Punahnya Manusia

          afi.unida.gontor.ac.id-Piranti genggam yang dulu menjadi barang langka kini sudah menjadi kebutuhan primer bagi setiap orang. Bagaimana tidak, seluruh kebutuhan sudah banyak melibatkan perangkat lunak dan sistem elektronik. Walaupun di beberapa sektor masih banyak ditemui transaksi ataupun kegiatan yang dilakukan tanpa perantara elektronik. Apalagi di masa pandemi Covid 19, dimana setiap orang harus mengurangi interaksi dengan orang lain secara langsung. Hal tersebut menuntut masyarakat memanfaatkan perangkat elektronik gawai untuk mendukung aktivitasnya, terutama dalam memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Meluas dan meningkatnya pemanfaatan gawai memang mempermudah banyak hal. Tapi daibalik besarnya manfaat dan keuntungan penggunaan gawai, terdapat bayangan hitam yang membawa serta ekses negatif atas pemanfaatan kecanggihan gawai tersebut.

            Ekses negatif yang dirasakan kadang tak sepadan dengan keuntungan atau manfaat yang diberikan. Niat baik terkadang berujung lara, niat baik untuk mempermudah kehidupan manusia malah berakhir dengan perampasan kemanusiaan. Rasa empati yang menjadi ciri kemanusiaan kini lambat laun semakin terkikis oleh ego dan kepentingan pribadi. Kemudahan untuk melakukan segala hal tanpa perlu bantuan orang lain menjadi sumber permsalahan kehidupan sosial yang banyak ditemui di masyarakat. Tanpa harus pergi ke PLN, TELKOM, atau SAMSAT dan mengantri panjang, setiap orang dapat melakukan transaksi dari gawainya masing-masing. Tapi hal-hal tersebut semakin lama menjadi penyakit akut bagi kebanyakan orang. Terbiasa memenuhi kebutuhannya sendiri membuat kebanyakan orang lupa akan kewajibannya menjadi manusia. Bukan hanya kegiatan masyarakat yang mendapat pengaruh dari kemajuan elektronik, tapi juga kepribadian, sifat, dan cara berfikirpun semakin bergeser karena berbagai pengaruh tersebut.

            Kata “Kemanusiaan” yang seharusnya menjadi identitas setiap orang sedikit demi sedikit digantiakn oleh “kerobotan”. Dimana setiap orang bekerja, bertindak selaras dengan kepentingan dan keinginanya semata tanpa hirau untuk mempertimbangkan kepentingan dan urusan orang lain. Selain itu, penyakit “mental instan” juga menjadi virus bagi kesehatan jiwa, virus tersebut memperparah penyakit penyakit yang lain. Diantara gejala yang ditimbulkan dari virus tersebut adalah hilangnya kepekaan sosial, lemah motifasi, dan phobia terhadap kegagalan. Padahal manusia tidaklah mungkin terlepas dari hal-hal tersebut. Bahkan bisa dibilang kehilangan hal-hal tersebut berarti kehilangan kemanusaannya.

            Menemukan manusia yang masih memegang teguh kemanusiaan di masa ini bagaikan mencari emas mentah di sungai-sungai. Terlalu banyak manusia yang tak lagi menjadi manusia sepenuhnya, beberapa dari mereka menjadi siluman setengah robot. Walau badan masih berbentuk manusia, tapi jiwanya bagaikan mesin elektronik. Mausia yang utuh menjadi spesies langka di masa ini. Sehingga tak jarang ada orang yang membutuhkan teman bicara ataupun tempat pelampiasan isi hati tak mendapatkan sosok manusia yang bisa menjadi tempatnya kembali, dan berakhir pada pencurahan isi hati pada media sosial. Dampaknya, media sosial yang biasa menjadi tempat curhat kian lama akan menjadi candu bagi penggunanya. Bisa dibilang hal tersebut menjdai narkoba bagi manusia di masa ini. Mungkin saja suatu hari nanti Badan Narkotika Nasional (BNN) akan mendapat tambahan pekerjaan untuk menangani orang-orang yang terkena candu media sosial.

            Semakin jauh zaman ini berjalan, semakin punah umat manusia, digantikan oleh para siluman robot. Sampai kiranya dapat terbayang pada benak, bentuk dunia di masa depan. Tak ada lagi kemanusiaan, penyakit mental instan semakin akut dan kronis, korupsi menjadi tradisi, orang-orang menuntut jabatan tanpa menghargai proses, pembela kepentingan tak lagi berpihak pada rakyat atau pemerintah, melainkan lebih menuhankan nafsu kepentingan dan egosentris. Inikah yang digambarkan sebgai kiamatnya umat manusia? Atau ini termasuk dari tanda-tanda kiamat yang dijelaskan Rasulullah? Astaghfirullah….astaghfirullah….Masih adakah harapan hidup bagi manusia di dunia virtual ini? Atau hanya menjadi angan semata? Atau mungkin berakhir punah. 

One comment

  1. Pingback: Family Gathering Ushuluddin : Dosen Yang Mengajarkan Kemudahan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *