Aqidah dan Filsafat Islam

Inilah Pentingnya Otoritas Keilmuan menurut Penasehat PKU Gontor

afi.unida.gontor.ac.id “Hajat umat Islam terhadap pemimpin ini sangat besar,” begitu Ustadz Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi  memulai sambutannya selaku penasehat Program Kaderisasi Ulama sekaligus pakar Filsafat dan Pemikiran Islam UNIDA Gontor. Dalam pembukaan program tersebut, Jum’at (5/7), beliau memang menekankan pentingnya mencetak pemimpin, apalagi pemimpin keilmuan. “Jika pemimpin negara adalah presiden, maka yang dimaksud pemimpin keilmuan ini adalah otoritas, tokoh otoritatif,” lanjut beliau.

Apa yang beliau sampaikan ini memang penting. Di sekitar kita, ada pemimpin negara, ada pemimpin daerah, ada pemimpin organisasi, yang kesemuanya itu kita anggap penting. Namun terkadang kita lupa pentingnya pemimpin dalam dunia keilmuan.

Pemimpin keilmuan itu punya kelebihan, ia akan didengar dan diikuti oleh “jamaahnya”. Semakin kuat otoritasnya, semakin besar juga pengikutnya. Apabila yang disampaikan oleh pemimpin tersebut benar, tentu akan membawa manfaat yang besar untuk umat. Namun realitasnya, dalam dunia pemikiran di Indonesia saat ini, siapakah pemimpin tersebut? Bagaimana jika mereka dari kalangan sekular-liberal yang menjajakan pemikiran nyeleneh yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Pentingnya Mencetak Pemimpin dengan Otoritas Keilmuan

Nah, disinilah pentingnya kita mencetak para pemimpin keilmuan yang mumpuni yang berbagai bidang. Mereka yang akan menuntun umat ke arah yang benar, cerdas dan mampu beradu kompetensi. Dengan idealitas itu, tentu mereka diharapkan untuk memiliki kemampuan menguasai masalah secara mendalam, dengan konsep dan teori yang berkaitan.

Hal inilah yang ditekankan oleh Ustadz Hamid. Beliau berharap, hadirnya Program Kaderisasi Ulama ini akan berhasil mencetak ulama yang menguasai pemikiran Islam secara mendalam, untuk kemudian memberi respons atas permasalahan umat yang muncul, dengan lisan maupun tulisan, untuk kemudian muncul sebagai pemimpin wacana.

“Kesemua itu harus ditopang dengan metode belajar harian yang berpusat pada; membaca, menulis dan diskusi intensif. Tidak boleh tidak. Semua sarana dan buku rujukan akan disediakan,”

“Kita harus bisa merespons semua tantangan yang dihadapi umat, memimpin wacana yang berkembang, jangan sampai dikuasai kaum sekular-liberal. Untuk itu, kalian tidak boleh bodoh, tingkatkan terus intelektualitas dan leadership. Setelah itu, jadilah elit Islam yang memimpin lembaga, wacana, terutama bidang pendidikan,” tegas Direktur INSISTS Jakarta ini.

Dalam sambutannya, Bapak Wakil Rektor I UNIDA Gontor ini juga berpesan agar kemampuan menulis peserta PKU harus ditingkatkan. Karena tugas akhir PKU ini adalah menulis, dipresentasikan, dan dipertahankan secara akademis di hadapan khalayak luas. Syukur, jika semua tulisan tadi bisa masuk jurnal ilmiah atau media mainstream, sehingga manfaatnya untuk umat lebih luas dan terasa.

Selain itu, untuk mempertegas otoritas keilmuan, Ustadz Hamid menyampaikan agar tiap peserta fokus pada satu disiplin keilmuan, namun mendalam dari berbagai aspeknya. Baik dari sisi ontologis, epistemologis maupun aksiologisnya.

Lihat juga Korelasi Worldview Islam dengan Pancasila Sebagai Ideologi Bangsa

Beliau mencontohkan, bagi peserta yang kuat di Ilmu Fiqih, maka hendaknya menguasai perbedaan mazhab dan pendapat para ulama dengan merujuk ke sumber primer maupun sekunder, dan ilmu itu harus menjawab tantangan kontemporer umat. Seperti, bagaimana Fiqih Islam menjawab isu Feminisme dan Gender. Disitulah menunjukkan adanya kebaharuan, dan menunjukkan kekuatan analisa peserta yang bersangkutan.

Untuk menunjang itu, Direktur Program Pascasarjana ini juga menyampaikan bahwa panitia akan menyediakan berbagai hal yang dibutuhkan peserta. “Kesemua itu harus ditopang dengan metode belajar harian yang berpusat pada; membaca, menulis dan diskusi intensif. Tidak boleh tidak. Semua sarana dan buku rujukan akan disediakan,” imbuh beliau.

Beberapa prinsip penting tak lupa beliau tekankan. Seperti keharusan tiap kader ulama nanti, apapun bidangnya, untuk siap menjadi khatib Jum’at, menjadi Imam Shalat, hapal beberapa surat dalam al-Qur’an, reguler shalat berjamaah 5 waktu. Sebagaimana beliau mengingatkan pentingnya menyiapkan mental, menjaga kesehatan, sering-sering bertemu guru, karena kampus ini adalah perguruan tinggi pesantren.
Selengkapnya mengenai Program KAderisasi Ulama’

Reporter Muhammad Faqih Nidzom

Lihat artikel lainnya :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *