbitkan oleh ISID GONTOR Vol. 4 No. 1 Muharram-Jum. Tsani 1431, hal. 49-62.
[9] Konsep Nilai dalam Peradaban Barat, hal. 260.
[10] Karena itu juga tidak ada tempat ditradisi intelektual Islam bagi relativisme baik dalam konsep nilai dan ilmunya sebagaimana sifat dasar pandangannya mengenai realitas dan kebenaran yang sudah final dan otentik.
[11] Lihat Adnin Armas, Wacana Metafisika Al Attas dalam jurnal ISLAMIA diterbitkan oleh INSIST Jakarta Vol. XI, No. 2, Agustus 2017, hal. 32-3. relativisme

Artikel Lainnya Selain Relativisme

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *