Aqidah dan Filsafat Islam

Kita dan Makna: Refleksi Tadabbur Alam Prodi AFI

Oleh: Muh. Faqih Nidzom

afi.unida.gontor.ac.id Allah swt mewahyukan bahwa orang yang alim berbeda dengan yang tidak alim (az-Zumar: 9). Ya, berbeda derajat-martabat dan tanggungjawabnya.

Kata Prof. Al-Attas, ilmu itu tibanya makna pada jiwa dan sampainya jiwa pada makna. Dari definisi ini, maka ‘alim adalah yang jiwanya mampu menangkap makna/hakekat, dan makna itu sampai pada jiwanya. Konsekuensi bahwa segala ilmu itu sejatinya tiada lain kecuali dari-Nya, dan kesiapan jiwa kita menerimanya.

Dalam beberapa literatur Ushul Fiqih ilmu dideskripsikan kurang lebih sama dengan definisi diatas. Yaitu sebagai “sifatun yankasyifu biha al-mathluubu inkisyafan taamman”.

Dengan meminjam trilogi semantik, guru kami, Dr. Syamsuddin Arif menjelaskan, segala sesuatu memang punya makna. Jadi selain, sesuatu (syai’), ada lafadz atau nama untuk menyebutnya, dan ada makna. Makna tak terlihat mata sebagaimana benda, tapi ia terasa dan bisa hadir dalam jiwa.

UANG, ia lafadz, terdiri dari huruf U, A, N, G. Bendanya berupa kertas yang di dompet kita, maknanya ia berharga, sebagai alat tukar dan standar penghitungan yang sah. Maka sungguh, bagi kita aneh jika ada yang membuang atau menyobek uang, mungkin maknanya tak sampai ke jiwanya.

Manusia adalah nama dan lafadz untuk entitas tertentu. Ia makhluk yang berdimensi jasmani dan ruhani. Dan tentu saja memiliki makna, hakekat manusia. Bahwa ia makhluk ciptaan Allah swt, dengan ada tujuan, dan kembali pada-Nya dengan pertanggungjawaban. Dan seterusnya.

Begitu juga dengan semua realitas yang ada, ia bernama, berwujud, dan juga punya makna. Makna berupa hakekat itulah yang harus kita raih dan tangkap.

Dengan belajar, sebenarnya kita juga mengkaji hasil pengilmuan orang-orang ‘alim. Makna apa dan bagaimana mereka temukan di balik ayat qauliyah dan ayat kauniyah-Nya.

Dalam kitab-kitab tafsir dan aqidah kita temui ulama kita memaparkan makna di balik penciptaan kita, dengan konsep ibadah dari definisi dan ragamnya. Lihat diskusi menariknya di al-Ibadah Fil Islam karya Syekh al-Qaradhawi misalnya. Makna penciptaan makhluk-makhluk Allah, bisa kita telaah kitab al-Hikmah fi Makhluqatillah karya Imam al-Ghazali, Maqashid (tujuan-tujuan) syariah Islam dalam al-Muwafaqat Imam Syatibi, atau Dr. Ahmad ar-Raisuni dan Jaser Audah dari tokoh kontemporernya, dst..

Lantas, bagaimana agar kita meraih makna? Selain meneladani ulama kita tadi, Epistemologi Islam mengajari kita sumber-sumber dan salurannya; dengan akal, indera, intuisi-kalbu dan khabar shadiq.

Detailnya, lain kesempatan kita berguru ke Sa’duddin at-Taftazani dalam Syarh Aqa’id Nasafiyah, ke A. Hasan Habanakkah al-Maidani dalam al-Aqidah al-Islamiyah wa Ususuha, tak lupa Al-Attas dengan Islam dan Secularism-nya, yang sangat relevan dengan tema ini, semoga.

Bagaimana mempertajam sumber-sumber tadi, agar makna semakin terbuka kepada kita?

Ulama kita menawarkan metodenya; Sumber akal dengan memaksimalkan potensinya; belajar, membaca, berlatih logika, menganalisa bagaimana ulama kita mengemukakan pendapat dan argumentasi.

Indera; menjaganya dengan baik, merawatnya, menggunakannya dengan baik, bukan sebaliknya.

Mempertajam intuisi dengan tazkiyatu an-nafs, jalannya riyadhoh dan mujahadah, untuk mengolah hati dan menghidupkannya, sehingga berjalan fungsi hakikinya.

Khabar shadiq; dengan terus mempelajari wahyu kita bisa mengilmui dan meyakini al-sam’iyyat wal-ghaibiyat yang tak terlihat mata, makin ridha dengan taqdir-keputusannya, makin tenang hati dg meng-Esa-kannya.

Dalam keseharian kita, jika mendapati sebuah kabar, lihatlah sumbernya. Kredibel kah ia. Berintegritas kah ia. Al-Qur’an mengajarkan kita tabayyun, sebab mu’min dan munafiq mestinya beda cara kita menyikapi kabar darinya (al-Hujurat 6).

Jika kita dapati sesuatu yang meragukan, hendaknya kita tanya ia yang punya otoritas di bidangnya. (An-Nahl: 43). Dan begitu seterusnya.

Perlu ditekankan kembali, seberapa maksimal kita memaksimalkan potensi sumber-sumber tadi, begitulah ilmu dan makna yang kita raih. Semakin kita mengabaikan, semakin kabur makna sesuatu itu pada kita. Itulah barangkali mengapa seorang ‘alim dan tidak itu derajatnya berbeda. Martabatnya berbeda.

Nah sekarang, alam terbentang di hadapan kita, mahasiswa AFI. Mari kita gunakan semua sumber yang Allah berikan untuk memaknainya.

Semoga tersikap tirai hijabnya, dan terkasyaf segala hikmahnya
lalu, tuliskanlah ia agar sekitar kita mendapat manfaatnya..

Bukankah Allah swt. telah mengingatkan kita dengan firman-Nya dalam QS. Al-Baqarah 164:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh terdapat tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi yang memikirkan.”

Untuk memulainya, kami ajak mahasiswa AFI untuk menelaah contoh hasil kajian dan refleksi tentang makna Alam dan Taskhir yang ditulis oleh sahabat kami, Ust. M. Shohibul Mujtaba dan Usth. Imroatul Istiqomah. Tulisan keduanya bisa dinikmati di buku “Worldview Islam: Pembahasan tentang Konsep-Konsep Penting dalam Islam” yang diterbitkan Direktorat Islamisasi Ilmu Unida-Gontor. Selamat menikmati dan semoga bermanfaat. Wallahu A’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *