Keikhlasan Bekal Utama Seorang Pemimpin

Keikhlasan Bekal Utama Seorang Pemimpin

afi.unida.gontor.ac.id – Siapa yang tidak mengenal Pondok Modern Darussalam Gontor?. Sudah barang tentu kemasyhuran pondok pesantren modern yang didirikan oleh Trimurti ini tidak perlu diragukan lagi. Selain dikenal berhasil mencetak kader-kader pemimpin bangsa, pondok ini juga terkenal akan nilai-nilai dan falsafah hidup yang menjiwainya termasuk jiwa keikhlasan. Para Trimurti yang menjadi suri tauladannya yakni K.H. Ahmad Sahal, K.H. Zainuddin Fanani dan K.H. Imam Zarksyi selalu menjadi motivasi tersendiri bagi para santrinya untuk menjadi pribadi yang berkualitas dan bermutu.

Peran dari Trimurti sebagai sosok ayah dan pemimpin memang tidak bisa dihindari. Bagaimana tidak, jiwa  keikhlasan yang melekat pada trimurti begitu kuat dan menular ke santri-santrinya. Kata-kata “Sepi Ing Pamrih Rame Ing Gawe” merupakan sebuah kata yang sangat cocok dinisbatkan dalam diri Para Trimurti. Yang artinya tidak mengaharapkan imbalan dan bersungguh-sungguh dalam bekerja tanpa berharap mendapatkan sanjungan sedikitpun. Saya jadi teringat nasihat yang pernah disampaikan Hasan al-Banna dalam tulisannya yang berbunyi “Kami tidak mengaharapkan sesuatu apapun dari manusia. Tidak mengharap harta benda atau imbalan lainnya. Tidak juga popularitas, Apalagi sekedar ucapan terimakasih”. Mungkin ini juga bisa disebut  sebagai Totalitas dalam keihlasan.

Keikhlasan yang diterapkan di Gontor meliputi segenap kehidupan di Pondok Pesantren. Dimana Kyai ikhlas dalam mengajar, para santri ikhlas dalam belajar, Lurah Pondok (asisten) ikhlas dalam membantu. Segala aktivitas yang terjadi dalam Pondok berjalan khidmat dalam keikhlasan. Dan suasana kehidupan yang harmonis itupun terlihat jelas dengan Kyai sebagai figur yang disegani dan santri yang taat dan penuh cinta serta rasa hormat.  Jiwa keikhlasan ini sangatlah melekat dalam sanubari, tidak ada satu orangpun didalam pondok yang memiliki niatan untuk memperoleh imbalan berbentuk materia, semua ikhlas karena Allah semata.[1]

Lantas apa hubungannya keikhlasan dengan kepemimpinan?

Seorang Pemimpin tangguh yang memiliki karakter pejuang tidak akan terbentuk apabila tidak didasari dengan jiwa keikhlasan. Hakekat keikhlasan disini tidak hanya difahami melalui pengarahan-pengarahan, tetapi juga melalui berbagai pelatihan, penugasan, pengawalan, suritauladan dan pendekatan. Pola pendidikan seperti inilah yang cukup efektif dan ideal dalam membentuk jiwa dan karakter pemimpin, apalagi didukung dengan miliu yang mendidik seperti di Gontor.[2]

Oleh sebab itu, baik pendidik maupun yang terdidik perlu mengetahui secara mendalam mengenai makna dan hakekat keikhlasan itu. Makna ikhlas apabila dicari asal katanya berasal dari akhlasa-yukhlisu-ikhlaashan yang memiliki arti bersih, suci, murni, tidak ada campurannya, atau cocok dan pantas. Dan menurut istilah, ikhlas memiliki arti menghadirkan niat hanya karena Allah dengan upaya kuat dan sungguh-sungguh dalam berpikir, bekerja dan berbuat untuk kemajuan usahanya dengan selalu mengaharap ridloNya.[3]

Pancaran sinar energi positive akan selalu menyelimuti diri seorang Muslim dan merasuk ke dalam jiwanya serta mewarnai seluruh aktivitas kehidupannya apabila Muslim tersebut benar-benar ikhlas dalam beramal dan berjuang. Oleh sebab itu, orang yang ikhlas akan memiliki hubungan yang sangat intim dan tidak pernah terlepas dari ikatan Allah. Dan dampaknya, ia akan memiliki kesemangatan yang tinggi dan tidak mudah tumbang. Dalam menghadapi cobaan, orang yang ikhlas akan selalu memiliki kesabaran dan optimisme yang tinggi. Jiwa keikhlasan membuatnya menjadi pribadi yang tegar, kuat dan berprinsip.[4]

Segala masalah dan problem yang terjadi di dalam kehidupan ini hanya dapat diselesaikan dengan keteguhan iman dan hanya dapat dilaksanakan dengan keikhlasan di samping ia harus menekan keinginan nafsu yang bergejolak. Dan apabila sikap ini di implementasikan dalam diri seorang pemimpin. Maka ia akan menjadi pemimpin yang amanah dan bijaksana dengan segala keputusannya yang arif dan mensemakmurkan rakyatnya. Lain halnya pemimpin yang tidak memiliki jiwa ikhlas yang hanya mementingkan kepuasan nafsunya saja. Ia otomatis tidak akan bisa mengambil keputusan secara adil dan juga akan selalu cenderung menyengsarakan rakyatnya.            

Oleh sebab itu, kita perlu membuat energi ikhlas itu terpancar dalam diri kita. Sehingga kita bisa benar-benar manjadi orang yang mukhlis. Kita perlu memperbaiki diri kita dengan kesungguhan, kerja keras, wirid, do’a tahajud, bacaan al-Qur’an. Ingat, keikhlasan itu bisa diciptakan dan dibuat dalam diri kita dengan berbagai macam mujahadah dan perjuangan.[5] Dengan bekal jiwa keikhlasan yang kita miliki, in shaa Allah kedepannya kita dapat meneruskan estafet perjuangan para Trimurti dan para pendahulu kita sebagai kader-kader pemimpin ummat yang amanah dan bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Aamiin

Oleh: Marti Putra Perdana
Mahasiswa Pascasarjana Universitas Darussalam Gontor


[1] Staf Sekertaris Pondok Modern, Serba-Serbi Pondok Modern  Darussalam Gontor, (Ponorogo: Percetakan Darussalam, 1997), p. 3

[2] Abdullah Syukri Zarkasyi, Bekal Untuk Memimpin: Pengalaman Memimpin Gontor, (Ponorogo: Trimurti Press, 2011), p. 47-48

[3] Abdullah Syukri Zarkasyi, Bekal Untuk Memimpin…, p. 47

[4] Ibid, p. 48

[5] Abdullah Syukri Zarkasyi, Bekal Untuk Memimpin…, p. 52-53

One comment

  1. Pingback: Masyarakat di Zaman Kebahagiaan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *