Aqidah dan Filsafat Islam

Epistemologi Empirisme David Hume dalam Pandangan Islam

afi.unida.gontor.ac.id – Sejak manusia lahir, ia tidak mempunyai pengetahuan sedikit pun, nanti tatkala ia berumur 40 tahu, pengetahuannya akan tumbuh berkembang. Bagaimana mereka masing-masing mendapat pengetahuan itu mengapa dapat juga berbeda tingkat akurasinya.[1] Sebenarnya kegiatan berpikir muncul berbarengan dengan adanya manusia pertama, manusia diberi potensi berpikir untuk memikirkan dirinya dan segala sesuatu yang berada di luar dirinya. Namun mengenai cara berpikir yang sistematis terlihat masih tumbuh perdebatan sampai sekarang.

Periode sejarah pada masa renaissance  memiliki perbedaan yang amat menonjol jika dibandingkan dengan periode abad pertengahan. Salah satunya adalah berkurangnya otoritas gereja dan meningkatnya otoritas ilmu. Dan juga pada abad pertengahan dikenal dengan istilah theoritical science.[2] Yaitu usaha untuk memahami dunia, maka pada masa modern di kenal dengan istilah practical science, yaitu usaha untuk memahami dunia. Dari situ maka tumbuhlah pembebasan dari otoritas gereja menyebabkan tumbuhnya individualisme bahkan cenderung anarkis.

Renaissance berarti kelahiran kembali di mana manusia merasa telah lahir kembali pada sumber-sumber yang murni bagi pengetahuan dan keindahan. Adanya perspektif baru bagi kesenian dan sastra, membuat manusia menjadi optimis. Hal ini diperkuat dengan penemuan-penemuan ilmu pengetahuan modern mulai dirintis pada zaman renaissance yang disebut sebagai era kebangkitan kembali pemikiran yang bebas menjadi suatu kebudayaan modern. Manusia pada zaman renaisance adalah manusia yang merindukan pemikiran bebas, seperti zaman Yunani kuno. Pada zaman renaissance, manusia disebut-sebut sebagai animal rationale karena pada masa ini pemikiran manusia mulai bebas dan berkembang. Manusia ingin mencapai kemajuan (progres) atas hasil usahanya sendiri.[3]

Modernisasi merupakan jalan yang memperlihatkan kunci dalam mengubah kesadaran. Dalam arti luas, modernisasi dapat dipahami sebagai sebuah keberanian dan pengakuan kesadaran sebagai kekuatan dalam dirinya. Dengan demikian era modern ditandai dengan usaha manusia untuk mengoptimalkan potensi diri dalam mengindra, berpikir, dan melakukan berbagai eksperimen dalam mengolah alam. Pada era modern ini muncul berbagai macam aliran besar pemikiran yang salah satunya dikenal dengan empirisme, yaitu yang memperoleh dengan mengedepankan pengalaman, pengamatan indrawi.[4]

Jadi, pengalaman indra itulah sumber pengetahuan yang benar, karena itulah metode penelitian yang menjadi tumpuan aliran emperisme adalah metode eksperimen yang bersandar pada pengalaman indra. Para penganut mazhab ini menolak teori ide-ide natural yang di kemukakan oleh para penganut mazhab rasionalisme. Penganut mazhab empirisme  mengembalikan pengetahuan dengan segala bentuknya kepada pengalaman indrawi. Orientasi ini mendorong mereka untuk serius memperhatikan peristiwa nyata di sekitar mereka serta melakukan eksperimen-eksperimen secara nyata untuk perkembangan ilmu pengetahuan yang lebih baik.[5]

Pada zaman sekarang, epistemologi dalam hubungannya dengan filsafat ibarat pohon dan rantingnya. Pohon filsafat memiliki cabang-cabang berupa sub disiplin filsafat ilmu, etika, estetika, filsafat antropologi dan metafisika. Cabang disiplin filsafat ilmu ini akhirnya memiliki ranting-ranting dan sub-sub disiplin logika, ontologi, epistemologi dan aksiologi. Namun ruang lingkup cabang induk dari epistemologi ini, filsafat ilmu, dapat disederhanakan dalam tiga pertanyaan mendasar: apa yang ingin diketahui (ontologi), bagaimana cara memperoleh pengetahuan (epistemologi) dan apakah nilai pengetahuan tersebut bagi manusia (aksiologi). Ketiganya saling berkaitan, jika ingin membicarakan epistemologi ilmu, maka hal ini harus dikaitkan dengan ontologi dan aksiologi ilmu.[6]

Epistemologi merupakan cabang filsafat yang menyelidiki tentang keaslian, struktur, metode dan validitas pengetahuan. Sebagai cabang ilmu filsafat, epistemologi bermaksud mengkaji dan mencoba menemukan ciri-ciri umum dan hakiki dari pengetahuan manusia, bagaimana pengetahuan itu pada dasarnya diperoleh dan diuji kebenarannya, manakah ruang lingkup atau batas-batas kemampuan untuk mengetahui, epistemologi juga bermaksud secara kritis mengkaji pengandaian-pengandaian dan syarat-syarat logis yang mendasari dimungkinkannya suatu pengetahuan serta mencoba memberi pertanggungjawaban rasional terhadap klaim kebenaran dan objektivitasnya. Epistemologi itu ilmu yang membahas apa itu pengetahuan, bagaimana cara memperoleh pengetahuan.[7]

Persoalan yang termasuk dalam bidang epistemologi, telah dibahas oleh banyak ahli pikir dengan berbagai pendapat mereka yang beraliran satu sama lain. Dalam khazanah filsafat Islam, dikenal ada tiga metode epistemologi, yakni: bayani, irfani, burhani. Bayani didirikan atas teks. Teks sucilah yang mempunyai otoritas penuh untuk memberikan arah dan arti kebenaran, rasio hanya berfungsi sebagai pengawal otoritas teks tersebut. Irfani didasarkan atas pendekatan dan pengalaman langsung (directexperience) atas realitas spiritual keagamaan, sasaran pada aspek otoristik atau baagian batin teks, rasio digunakan untuk menjelaskan pengalaman spiritual tersebut. keberadaan teks suci dan pengalaman spiritual hanya dapat diterima sesuai dengan aturan logis.[8]

Emperisme menurut David Hume sebagai tokoh Barat merupakan sebagian besar pengetahuan manusia yang diambil dari kesan dan ide, sumber pengetahuan sejati, kesan setelah mendasarkan pada kesan maka kita akan mendapatkan keyakinan dan ide yang bisa diandalkan dalam proses pengetahuan. David Hume ialah tokoh Barat yang membangkitkan cita rasa keilmuan melalui ranah kekuatan pengamatan indrawi.[9] Para pemikir Barat mengatakan bahwa empirisme merupakan bagian dari setiap pandangan yang menjadi parameter yang menentukan apa yang mungkin diketahui dan harus diketahui, berusaha mengetahui pengetahuan, menandai sumber-sumber, membedakan variasi-variasi dan menentukan batasannya.[10]

Pengertian Empirisme

Empirisme adalah suatu aliran dalam filsafat yang menyatakan bahwa semua pengetahuan berasal dari pengalaman manusia dan mengecilkan peranan akal. Pengalaman sendiri dapat ditangkap dengan indera yaitu mata, lidah, telinga, kulit dan hidung. Dengan kata lain, kebenaran adalah sesuatu yang sesuai dengan pengalaman manusia.

Menurut Wikipedia bahasa Indonesia Empirisme adalah suatu aliran dalam filsafat yang menyatakan bahwa semua pengetahuan berasal dari pengalaman manusia. Empirisme menolak anggapan bahwa manusia telah membawa fitrah pengetahuan dalam dirinya ketika dilahirkan.[11] Pendapat lain Empirisme yaitu aliran yang percaya bahwa sifat manusia (termasuk kecerdasan dan kepribadian) lainnya sepenuhnya dipengaruhi oleh lingkungan.

Empirisme Berasal dari Bahasa Yunani Yaitu empeiria yang mempunyai arti  Pengalaman, dari bahasa Inggris empiricism.[12] Empirisme sangat menekankan peranan pengalaman dan mengabaikan peranan akal dalam memperoleh suatu pengetahuan. Karena itu jika manusia tidak memiliki pengalaman ia tidak akan mengetahui realitas apapun. Empirisme juga menolak anggapan bahwa manusia telah membawa fitrah pengetahuan dalam dirinya ketika dilahirkan.

Ini menunjukkan bahwa manusia dilahirkan dalam keadaan tidak memilki pengetahuan. kesadaran dan pengetahuan berangkat dari kehidupan praktisnya. Semakin luas dan semakin berfariasi pengalamannya, semakin luas dan semakin berfariasi juga pengalamannya. Kaum empiris tidak mengakui adanya pengetahuan rasional yang mendahului pengalaman. Mereka menganggap pengalaman sebagai asas satu-satunya untuk mendapatkan penilaian yang benar dan sebagai kriteria umum dalam setiap bidang.[13] Sehingga setiap orang yang menyatakan telah memiliki pengetahuan dia harus bisa membuktikan apa itu pengetahuan berdasarkan pengalaman yang dapat di ketahui oleh indra manusia.

Pemikiran Empirisme David Hume

Aliran empirisme dibangun pada abad ke-17 yang muncul setelah lahirnya aliran rasionalisme. Bahkan aliran empirisme bertolak belakang dengan aliran rasionalisme. Menurut paham empirisme bahwa pengetahuan bukan hanya didasarkan dengan rasio belaka. Konsep mengenai filsafat empirisme muncul pada abad modern yang lahir karena adanya upaya keluar dari kekangan pemikiran kaum agamawan di zaman skolastik.

Descartes adalah salah seorang yang berjasa dalam membangun landasan pemikiran baru di dunia Barat. Descartes menawarkan sebuat prosedur yang disebut keraguan metodis universal dimana keraguan ini bukan menunjuk kepada kebingungan yang berkepanjangan, tetapi akan berakhir ketika lahir kesadaran akan eksistensi diri yang dia katakan dengan cogito ergo sum yang artinya saya berpikir, maka saya ada.

Teori Hume ini meruntuhkan teori rasionalisme yang mengatakan bahwa sumber pengetahuan adalah melalui rasio atau akal. Menurut Hume, pengetahuan itu bersumber dari pengalaman yang diterima oleh kesan indrawi. Hal demikian mendorong bagi kita, bahwa untuk menemukan sebuah pengetahuan kita memerlukan pengalaman. Dengan demikian, bahwa untuk membuktikan sebuah kebenaran akan pengetahuan itu memerlukan penelitian dilapangan, observasi, percobaan yang mana dengan cara-cara seperti itulah merupakan titik tolak dari pengetahuan manusia.

Ketika Hume menerapkan teori empirisnya dalam mengkaji eksistensi Tuhan, dia menggunakan bahwa Tuhan yang menurut orang rasionalisme memang sudah ada dalam alam bawaan sebenarnya tidak nyata. Pengetahuan akan Tuhan merupakan sebuah hal yang tidak dapat dibuktikan karena tidak adanya kesan pengalaman yang kita rasakan akan Tuhan. Persoalan Tuhan merupakan persoalan yang berkaitan dengan metafisika.[14]

Pemikiran David hume sangat dipengaruhi oleh pemikiran John Locke ini. Locke dikenal sebagai pengikut Empirisme karena ia menyatakan bahwa pengetahuan berasal dari pengalaman. John Locke memandang bahwa setiap manusia dilahirkan bagaikan selembar kertas bersih, yakni adanya anggapan bahwa semua pengetahuan manusia berasal dari pengalaman dan tiada pengetahuan yang didapat sebelum ada pengalaman .Ini meruntuhkan teori rasionalisme yang menyatakan bahwa pengetahuan  bersumber pada akal atau rasio.Hume membagi Pengalaman yang terdiri dari kesan dan ide .Kesan lebih hidup daripada,dan sumber,ide.Ada prinsip-prinsip tertentu yang memandu kita dalam mengasosiasi ide, yaitu persamaan (resemblence), perhampiran (contiguaty), serta sebab akibat. Pengalaman menghasikan pada diri kita kebiasaan (custom) yang bertanggung jawab menghubungkan dua pristiwa suksetif secara kasual.[15]

Hume menetapkan Prinsip-prinsip dasar Empirisme adalah “Segala gagasan sederhana kita awalnya dihasilkan dari kesan sederhana yang berkaitan dengan gagasan itu dan benar-benar mewakili keberadaannya”. Kita bisa tahu bahwa sesuatu itu ada apabila kita mempunyai kesan atas sesuatu tersebut. jika tidak ada kesan, maka tidak ada gagasan. Jika tidak ada kesan gagasan itu tanpa makna.

Pemikiran David hume tentang Hukum Sebab akibat

David Hume mendefinisikan bahwa Kausalitas dalam artian yang sebenarnya tidak dapat diketahui oleh indra. Karenanya ia mengingkari prinsip kausalitas dan mengembalikannya kepada kebiasaan pengasosiasian ide-ide David Hume menyatakan bahwa pengalaman lebih memberi keyakinan dibandingkan dengan kesimpulan logika ataupun kesimpulan sebab-akibat. Sebab akibat hanya hubungan yang saling berurutan saja dan secara konstan dia juga menyatakan bahwa pengalamanlah yang memberi informasi yang langsung dan pasti terhadap objek yang diamati sesuai waktu dan tempat. Maksud dengan kausalitas adalah pengaruh satu gejala terhadap gejala lainnya dan kebutuhan gejala terakhir itu akan gejala pertama agar maujud.[16]Sebab akibat hanya hubungan yang saling berurutan saja dan secara konstan terjadi.

Hume menjelaskan bahwa pendapat tentang sebab-akibat (kausalitas) itu merupakan suatu hubungan atar idea (relation of ideas). Bahwa setiap peristiwa atau hal pasti memiliki suatu sebab yang menghasilkannya secara pasti. Jika ada sesuatu gejala tertentu disusul oleh gejala yang lain, kita cenderung berpikiran bahwa gejala yang satu disebabkan oleh gejala yang sebelumnya, kesimpulan ini tidak berdasarkan pengalaman. Dengan demikian kausalitas tidak bisa digunakan untuk menetapkan peristiwa yang akan datang berdasarkan peristiwa yang terdahulu.

Pemikiran Hume tentang Eksisitensi Tuhan

Salah satu filsuf paling berpengaruh di zaman modern yaitu Kant, yang juga mempengarui pemikiran David Hume. Kant berpendapat bahwa manusia tidak dapat mengetahui sesuatu apa pun di luar panca indranya, ia juga mengatakan bahwa Allah telah kehilangan  legitimasinya, sebab Allah berada di luar jangkauan indrawi manusia. Para kaum empiris mengatakan bahwa karena posisi teologi itu berkenaan dengan persoalan gaib di luar batas-batas indra, di luar eksperimen ,maka kita wajib mengesampingkannya, dan berpaling kepada kebenaran-kebenaran dan pengetahuan yang dapat diserap dalam lapangan eksperimen.[17]

David Hume menolak argumen filsuf-filsuf terdahulu tentang teori kausalitas yang percaya bahwa alam adalah akibat dan tuhan adalah sebab terciptanya alam menurut logika keberadaan sebab lebih penting dari keberadaan akibat, oleh karena itu keberadaan Tuhan sebagai sebab wajib ada dan mendahului alam, sedangkan alam sebagai akibat mungkin adanya dan setelah Tuhan. Hume menyangkal keberadaan Tuhan dia mengkritik keras bukti keberadaan Tuhan yang diungkapkan oleh Descartes. Dia menyatakan bahwa timbulnya keyakinan terhadap tuhan itu muncul karena manusia merasa takut dan gelisah sehingga mereka mengada-ada dan meyakininya.

Menurut Hume kita tidak mempunyai kesan indra mengenai Tuhan sebagai suatu sebab, kita juga tidak mempunyai kesan apa pun mengenai benda berpikir sebagai akibat. Bagi Hume sangatlah tidak berarti karena kita tidak mempunyai kesan indra mengenai Tuhan, jika tidak ada kesan dalam pengalaman, gagasan itu tidaklah bermakna, tak berarti. Kita tidak bisa mempunyai kesan indra atas zat supranatural, dengan demikian ide ketuhanan tidak lulus dalam uji empiris.

Dengan demikian, bahwa untuk membuktikan sebuah kebenaran akan pengetahuan itu memerlukan penelitian dilapangan, observasi, percobaan yang mana dengan cara-cara seperti itulah merupakan titik tolak dari pengetahuan manusia., dia mengungkapkan bahwa Tuhan yang menurut orang rasionalisme memang sudah ada dalam alam bawaan sebenarnya tidak nyata. Menurut Hume, pengetahuan akan Tuhan merupakan sebuah hal yang tidak dapat dibuktikan karena tidak adanya kesan pengalaman yang kita rasakan akan Tuhan.  

Dari uraian singkat diatas dapat kita simpulkan bahwa Empirisme adalah suatu aliran dalam filsafat yang menyatakan bahwa semua pengetahuan berasal dari pengalaman manusia dan mengecilkan peranan akal. Pengalaman sendiri dapat ditangkap dengan indera yaitu mata, lidah, telinga, kulit dan hidung. Dengan kata lain, kebenaran adalah sesuatu yang sesuai dengan pengalaman manusia.

Hume menolak  teori rasionalisme yang mengatakan bahwa sumber pengetahuan adalah melalui rasio atau akal. Menurut Hume, pengetahuan itu bersumber dari pengalaman yang diterima oleh kesan indrawi. Dengan demikian,untuk membuktikan suatu kebenaran akan pengetahuan itu, memerlukan observasi.

Selain itu mengenai Eksistensi Tuhan Hume menyatakan bahwa pengetahuan akan tuhan suatu hal yang tidak dapat dibuktikan karena tidak adanya kesan pengalaman yang kita rasakan akan tuhan menurutnya  sangatlah tidak berarti, karena kita tidak mempunyai kesan indra mengenai Tuhan, jika tidak ada kesan dalam pengalaman, gagasan itu tidaklah bermakna, tak berarti bagi kehidupan.                                                                                       

Empirisme Menurut Konsep Islam

Empirisme sebagai sebuah paham yang berpandangan bahwa indra atau pengalaman satu-satunya sumber dan instrumen untuk menemukan kebenaran dan mengembangkan ilmu pengetahuan tidak dapat diterima dalam konsep Islam.

Penolakan ini didasarkan pada pandangan bahwa menurut epistemologi Islam sumber kebenaran dan ilmu adalah Allah Swt yang dapat dipahami maksud dan tujuannya dengan mengamati dan menganalisa keberadaan-Nya lewat ayat-ayat quraniyah dan ayat-ayat kauniyah ditambah dengan hadis-hadis Nabi Muhammad Saw. Allah sebagai sumber ilmu pengetahuan dapat dilihat dalam surah Saba’ ayat 1-2 sebagai berikut:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَلَهُ الْحَمْدُ فِي الآخِرَةِ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ (1) يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الأرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنزلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا وَهُوَ الرَّحِيمُ الْغَفُورُ (2)

“segala puji bagi Allah yang memiliki apa yang ada di langit dan apa yang di bumi dan abgi-nya (pula) segala puji di akhirat. Dan Dia-lah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi, apa yang ke luar daripadanya, apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia-lah yang Maha Penyayang lagi Maha Pengampun.”

            Ayat ini menjelaskan bahwa Allah pemilik alam semesta dan segala isinya, dari-Nya segala sesuatu bersumber. Dia juga Maha Mengetahui, tiada yang luput dari pengetahuannya. Semua rahasia alam semesta merupakan milik Allah Swt, bukan rasio, apalagi empiris.

            Secara epistemologi, Allah Swt juga mengajak manusia mempergunakan semua potensinya untuk memahami tanda-tanda kekuasaan-Nya baik di langit maupun di  bumi sebagaimana dinyatakan dalam surat Yunus ayat 101 sebagai berikut:

قُلِ ٱنظُرُوا۟ مَاذَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۚ وَمَا تُغْنِى ٱلْءَايَٰتُ وَٱلنُّذُرُ عَن قَوْمٍ لَّا يُؤْمِنُونَ

“katakanlah: “perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman”.

Dengan demikian, rasio dan empiris dalam epistemologi Islam hanya berfungsi sebagai instrumen untuk menemukan kebenaran dan mengembangkan ilmu, bukan sebagai sumber. Sebagai instrumen, rasio dan empiris digunakan seoptimal mungkin untuk mencerap dan memahami hakikat yang terdapat dalam ayat-ayat quraniah dan ayat-ayat kauniah.

            Daya kritis rasio, dan ketajaman empiris memang telah memberi sumbangan dan pencerahan yang besar bagi kehidupan manusia, tetapi mengenai kebenaran dan realitas yang tinggi, keduanya tetap membutuhkan dukungan dan bimbingan dari sumber yang secara substansial tak mungkin salah dan tak mungkin berubah. Dalam kaitan ini, ayat-ayat quraniyah maupun ayat-ayat kauniyah (alam) merupakan kesatuan kebenaran yang bersumber dari Tuhan yang Maha Esa dan Maha Tahu, maka tidak mungkin terjadi kesalahan dan kontradiksi di antara keduanya.

Kesetaraan yang logis dan rasional antara kebenaran realitas yang tertangkap oleh rasio dan empiris dengan kebenaran ayat-ayat-Nya menjadi prinsip yang fundamental bagi epistemologi ilmu Islam. Karena itu, apa pun teori dan hasil penelitian yang didapatkan oleh manusia jika hal itu tidak sejalan dengan maksud yang dikandung ayat-ayat Allah perlu dipertanyakan kembali tingkat kebenarannya. Hal ini tidak boleh diabaikan begitu saja atau dibiarkan sebagai kebenaran masing-masing yang diakui bersama.

Dengan demikian, pernyataan demi ayat-ayat Allah sebagai sumber pertama dan utama pengetahuan yang benar sama sekali tidak menafikan kebenaran yang dicapai oleh rasio dan empiris yang difungsikan sesuai mekanismenya yang benar. Sebab rasio dan empiris serta Al-Quran yang sama-sama berasal dari Tuhan tidak mungkin sampai pada kesimpulan yang bertentangan jika di gunakan dan di fungsikan mengikuti mekanisme kerja dari penciptanya.

Hal ini sesuai dengan ungkapan Muhammad Abduh sebagaimana dikutip Harun Nasution. yang menyatakan bahwa hukum alam adalah ciptaan Allah dan wahyu juga kalam yang berasal darinya. Karena keduanya berasal dari Tuhan maka ilmu modern sebagai eksplorasi dari rasio dan empiris dari hukum alam (sunnatullah), dan Islam yang sebenarnya berasal dari wahyu tidak bisa dan tidak mungkin bertentangan.

Menurut para filsuf muslim, terdapat daya lain dalam diri manusia, yaitu intuisi (zauq). Menurut al-Ghazali adalah daya yang terdapat dalam diri manusia dan diistilahkannya dengan sir-al-qolb. Melalui intuisi, manusia dapat memperoleh ilmu secara huduri, yaitu hadir secara langsung ke dalam jiwanya. Berbeda dari ilmu husuli (perolehan) yang didapat lewat penggunaan indra dan akal yang kebenarannya dapat diakui jika konsep yang ditemukan berkorespondensi secara positif dengan objek eksternal.[18]

Sama dengan Al-Ghazali, Al-Farabi juga mengemukakan teori bahwa manusia memiliki daya yang jika diasah dengan baik akan membuat manusia mampu menangkap ilmu huduri dalam bentuk wahyu dan ilham dan disebutnya dengan akal muustafad. Daya-daya yang dimiliki manusia itu adalah; daya gerak (muharrikah) terdiri dari makan (gaziah), memelihara (murabbiyah), dan berkembang (muwallidah), kedua, daya mengetahui (mudrikah) terdiri dari akal praktis (al-aqlu an-nazari) dan akal teoritis (al-aqlu an-nazari).[19]

Manusia yang sampai pada daya akal mustafad yang dalam istilah al-Ghazali sir al-qalb ini akan dapat mencerap ilmu secara huduri karena terhubung secara langsung dengan yang Maha ‘Alim dan Pencipta semua realitas. Ia akan memahami hakikat ayat-ayat kauniyah dan quraniyah dengan benar sesuai objeknya. Akan tetapi, manusia yang berada pada posisi di bawahnya hanya akan memperoleh ilmu lewat upaya (kasbi).

Namun juga, Islam secara epistemologi memandang bahwa indra adalah instrumen yang tidak boleh diabaikan dalam proses menemukan kebenaran. Indra berkolaborasi dengan rasio dalam melakukan upaya menemukan kebenaran. Melalui indra kulit, hidung, mata, telinga, dan mulut manusia dapat merasa, mencium, melihat, mendengar dan membaca ayat-ayat Allah di alam semesta. Indra ini juga bersinggungan secara langsung dengan informasi yang tersebar di alam semesta, untuk selanjutnya ditransfer ke akal dan diformulasi menjadi sebuah konsep yang bernilai.            

Maka empirisme adalah aliran filsafat yang telah membangun prinsip-prinsip dasarnya mengacu kepada namanya masing-masing. Namun Islam berpandangan bahwa empiris tidak dapat dijadikan sebagai sumber ilmu dan kebenaran. Ia hanya merupakan instrumen dalam epistemologi Islam. Sesungguhnya ilmu dan kebenaran berasal dari Allah dan tertuang di dalam ayat-ayat-Nya baik yang tertulis maupun yang terhampar di alam semesta.

Oleh: Mohammad Hotibul Umam
Staf Prodi Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Darussalam Gontor


[1] Frithjof Schuon, Hakikat Manusia, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997), p. 14.

[2] Rodliyah Khuzai, Dialog Epistemologi Mohammad Iqbal dan Charles S. Peirce, (Bandung: Refika Aditama, 2007), p.19.

[3] Rizal Mustansyir dan Misnal Munir, Filsafat Ilmu, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), p. 72.

[4] R. Paryana Suryadipura, Alam pikiran, (Jakarta: Anggota IKAPI, 1993), P. 36.

[5] Fuad Farid Isma’il dan Abdul Hamid Mutawalli, Cara Mudah Berpikir Filsafat, (Yogyakarta: Kansius Pustaka Utama, 1992), p. 18-19.

[6] Abdullah Hamid dan Mulyono, Sejarah Kebudayaan dan Pemikiran Modern, (Semarang: Undip Press, 2010), p. 134.

[7] Mizka Muhammad Amin, Epistemologi Islam, (Jakarta: UI Press, 1993) p. 2.

[8] M Amin Abdullah, Wacana Baru Filsafat Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004) p. 9.

[9] Zubaidi, Filsafat Barat (Dari Logika Baru Rene Descartes Hingga Revolusi Sains ala Thomas Kuhn), (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2004), p. 33.

[10] Zainuddin Sardar, Masa Depan Islam, (Bandung: Balai Pustaka, 1978), p. 85.

[11] http://en.Wikipedia.org/wiki/David_Hume

[12] Lorens Bagus, Kamus Besar Filsafat, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama,
1996), p. 197.

[13] Syahid Al-islam Ayatullah Al-‘Uzhma, Falsafatuna, (Bandung: Mizan, 1993) p.40

[14] Harun Hardiwijono, Sari Sejarah Filsafat 2, (Yogyakarta: Kansius, 1993) p. 25-26.

[15] Syahid Al-islam Ayatullah Al-‘Uzhma, Falsafatuna, (Bandung:Mizan,1993) p. 30.

[16] Syahid Al-islam Ayatullah Al-‘Uzhma, Falsafatuna, (Bandung:Mizan,1993) p.34

 [17] Syahid Al-islam Ayatullah Al-‘Uzhma, Falsafatuna, (Bandung:Mizan,1993) p.236

[18] Mesiono dan Wahyudinnur, Epistemologi Islam dan Pendekatan saintifik Dalam Pembelajaran, (Bandung: Citapustaka Media, 2014), p. 23.

[19] Hasyimsyah Nasution, Filsafat Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 1998) p. 39-40.

One comment

  1. Pingback: Sikap Zuhud dan Lingkungan Hidup

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *