Dokter Sejati

Dokter Sejati

afi.unida.gontor.ac.id Profesi yang gencar tersebut di berbagai media kini. Tersorot nian setiap hari. Perburuan media utama di setiap media sosial, bahkan menjadi headline di beberapa siaran nasional hingga internasional. Profesi yang dulu kerap menjadi cita-cita pertama setiap anak, manusia terhebat usai seorang guru. Manusia berjas putih dengan segala tangan ajaib penyembuh segala rasa sakit. Bukankah itu yang selalu tergambar di setiap benak seorang anak?

Hingga tahun berganti, pandemi ini tak segera berakhir, bahkan angka kematian memasuki lebih dari dua juta jiwa, terserap seluruh sinergi nakes, minim sarana dan prasarana, penggali kubur kewalahan, berbagai pesan terusan menyedihkan di sosial media dan segala emosi sedih, pasrah, khawatir, gelisah, dan aura negatif begitu menyebar cepat, merembet segala lapisan masyarakat. Betapa angka keputus asaan tak lagi sulit ditebak.

Apakah ini yang diinginkan oleh Sang Penguasa?

Penyakit ini memang benar adanya. Benar nyata bahayanya, benar kisah sedu sedannya. Terbilang konspirasi, invisible hand, dan apapun itu, semua masih prasangka. Bukan meniadakan. Hanya saja, bagaimana kelanjutan sikap seseorang jika mengerti ini sebuah konspirasi? Tak semata meninggalkan segala protocol kesehatan yang sudah seharusnya dilaksanakan.

Sang Penyembuh. Dia jawaban atas segala pertanyaan. Tapi, sering kita menutup diri untuk memahami jawaban atas pertanyaan-pertanyaan bertubi-tubi itu. Sering kita tertutup dengan segala kekhawatiran tak berdasar. Sering kita terbiaskan dengan segala kegelisahan, ketakutan, hingga lupa untuk apa kita masih bertahan hingga detik ini, menyaksikan sekian jiwa pergi kembali kepada-Nya, tervonis karena wabah ini. Lantas, untuk apa kita masih bertahan?

Apakah bersisa, Dia ingin manusia terjerembab dalam segala kekhawatiran, kekosongan tiada kegiatan, kemalasan lantaran takut melakukan segala aktivitas dan tindakan?

Dunia tidak sekali melewati masa ini. Sejarah menceritakan itu semua. Kakek nenek moyang kita sudah melewatinya. Dan nyata, dunia masih berjalan, hanya berganti tokoh manusia.

Berartikah hidup sekali ini hanya dengan penuh kekhawatiran?

Melalui Ibn Sina, seorang filsuf, ilmuwan, dan juga dokter, dengannya terbuka setetes cahaya ilmu-Nya. Siapakah dokter sejati yang selayaknya untuk selalu ada di setiap zaman, titik terang segala penyakit. Setiap penyakit pasti ada obatnya, kecuali satu, kematian. Bahkan penyakit cinta yang terbilang buta, tak sedikit obat penenang untuk itu.

Sebelum membahas titik terang yang dimaksud Ibn Sina, dikisahkan sebuah pertemuan Ibn Sina bersama murid-muridnya dengan Abu al Rayhan al-Biruni, seorang ulama.

Sebuah pertemuan dengan al-Biruni usai sebuah perjalanan, Ibn Sina meminta larutan cuka untuk mencuci tangan dan wajah, meminta pakaian ganti, sama halnya dengan protokol Kesehatan kini, dengan penggunaan sabun atau alkohol (murni) untuk membunuh virus. Ia meyakini bahwa semua penyakit menular disebabkan oleh kainat daqiqah (mikroorganisme) yang tak dapat dilihat, bisa menempel pada apa saja, pakaian, wajah, tangan, dan rambut.

Sikap ini membuat al-Biruni bertanya, ‘Ini Tradisi bangsa mana?’

Seraya Ibn Sina menjawab, ‘Tradisi ini harus berlaku di negara-negara tempat wabah hitam (Black Death) bersembunyi’

Tak hanya itu, bahkan ia menerangkan pula untuk menjauhi kerumunan manusia, selain itu dokter dan segenap paramedis yang merawat harus mensterilkan hidungnya dengan kapas yang direndam dalam cuka, lantas mengunyah auraq al syaikh (semacam daun-daunan). Bahkan istilah karantina itu sendiri telah dikenalkan oleh Ibn Sina, metode mengisolasi pasien selama 40 hari, yang ia sebut sebagai al arba’iniyyat (40 harian), dalam Bahasa Italia disebut quarantine, terserap dalam Bahasa Indonesia menjadi karantina. Kemajuan teknologi meyakinkan bahwa masa karantina cukup selama 14 hari.[1]

Segala solusi ini, tentu tak menjamin surutnya was-was dalam diri manusia. Tak hanya sekali dunia diselimuti wabah. Betapa besar ketakutan yang kalut menyelimuti hati manusia. Ibn Sina memberi nasihat. Nasihat yang berupa 3 tips untuk tetap menjaga sehat jasmani rohani, yang lantas dikutip oleh Musthofa Husni (مصطفى حسني) dalam kitabnya yang berjudul عش اللحظة, 3 tips itu antara lain;

الْوَهْمُ نِصْفُ الدَّاءِ، الاِطْمِئْنَانِ نِصْفُ الدَّوَاءِ، وَالصَّبْرُ أَوَّلُ خُطْوَاتِ الشِّفَاءِ.

“Kepanikan adalah separuh penyakit, Ketenangan adalah separuh obat, dan Kesabaran adalah Permulaan Kesembuhan”[2]

Tanpa kita sadari, sehebat apapun segala upaya medis, herbal, hingga sealami apapun itu. Obat itu sendiri tertanam dalam diri setiap manusia. Sang Pencipta menghadirkan satu masalah, tapi di balik itu disertai seribu solusi.

Bahkan, seorang pelawak yang tak lagi asing di telinga kita, Charlie Chaplin[3], ia mengungkapkan bahwa ada enam dokter terbaik di dunia, tak lain ialah; Sinar Matahari, Istirahat, Olahraga, Diet, Kepercayaan Diri, dan Teman. Bukankah ini hal yang mudah? Tapi, seringkali kita abai. Berpijak pada segala kemajuan teknologi, kepiawaiannya resep dokter, tanpa kita sadari bahwa obat itu sudah ada di dalam diri kita sendiri.

Bukan bermaksud meremehkan segala kemajuan pengetahuan. Tetapi, seringkali menghargai diri sendiri adalah kunci memahami dunia. Menyayangi diri sendiri adalah arti mencintai dunia. Seperti yang diungkap Lao zi, seorang legendaris yang konon lahir di Musim Semi dan Gugur di Tiongkok, bahwa ‘Jika kita mencintai diri sendiri lebih daripada dunia, kita bisa memegang dunia. Di sisi lain, jika kita menyerahkan seluruh diri kita untuk mencintai dunia, bagaimana kita bisa memegang dunia?’[4]

Untuk apa berpijak, bersandar pada segala dugaan pengetahuan, tapi masih terjerembab dalam lubang kekhawatiran. Untuk apa sosok jiwa sehat penuh empati namun terkukung kegelisahan, lantas terdiam tak bergerak lantaran takut segala resiko, bahkan bisa dibilang hanya menambah semakin tidak berartinya hidup seseorang.

Tak panik. Tenang. Sabar. Tiga hal sederhana yang ingin diungkap Ibn Sina. Tak ada manusia yang berani menolak kesedihan, ketakutan. Ada dua golongan manusia yang mampu menolak kesedihan dan ketakutan, mereka yang sudah tertutup hatinya oleh segala nafsu dunia, dan mereka yang percaya bahwa ini semua adalah kuasa-Nya.

Jika kita tergolong pertama, betapa merugi. Jika kedua, Tuhan lebih tahu isi hati manusia.

Dengan segala istilah dan upaya baru di masa pandemi ini. Khawatir, gelisah, amarah, takut, dan apapun itu. Jangan lupa, hidup penuh kekhawatiran itu hanya semakin menambah tidak berartinya arti kehidupan. Jalani saja apa yang seharusnya dijalani. Kekhawatiran itu cukup tersimpan dalam do’a. Tuhan lebih tahu apa arti kekhawatiran setiap ciptaan-Nya.

Cukup tetap produktif sedia kala menjalani hidup. Hidup ini sudah sangat adil, tanpa kita perlu bicara hakikat adil lagi sebenarnya. Semoga lekas sembuh, dunia.

Pen. Alifah Yasmin, S.Ag.
Mahasiswi Program Pasca Sarjana AFI UNIDA Gontor.

Daftar Pustaka

Qalyubi, Syihabbuddin. red; Nashrullah, Nashih, Konsep Ibnu Sina dalam Hadapi Wabah dan Pembuktian Ilmiahnya, Rubrik Islam Digest, Harian Republika, Selasa 02 Juni 2020, 04:00 WIB
حسني، مصطفى. عيش اللحظة، مراجعة علمية، أطلس للنشر والانتاج الاعلام، الطبعة الثانية، 2015
Do Hyun, Shin. Na Ru, Yoon, The Power of Language, terj: Hyacinta Louisa, Ponorogo: Penerbit Haru, 2020.


[1] Syihabbuddin Qalyubi, red; Nashih Nashrullah, Konsep Ibnu Sina dalam Hadapi Wabah dan Pembuktian Ilmiahnya, Rubrik Islam Digest, Harian Republika, Selasa 02 Juni 2020, 04:00 WIB, hal 3.
[2] مصطفى حسني، عش اللحظة، مراجعة علمية، أطلس للنشر والانتاج الاعلام، الطبعة الثانية، 2015، ص. 161
[3] Charlie Chaplin, seorang komedian, sutradara film, dan composer legendaris dari Inggris. Chaplin menulis, menyutradarai, memproduksi, menyunting, membintangi, dan mengubah music untuk sebagian besar karya filmnya.
[4] Shin Do Hyun & Yoon Na Ru, The Power of Language, terj: Hyacinta Louisa, Ponorogo: Penerbit Haru, 2020, hal 25.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *