“Ilmu sebagai Esensi Manusia” Ust. Hasib Amrullah

“Ilmu sebagai Esensi Manusia” Ust. Hasib Amrullah

http://unida.gontor.ac.id – Al-ustadz Hasib Marullah mengisi kajian Filsafat Islam yang merupakan salah satu rentetan acara AFI Camp pada kamis siang (11/2/2020). Dalam kajian tersebut, beliau menyatakan mausia dengan akalnya bagaikan manusia dengan esensinya.

            Manusia menurut jenisnya masih serumpun dengan binatang, tapi esensi manusialah yang kemudian membuatnya berbeda dengan binatang. Dalm ilmu manthiq, esensi pembeda ini dinamakan dengan Fshl. Al- ustadz Hasib Amrullah menjelaskan bahwa manusia merupakan hewan yang mampu berbicara.  “manusia adalah hewan yang natiq atau berbicara” jelas beliau.

            Maksud dari berbicara sendiri adalah penyampaian isi pikiran atau perasaan kepada orang lain. Sedang cara manusia menyampaikannya tak lain adalah dengan perantara bahasa yang merupakan hasil dari pikiran manusia yang disepakati. Bahasa itu pula yang kemudian menjadi ilmu bagi seluruh manusia untuk mengutarakan pikiran dan perasaannya.

            Atau dengan kata lain, bahasa adalah simbol yang berasal dari pikiran-pikiran manusia dan disepakati oleh orang lain untuk dijadikan sebagai alat komunikasi. Oleh karenanya manusi berbicara dengan menggunakan bahasa yang merupakan hasil pikirannya sendiri. Proses yang terjadi di dalam pikiran manusia dalam menciptakan sebuah bahasa, adalah salah satu keunikan yang dimiliki manusia sebagai hewan yanng berbicara.

            Pada kajian ngopi yang lalu, al-ustadz Usman pernah menyapikan perbedaan antara subjek ilmu dan produk ilmu. Sebuah mobil bukanlah disebut sebagi ilmu tapi lebih tepat dikatakan sebagi produk ilmu. Sedangkan manusia pembuat mobil adalah subjek dari ilmu. Lalu ilmu sendiri merupakan pemahaman atau pengetahuan manusia mengenai suatu hal. Atau dapat disebut bahwa ilmu merupakan sebuah proses berfikir yang dilakukan oleh manusia. lihat selengkapnya di Beda : Islamisasi dan Integrasi Ilmu

            Oleh karenanya tidak salah ketika dikatakan bahwa bahasa meupakan produk ilmu yang dihasilkan oleh manusia. Dan tidak salah pula jika menyatakan bahwa ilmu merupakan bekal awal yamg dimiliki  manusia sebelum adanya bahasa.

Bahasa Menjadi Alat Komunikasi

            Adanya bahasa telah memudahkan manusia berinteraksi dan menyampaikan gagasan serta ide-idenya kepada orang lain. Selain itu keberadaan bahasa jugalah yang telah mengembangkan ilmu yang dimiliki manusia. Kajian dan penelitian-penelitian yang dilakukan selama ini tak bisa dipisahkan dari peran penting bahasa didalamnya.

            Al-Ustadz Hasib juga menjelaskan alur atau proses manusia dalam berbicara yang merupakan kegiatan esensial dari manusia. Manusia berbicara menggunakan bahasa yang berasal dari pikiran, sedangkan pikiran sendiri selalu bekerja berlandaskan ilmu. “berbicara itu menurut pikiran yang berlandaskan ilmu” jelas ust Hasib. Tanpa ilmu, manusia tidaklah mampu menggunakan bahasa ataupun menciptakan bahasa sendiri.

Manusia Mencapai Keadilan

            Dengan pikiran dan ilmu itulah manusia berfilsafat serta mengembangkan peradaban manusia. Dalam dunia islam, filsafat juga sering disebut dengan hikmah yang berarti adil atau mampu meletakkan sesuatu pada tempatnya. kemampuan untuk adil ini merupakan hasil kerja pikiran yang berlandaskan pengetahuan mengenai tampat yang tepat untuk sesuatu tertentu. Seperti halnya meletakkan posisi mulut sebagai alat untuk makan merupakan perintah pikiran yang bergerak berdasarkan ilmu yang dimilikinya. Dari ilmu dan pikiran manusialah tercipta peradaban yang terus berkembang seiring waktu.

3 Comments

  1. Pingback: AFI Camp : Eratkan Persaudaraan Dosen dan Mahasiswa

  2. Widi Suharto

    Dari segi fisik manusia beda tipis dengan binatang, bahkan ditinjau dari giginya, kelenjar keringat dan alat pencernaannya manusia tergolong herbisida. Manusialah yang membedakan dirinya sebagai omnifora atau pemakan segala. Inilah yang menjatuhkan dirinya sebagai manusia yang rakus. Akal budi dan moràllàh yang mengangkat manusia sebagai makhluk mulia yang bermartabat dan derajatnya ditinggikan dihadapan Tuhan. Masihkah manusia mengingkari

  3. Widi Suharto

    Dari segi fisik manusia beda tipis dengan binatang, bahkan ditinjau dari giginya, kelenjar keringat dan alat pencernaannya manusia tergolong herbisida. Manusialah yang membedakan dirinya sebagai omnifora atau pemakan segala. Inilah yang menjatuhkan dirinya sebagai manusia yang rakus. Akal budi dan moràllàh yang mengangkat manusia sebagai makhluk mulia yang bermartabat dan derajatnya ditinggikan dihadapan Tuhan. Masihkah manusia menghindarinya?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *