Sebuah Drama : Perdebatan Imam al-Ghozali dan Seorang Syiah

Sebuah Drama : Perdebatan Imam al-Ghozali dan Seorang Syiah

http://unida.gontor.ac.id – Meneruskan kajian al-Munqidz mi ad-dholal, al-ustadz mujtaba’ menjelaskan beberapa kritikan yang dilontarkan Imam Al-ghozali terhadap berbagai persoalan yang ada pada ahllu ta’lim atau para penganut syi’ah pada masa itu.Kajian Pekanan Kitab Al-Munqid min al-dholal

            Pembahasan malam itu meliputi 2 hal yang menjadi sasaran kritik bagi Imam al-Ghozali untuk mematahkan beberapa logika yang melenceng dari jalan islam. Dua hal itu berkenaan dengan penetapan sumber hukum dan perselisihan yang terjadi antar umat penganut syi’ah sendiri.

            Dalam kitab tersebut, imam al-Gozali memberikan penjelasan dengan menyajikan tulisan kepada para pembaca menggunakan cara penulisan yang sangat menarik. Hingga pembaca merasakan perasaan nyaman seakan sedang membaca naskah drama dengan perdebatan yang cukup panas.

Pada mulanya, perdebatan itu diawali dengan narasi yang menjelaskan tentang beberapa ajaran penganut syiah. Diantaranya adalah kepercayaan terhadap imam yang ma’sum terutama Ali bin Abi Tholib. Selain itu, dalam ajaran  syiah, setiap perkara yang tidak dijelaskan dalam nash kitab harus dikembalikan kepada imam yang notabene tidak pernah salah untuk mendapatkan hukum yang tepat.

            Dari narasi tersebut, Imam Al-ghozali menyusun pertanyaan seperti halnya sutradara film merangkai percakapa naskahnya. Dimulai dengan pertanyaan dari seorang syi’ah kepada Imam al-Ghozali “apa yang anda lakukan jika menemukan masalah sedangkan masalah tersebut tidak tercantum pada nash kitab? Akankah anda menggunakan ijtihad yang bersifat spekulatif dan banyak menjadi sumber perselisihan umat?”.

            Pertanyaan tersebut seakan menggambarkan bagaimana cara kaum syiah mendebat umat islam. Dengan menyebutkan beberapa titik lemah sembari menunjukkan bahwa dirinya memiliki jalan yang lebih tepat, mereka memancing umat islam untuk menjatuhkan agamanya sendiri. Begitulah biasanya para profokator ketika memualai orasinya.

            Naskah percakapan tersebut disambung dengan menyebutkan jawaban Imam al-Ghozali sendiri. Beliau mematahkan pertanyaan tersebut dengan kembali bertanya dengan pertanyaan yang mungkin dapat membuat sosok syi’ah dalam drama buatannya sendiri itu terdiam kebingungan.

            Beliau menjelaskan bahawa sudah sewajarnya umat muslim memiliki perbedaan pendapat karena para ulama yang melakukan ijtihad memiliki sudut pandang yang tidak sama satu sama lain. Tapi menjadi aneh jika umat yang hanya memiliki satu imam dan merujuk kepada imam tersebut dalam setiap masalahnya masih terjadi perselisihan pendapat diantara mereka. Padahal mereka hanya menjalanka apa yang ditetapkan iamamnya.

            Jawaban tersebut seakan menjatuhkan logika ajaran syi’ah dengan menyebutkan  permasalahan yang dimiliki pada realita kehidupan kaum syi’ah selama menerapakan ajarannya. Di lain sisi, Nabi sendiri pernah mengatakan bahwasannya perbedaan yang terjadi antara umatnya merupakan suatu bentuk rahmat. Jadi dapat disimpulkan bahwa perbedaan yang terjaadi antar ulama merupakan hal yang biasa dan tidak berarti buruk.

            Selanjutnya Imam al-Ghozai meneruskan dialog seakan tak memberi celah untuk si syiah mengutarakan pendapatnya. Beliau menjelaskan berbagai kelemahan yang terdapat pada metode syiah dalam menetapkan hukum. Seperti, Jika seseorang mendapati suatu permasalahan di tempat yang jauh dari tempat sang imam tinggal dan tidak ada cara untuk bertanya kecuali harus menempuh jalan yang cukup jauh, sangat dimungkinkan sebelum orang tersebut mendapatkan jawaban atas permasalahannya, ia meninggal di tengah jalan menju daerah sang imam berada karena waktu yang dibutuhkan cukup lama.

Contoh yang lain adalah jika ada permasalahan dalam penyelenggaraan sholat wajib dan harus merujuk kepada imam yang tinggal sangat jauh dari tempat itu, niscaya jawaban dari permasalahan tersebut akan didapatkan, sedangkan waktu sholat wajib tersebut sudah habis. Begitulah gambaran analogi yang diutarakan Imam al-Ghozali dalam menanggapi kauum syiah di masa itu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *