Manusia dan agama

Manusia dan agama

afi.unida.gontor.ac.id – Perdebatan tentang manusia selalu menjadi pokok bahasan oleh para ilmuan dan para ulama di dunia barat atau di dunia islam sendiri, tentang hakikat asal manusia sampai pada tujuan di ciptakannya manusia tersebut, namun tidak di pungkiri dari zaman yunani hingga saat ini masih banyak manusia yang tidak mengetahui asal dan tujuan penciptaannya, yang berdampak pada tindak tanduk manusia tersebut sehingga cenderung tidak memiliki kepribadian.

Pengertian manusia

Dalam buku worldview islam terdapat tiga kata yang merujuak kepada artian manusia, Insan, basyar dan bany adam atau dzurriyatu adam. Insan, berinduk kepada kata dalam bahasa arab (nasiya-yansa) di analogikan dengan kecenderungan manusia yang sering melupakan tuhannya. Basyar, kata basyar di artikan dengan tahapan –tahapan manusia yang bertumbuh hingga mencapai nkedewasaan, sedangkan bany adam atau dzurriyatu adam merupakan analogi bahwasanya manusia merupakan keturunan nabi adam.

Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak luput dari manusia lainnya, menurut ibnu thufail manusia terdiri dari dua aspek yaitu aspek materi dan immateri, aspek materi inilah yang cenderung punah, sedangkan aspek immateri merupakan jiwa dari manusia yang bersifat kekal, dan jiwa inilah yang mampu mengetahui tuhan  dan menjadi bagian yang paling terpenting dalam diri manusia.

Menurut Al Ghozali manusia terdiri dari jism, ruh, dan nafs. Jism merupakan bagian materi yang cenderung tidak kekal yang Nampak dan terindra, ruh merupakan panas atau haroroh ghoriziyah yg mengalir pada nadi dan syaraf, sedangkan nafs, merupakn bagian yang paling terpenting dalam diri manusia terbagi menjadi riga bagian: nafs an nabatiyah atau jiwa tumbuh tumbuhan yang membutuhkan makan dan berkembang, nafs al hayawaniyah atau nafs yang cenderung memiliki hasrat yang besar, yang ke tiga nafs al insaniyah yang merupakan kesempurnaan dari nafs nafs sebelumnya cenderung bisa mengambil tindakan sesuai dengan pertimbangan akal, maka manusia yang sempurna ialah manusia yang mampu mengendalikan ke tiga nafsu di atas agar mampu mencapai derajat tajally al ilah.

Tujuan di ciptakannya manusia

Di antara tujuan di ciptakannya manusia ialah untuk beribadah kepada Allah, beribadah dalam artian taat dan tunduk kepada perintah Allah namun, dalam hal ini manusia bisa memilih antara taat atau melanggar aturan tuhannya dengan akalnya sehingga inilah kemudian yang mengakibatkan manusia itu sendiri harus bertanggung jawab atas tindak tanduknya di bumi. Tujuan lain di ciptakannya manusia ialah untuk menjadi khalifah fil ardh, pemimpin bagi bumi yang di tinggalinya, pemimpin untuk nagara dan keluarganya, dan pemimpin bagi dirinya sendiri dalam islam ada empat sifat yang wajib di miliki oleh pemimpin ialah: shiddiq (jujur), amanah (dapat di percaya), tabligh (dapat menyampaikan), fathonah (cerdas).

Pengertian agama

Secara etimologi agama berasal dari bahasa sanskerta, dari kata (a) yang berarti tidak dan (gama) yang berarti rusak atau kacau, yang berarti agama di definisikan dengan tidak rusak atau tidak kacau. Dalam dunia barat agama sangatlah buruk, bahkan orientalisme pun mempelajari agama namaun dengan tujuan untuk menemukan kelemahan atau kekurangan dari agama, barat menyatakan bahwa agama adalah candu pendapat ini di cetuskan oleh Marx pada masaanya, Emilie durkhem menyatakan bahwa agama merupakan produk budaya masyarakat.

Dalam islam agama bukanlah sekedar fanatic akan tetapi merupakan fitrah bagi setiap manusia, karena pada dasarnya manusia merupakan makhluk yang lemah dan terbatass dalam segala hal, sehingga menurut al ghozali rasio atau nalar manusia tidak akan mampu berjalan tanpa ada ajaran yang berdasarkan pendeengaran, atau nalar manusia tidak mampu berjalan tanpa di sertai dengan ajaran- ajaran tertentu.

Hubugan manusia dan agama

Telah di utusnya para nabi dan rosul oleh Allah SWT sebagai pengingat akan tujuan-tujuan do ciptakannya manusia itu sendiri, agar manusia itu sendiri tiidak tersesat dari jalan jalan kebenaran maka di sinililah kemudian adanya agama sebagai jalan yang lurus bagi manusia.

Setiap ciptaan Allah memiliki fitrah atau sifat bawaan natural yang menjadi anugerah Allah pada makhluknya begitu pula dengan manusia, pada dimensi jasmani misalnya manusia memiliki fitrah makan, minum, istirahat dll, sedangkan pada dimensi ruhani manusia memiliki kebutuhan yang bersifat spiritual yang mampu menimbulkan ketenangan dan ketentraman pada hati, maka pada dimensi inilah manusia sangat membutuhkan agama.

Dalam Islam sudah di jelaskan bahwa manusia ketika masih berada di dalam alam sebelum masuk kealam bumi ketika masih menjadi janin pada saat itu pula manusia sudah berjanji untuk mengakui akan adanya tuhan yang berarti telah mengkaui akan suatu agama , yang dengan inilah menjadikan beragama atau bertuhan merupakan naluri atau fitrah setiap manusia. Dengan menjalankan fitrah sebagai manusia maka manusia itu sendiri dengan alaminya akan menimbulkan perasaan yang tenang atau bahagia seperti orang yang kelaparan kemudian makan untuk mencukupi kebutuhan jasmaninya maka bersama dengan itu pula menjadikan nya menjadi lebih nyaman seperti itulah jiwa manusia yang menafikan fitrah beragama tersebut, akan memiliki kegelisahan moral atau jiwa yang tidak tenang karena manusia memang makhluk yang lemah yang selalu membutuhkan tempat untuk berlindung atau mencurahkan hal hal yang semestinya, oleh karena itu maka agama semestinya tidak lepas dari manusia seperti manusia yang membutuhkan agama, bahkan ketika manusia telah tiada agama pun masih ada, seperti itulah kebutuhan manusia terhadap agama tersebut.            

Keterbatasan manusia atau manusia itu adalah makhluk sosial yang selalu membutuhkan makhluk lainnya, dalam perkara perkara ghaib untuk menentukan atau mengetahui sesuatu banyak yang tidak bisa manusia kupas dengan perantara tekhnologi walaupun telah kita ketahui bahwa kita hidup di dunia yang serba bertekhnologi, namun dalam perkara ghaib manusia selalu membutuhkan agama untuk menjelaskan hal hal yang bersifat ghaib tersebut, bahkan banyak fenomena fenomena yang di luar nalar manusia di situlah kemudian peran agama untuk menjawab hal hal tersebut.nalar manusia atau panca indera, akal dan lain sebagainya terkadang tidak mampu menembus ranah ranah tersebut namun agamalah yang berperan di dalamnya sehingga manusia tidak lagi kebingungan dan mendapatkan titik terang dari ketidak tahuannya.

Oleh: Sulhadi
Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Darussalam Gontor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *