Aqidah dan Filsafat Islam

Beberapa Falsafah Pendidikan Gontory yang Harus Kita Ketahui

(Disadur dari Nasihat Ustadz Dr. Setiawan bin Lahuri)
Siman, 1 Januari 2020

afi.unida.gontor.ac.id- Ada banyak pesan berharga yang disampaikan oleh Bapak Wakil Rektor II UNIDA Gontor, Ustadz Dr. Setiawan bin Lahuri kepada segenap Kepala Bagian di BAUK, Rabu, 1 Januari 2020. Diantara pesan itu berkenaan dengan prinsip, nilai dan ajaran Gontor yang menjadi falsafah pendidikannya.

Beberapa prinsip dasar ini sangat relevan untuk dipegang dan diamalkan seluruh penghuni kampus, terutama bapak ibu dosen sebagai pendidik. Maka, akan rugi bila kita melewatkan catatan berikut;

Pertama, pentingnya memiliki loyalitas. Loyalitas disini adalah kepatuhan dan kesetiaan kita sebagai dosen kepada bapak Rektor dan para pembantunya. Jika bapak Rektor mengeluarkan “ijtihad” -yang tentu dengan musyawarah dan baik untuk semua- berupa kebijakan, keputusan, program kerja dan lainnya, maka tugas kita adalah loyal menaati dan mengerjakannya.

Baca juga: Bapak Dekan: “Pengurus Harus Menjadi Bagian Dalam Menciptakan Budaya Kampus”

Merupakan sesuatu yang tidak baik dan bijak jika kita menyikapi “ijtihad” beliau dengan penolakan. Baik itu berupa protes, keluhan, atau mempertanyakan dengan tidak wajar.

Untuk itu, loyalitas mesti ditunjukkan dengan dedikasi. Dedikasi ini merupakan usaha sungguh-sungguh kita berupa pengorbanan tenaga, waktu dan pikiran untuk mewujudkan sebuah gagasan luhur, dalam konteks ini adalah visi, misi dan program kerja UNIDA Gontor.

Prinsip ini membuat kita selalu bertanya pada diri, “Apa yang bisa kita berikan untuk kampus?”, dan bukan “Apa yang bisa kita dapat dari kampus?”. Seperti pesan yang selalu disampaikan Ustadz KH. Hasan Abdullah Sahal, “Give, Give and Give!”.

“Jangan Materialis!” Inilah prinsip kedua yang disampaikan Ustadz Setiawan. Disini kita diajari berkhidmah Lillah, dengan keikhlasan sebagai jiwanya. Ketika berhadapan dengan tugas, orientasi kita bukanlah uang, tapi keberhasilan dalam mendidik. Maka aktifitas mengajar, melakukan penelitian dan pengabdian masyarakat harus dijiwai dengan keikhlasan. Dengan begitu, keberkahan akan datang.

Baca juga: Pertinggilah Filsafat Hidupmu*

Ustadz KH. Abdullah Syukri Zarkasyi sering menyampaikan, keberkahan itu adalah kebaikan yang terus menerus, baik dalam banyak maupun sedikit. Ustadz Setiawan menambahkan, keberkahan bisa berupa ketenangan jiwa, sikap qana’ah, kenyamanan dan kebersamaan dalam kebaikan. Bukan prinsip Gontor mengejar yang banyak tapi tidak berkah.

Sebagai aplikasi dari dua prinsip ini, tugas kita adalah menjaga identitas tersebut. Tentu ini adalah tugas kita bersama, selain menanamkan pada diri sendiri, juga menularkannya kepada orang lain, terutama anggota bagian, rekan staf dan mahasiwa. Dengan ini Gontor maju, dengan ini kampus kita dikenal dan disegani.

“Kalau kita menjauh dari nilai itu, maka kita akan kehilangan identitas!” Begitu Bapak WR II ini mengingatkan.

“Jika ada benih-benih penyakit yang merusak identitas ini, harus kita hadapi dengan serius”, lanjut beliau.

Benar adanya, karena benih penyakit itu bisa menjangkiti siapapun, kapan pun, dan dimana pun, bisa kita atau sekeliling kita, untuk itu kita harus waspada dan mampu menyikapi dengan benar.

Inilah nilai Gontory yang kekal, yang telah dirumuskan dengan baik oleh para pendiri dengan ilham yang Allah swt berikan kepada mereka.

Untuk menopangnya, diperlukan prinsip berikutnya, bahwa kebaikan harus terus disyiarkan. “Peng sewu”, itulah istilah yang dipilih oleh Ustadz KH. Abdullah Syukri Zarkasyi. Ya, nilai kebaikan harus sering diucapkan, dijelaskan, bahkan sampai pendengarnya bosan dan hapal.

Ustadz Setiawan menasihatkan agar kita tidak kalah dengan kampanye keburukan. “Keburukan saja kalau terus menerus disampaikan, bisa dianggap baik dan dipakai, apalagi yang jelas-jelas kebenaran dan kebaikan, banyak media yang bisa digunakan”.

Selain beberapa prinsip di atas, mantan Dekan Fakultas Syariah ini juga menyampaikan pentingnya berlaku komunikatif dan informatif. Diantara yang bisa dilakukan adalah sosialisasi program, menempelkan struktur, SOP, dan lainnya. Karena dengan begitu, kerja semua bagian akan lancar dan mengurangi kesalahan prosedur dari berbagai pihak. Ini berlaku untuk semua satuan kerja, terutama Bagian Karir Dosen dan Bagian Sarana dan Prasarana Kampus.

Keseimbangan kuantitas dan kualitas SDM juga menjadi sorotan beliau. Selain berkutat pada level kuantitas, aspek kualitas perlu menjadi lompatan program, terutama dari SDM Dosen. Untuk itu, kumpul dosen harus lebih sistematis lagi dari segi pembagian dan materi. Perlu juga, dalam jangka panjang, disusun kualifikasi untuk rekrutmen dosen.

Tak kalah pentingnya, tugas utama kita adalah memperhatikan mahasiswa. Selain pada track-record akademis, kita turut mengawasi kehidupan berasrama dan media sosial mereka. Agar tidak mudah mengabaikan mereka, prinsip “Sū’u-dz-dzanni ‘ismatun” bisa dipakai. Dalam arti, kita memanggil dan menanyai mereka tentang pelajaran, tantang kepondokmodernan,  menguji bacaan al-Qur’an, dan lainnya, dan bukan membeiarkan mereka dengan alasan bersangka baik bahwa mereka sudah baik.

Inilah beberapa prinsip Gontory yang beliau sampaikan, masih banyak yang belum tertuliskan disini. Semoga yang sedikit ini bermanfaat sebagai penguat pandangan hidup kita, bahwa berkhidmah di kampus ini adalah berkorban dengan sungguh-sungguh, ikhlas dan dedikasi. Kita berharap, apa yang yang beliau sampaikan turut menegaskan status kampus kita sebagai “Fountain of Wisdom”, Aamiin.

Pen : Al-Ustadz M. Faqih Nidzom, M.Ag
Dosen Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam

Artikel Lainnya:

One comment

  1. Pingback: Etika Pendidik dan yang terdidik : Fenomena Sistem Pesantren

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *