Aqidah dan Filsafat Islam

Menggali Nilai-Nilai Filsafat Islam di Batavia

Oleh: Ustadz. Moh. Isom Mudin, M.Ud. Ustadzah. Nabila Huringiin, M.Ag.
Dosen Aqidah Filsafat Universitas Darussalam Gontor


afi.unida.gontor.ac.id, “Manusia sebagai akhir penciptaan, katalog semesta dan cermin asmaul husna sebagai antropologi Islam” ungkap Moh. Isom Mudin, M.Ud mahasiswa program S3 Aqidah dan Filsafat Islam UNIDA, Sabtu (19/1) dalam konferensi International Aqidah dan Filsafat Islam di Kampus STFI Sadra-Jakarta.

Isom menyampaikan makalahnya yang berjudul “Konsep Manusia dalam Teosofi Qur’an Said Nursi sebagai basis Ontologis Antropologi Islam”. Nursi telah membangun argumentasinya dengan menggunakan pendekatan tafsir Isyari Hudlury terhadap ayat-ayat Qur’an; penggabungan antara metode kasf dan tafsir dibarengi penggambaran filosofis.

Hasil penelitian Isom memperlihatkan bahwa kajian manusia dalam antropologi sama sekali tidak memberikan ruang metafisik dan ketuhanan, karena memang menyimpan keyakinan dasar materialistik yang dikritik Nursi “Maka, hal ini sesuai dengan agenda konsep manusia Nursi ini perlu dibumikan sebagai asas antropologi Islam yang membahas manusia bukan hanya makhluk homosapiens fisikal, tetapi berkaitan dengan Tuhan Alam Raya” jelas Kepala Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam-UNIDA Gontor ini.

Pada saat yang bersamaan, Nabila Huringiin, M.Ag juga mempresentasikan makalah yang berjudul “The Islamization of Semar Character in Wayang Philosophie as the Mediator of Wali Songo’s Da’wah” dalam konfrensi Internasional yang sama. Penelitian ini menjelaskan bahwa Wayang mempunyai andil dan peran besar dalam penyebaran Islam di Tanah Jawa.

“Wayang as Adiluhung project of Javanese ancestor had the big role of Islamic spreading; there a lot of Islamic values in every element of Wayang”

Jelas dosen Universitas Darussalam Gontor; Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam. Nabila menjelaskan bahwa Semar adalah simbol dari masyarakat Jawa yang penuh dengan karakter Islam; sehingga mengarahkan masyarakat Jawa kepada nilai-nilai Islam. Hal ini mengakibatkan penyebaran Islam di Tanah Jawa tanpa pertumpahan darah dan konflik internal ataupun eksternal.

International Conference on Islamic Philosophy (ICIPh), berlangsung selama dua hari (18-19/1). Hari pertama konferensi ini diselenggarakan di gedung DPR, Nusantara II lalu dilanjutkan di Sekolah Tinggi Filsafat Islam Sadra pada hari kedua.

One comment

  1. Pingback: Makna Sains Islam dan Agenda Islamisasi Ilmu – Aqidah and Islamic Philoshophy

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *