Para Pencari Kebenaran: Dimana posisi ahli Hadits?

Para Pencari Kebenaran: Dimana posisi ahli Hadits?

“Dimanakan posisi Ahlul Atsar dalam kriteria pembagian pencari kebenarana yang dibuat Imam Al-Ghozali?” Tanya seorang mahasiswa pada Al-Ustadz Mujtaba’ selaku Pemateri kajian kitab Al-Munqidz Min Ad-Dholal, senin malam itu.(28/12/2020)

 Sebelumnya, pemateri menjelaskan beberapa pembagian “pencari kebenaran” menurut imam Al-Ghozali. Ada 4 jenis pembagian daiantaranya adalah, Mutakallimun, Al-Bathiniyyah, al-Falasifah, dan As-Shufiyah. Dalam pembagian tersebut tidak disebutkan golongan kaum ahlul Atsar maupun al-muhadissun yang merupakan para ulama yang merujuk pada Hadist dalam menyelesaikan segala permasalahan dalam agama.

Dalam kitab tersebut, disebutkan pengertian-pengertian dari keempat pembagian yang dibuat oleh Imam Al-Ghozali. Mattakalimun diartikan sebagai ulama yang menyatakan dirinya sebagai Ahlu Ra’yi wa An-Nadzar atau bisa dikatakan bahwasannya Muttakalimun merupaka kelompok pencari kebenaran yang mengandalkan akal, pendapat, dan teori-teori berlandaskan logika dan permis-permis. Penggunaan premis-premis yang dilakukan para Muttakalimun disebutkan dalam kitab tersebut merupakan kelemahan mereka sendiri. Hal tersebut dikarenakan penggunaan premis-premis atau logika dalam mencari kebenaran akan mengakibatkan seorang penggunanya terjebak dalam premis atau logika-logika yang dimiliki para penyebar Bid’ah dan hanya akan melahirkan perdebatan-perdebatan akal yang tak ada habisnya seperti dilihat di masa ini, ilmu kalam seakan hanya menjadi sarana debat untuk para ulama. Sedangkan tujuan utama untuk mempertahankan aqidah umat musliim dari bid’ah malah berujung pada lahirnya pendapat-pendapat logika yang merupakan bid’ah.

Pembagian yang selanjutnya adalah Al-Bathiniyah yang dalam kitab tersebut disebutkan bahwasannya mereka adalah kalangan pengikut imam-imam yang Ma’sum dan mendapatkan pembelajaran agama dari imam tersebut. Dalam hal ini Imam Al-Ghozali mengarahkan pengertian tersebut untuk para penganut Syiah pada masa itu. Tapi pada masa sekarang, sudah banyak cabang dari ajaran Bathiniyah seperti beberapa ajaran kebatinan yang dapat ditemui di Jawa.

Pembagian ketiga adalah Al-Falasifah atau filosof dalam bahasa Indonesia. Dalam buku tersebut, Imam Al-Ghozali menyatakan bahwasannya filosof adalah orang-orang Ahlu Al-mantiq wa ad-dalil atau bisa dijelaskan bahwa filosof adalah pengguna Logika dan Pembuktian-pembuktian filosofis dalam menyelesaikan masalah agama. Dalam hal ini, filosof yang dimaksud adalah para saintis pada masa Imam Al-Ghozali dimana cabang-cabang ilmu pengetahuan masih dibawah nauungan filsafat. Beerbeda dengan masa ini, filsafat berada dibawah naungan sains.

Jenis yang terakhir adalah para penempuh jalan kebenaran yang mendapat ma’rifah dan mukasyafah dari Allah secara langsung. Orang-orang seperti ini disebut dengan para sufi. Sufi mendapatkan kebenaran bukan dari pencarian, melainkan mendapat langsung dari Allah berupa ilham dari mukasyafahnya.

Dari keempat kategori tersebut, tidak disebutkan golongan Ahlu Hadist atau Ahlu Atsar yang sering dikatakan sebagai  kebalikan dari Ahlu Ra’yi. Filosof dan para Muttakalimun disebutkan sebagai Ahlu Ra’yi sedangkan para sufi dan al-Bathiniyah merupakan pengguna potensi-potensi batin atau rohani dalam menempuh jalan kebenaran. Lalu pertanyaannya dimanakah ahlu atsar ditempatkan?

Untuk pertanyaan tersebut, tidak ditemukan jawaban yang tercantum dalam kitab al-munqidz min ad-dholal, tapi menurut Al-Ustadz Mujtaba’, alasan Imam Al-Ghozali tidak mencantumkan jenis pencari kebenaran yang berisi orang-orang ahlu atsar karena seluruh pencari kebenaran tersebut diatas merupakan golongan Ahlu atsar kecuali Al-Bathiniyah yang merupakan orang orang syiah. Tapi, menurut beliau yang membedakan mereka semua adalah jalan yang ditempuh untuk mencapai kebenaran. “mereka semua merujuk pada hadis-hadis Rosul” tutur beliau. Model pembawaan yang diterapkan oleh para mutakalimun berbeda dengan filosof begitupun dengan para sufi.

Baca Juga:
Mengenal Ekonomi lslam Lebih Dekat Melalui “Tress Growing Finance”
Merajut Ukhuwah Dengan Dakwah Bernuansa Ilmiah melalui FoSSEI
Kun Manba’al Hikmah Li syu’uni Iqthisadiah Nuharribu Riba

            Catatan terakhir yang diberikan Al-Ustadz Mujtaba dengan mengutup perkataan Imam Al-Ghozali adalah “Setiap penyakit berbeda-beda obatnya. Beberapa obat bermanfaat untuk satu orang, tapi beracun untuk orang lain”

Pen. Mawardi Dewantara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *