Aqidah dan Filsafat Islam

Mengupas Dekonstruksi Syari’ah Yang berbahaya!

Oleh: Martin Putra Perdana
Peserta Program Kaderisasi Ulama XIII

afi.unida.gontor.ac.idSebelum kita berbicara lebih jauh mengenai Dekonstruksi Syari’ah. Kita perlu menundukkan dan mengerti apa yang dimaksud dengan “Dekonstruksi Syari’ah” itu. Dekonstruksi sendiri pada mulanya merupakan sebuah terjemahan dari term yang dipakai oleh Heidegger dalam salah satu bukunya Being and Time yang ditulis pada tahun 1972.

Dalam karyanya tersebut, Heidegger menggunakan istilah destuksi (destruction) sebagai usahanya dalam menanggalkan bangunan pemikiran yang sudah mapan sebelumnya. Destruksi ini memiliki arti pembongkaran (a felling-up) atau penanggalan (a destuctring). Namun, destruction tidak dimaknai Heidegger sebagai penghancuran total (obliteration) yang tidak menyisakan sepepeserpun.

Dekonstruksi secara sederhana juga bisa didefinisikan sebagai sebuah tindakan dari subjek  yang membongkar sebuah objek yang tersusun dari berbagai unsur. Sudah barang tentu yang dilakukan oleh subjek bukanlah tindakan yang main-main, dimana subjek disini berusaha untuk melibatkan berbagai cara atau metode, yakni metode subjek yang digunakan untuk membongkar suatu objek yang layak untuk dibongkar.

Sedangkan istilah Syariah sering didefiniksan sebagai apa yang telah ditentukan atau disyariatkan oleh Allah dalam agamanya. Kemudian apakah Syariah biasa identik dengan Din? Syariah dan agama disini maksudnya adalah sama.

Ada yang berkaitan dengan amaliyah, akhlak, agama.Impelementasi Syariah adalah penerapan agama. Pelaksanaan Syariah adalah pelaksanaan hukum-hukum Allah yang telah ditetapkan kepada kita yang ada dalam Qur’an dan Sunnah. (Konsekuwensi Keimanan).

Lantas bagaimana dengan individu atau sekumpulan orang yang berupaya untuk menggugat ataupun mendekonstruksi syari’ah?. Orang yang menolak ajakan syariah adalah orang yang munafik, selalu mencari-cari alasan untuk menghindari hal yang wajib.

Karena menjalankan Syari’ah yang benar berkaitan erat dengan bagaimana kita menyikapi hukum Allah. Yang dimaksud orang munafik disini adalah  ketika mereka enggan dan tidak mau menerima seruan Syri’ah.

Setiap ada panggilan untuk melaksanakan syariah pasti selalu mencari alasan untuk tidak mengerjakannya. Alasan-alasan itulah yang menyebabkan ada beberapa orang yang ingin medekonstruksi syaria’ah dengan berbagai alasan yang dimilikinya.

Beberapa cendikiawan Muslim yang berupaya menggugat dan medekonstruksi Syari’ah antara lain: Abdullah Ahmad An-Na’im (Islam an the Secular state), murid Mahmud Muhammad Thoha. Faraj Fouda (pemikir Mesir), Muhamad al-Asnawi, Abdul Malik As-Syarof. Nashr Hamid Abu Zayd (sekularisasi sama dengan tauhidisasi).

Hassan Hanafi (Memungkinkan untuk Muslim saat ini mengingkari dimensi-dimensi yang bersifat metafisis tapi ia juga menjadi Muslim yang baik dalam dataran etika). Salman Mussa (agama ini ciptaaan manusia, ketika ia takut dengan fenomena alam dan ia tidak bisa menjelaskannya, ketika ia percaya terhadap sesuatu dan yang dapat menjelaskannya ia jadikan agama).

Aminah Wadud (Qur’an adn Women, Inside The Gender Jihad) tafsir saat ini menganut bias patriakhi maka harus dipakai dengan bias perempuan. Sejauh mana kebenaran klaim mereka mengenai bias-bias ini. Sebagaiman tidak adanya bias politik, ruang waktu apabila berkaitan dengan hukum-hukum yang pakem dalam Islam dan Abid al-Jabiri  dan masih banyak lagi yang lainnya.

Dalam upayanya untuk menggugat syaria’ah. Mereka berusaha untuk mendekonstruksi syari’ah Islam, terutama yang berkaitan dengan hukum waris Islam, kriminal Islam, Murtad, batas aurat perempuan, larangan nikah beda agama, larangan wanita menjadi imam di khatib, kebolehan poligami, larangan kepemimpinan orang kafir menjadi pemimpin, dll.

Metode Menggugat Syariah:

Dengan  melakukan dekonstruksi epistemologi Islam yang ada

Mendekonstruksi Epistemologi (cara mengetahui, ilmu terkait dengan ilmu) dengan cara menghilangkan posisi kesucian Al-Qur’an karena merupakan sumber utama pengetahuan dan syariat Islam. (Sama dengan meruntuhkan ketaatan kita terhadap perintah Allah).

Surga itu dikelilingi dengan hal-hal yang tidak menyenangkan. Semua syariah itu dilaksanakan karena adanya peritah Allah. Diperitah saja ada yang tidak melakukan apalagi tidak diperintah.

Mereka juga meragukan otentitas dari al-Qur’an. Benar gak ini perkataan Allah? Kata Nashr Hamid: Qur,an itu setelah turun kepada Nabi dan bersentuhan Rasulullah membacanya seketika berpindah dari teks Tuhan menjadi pemahaman Nabi. (Qur’an itu bukan Kalam Allah, tapi pengalaman Nabi yang dipengaruhi oleh kebiasaan manusia).

Sekuler: Qur’an itu memang teks suci, namun tidak berbeda dengan teks-teks yang lain. Kalo begitu anda patut beragama karena menyembah teks (Qur’an)? Tapi teks ini bersumber dari Allah, kita yakin bahwa ini adalah ungkapan Allah. Ada konsep teologis didalamnya. Yang diikuti itu bukan karena teksnya, tapi karena kita yakin dan patuh bahwa Qur’an itu kalam Allah.

Mereka juga menghujat Ushul Fiqih dengan argumen bahwa mereka tidak menafikan bila Imam Syafi’i memang arsitek ushul fiqh yang paling berlian, namun juga karena Syafi’ilah pemikiran-pemikiran fiqih tidak berkembang selama kurang lebih dua belas abad. Sejak Sya’fii meletakkan kerangka ushul fiqihnya, para pemikir Muslim tidak mampu keluar dari jeratan metodologinya.

Dekonstruksi kesucian Syariah:

Kalangan liberal biasanya memulai penolakan mereka terhadap Syariah dengan mendenskrotuksi makna Syariah. Menurut mereka Syariah bukanlah hukum Allah, tapi merupakan hasil dari konstruksi ulama dan masyarakat (Fiqih karya manusia).

Syariah itu adalah kehendak Tuhan dalam bentuknya yang abstrak dan ideal (gak kelihatan). Sementara Fiqih adalah upaya manusia memahami kehendak Tuhan tadi. Dalam konteks ini maka Syariah selalu adil dan sama.

Sementara fiqih adalah usaha untuk mencapai tujuan syariah tadi. Sejelas apapun ayat Qur’an dan hadist Nabi tetap merupakan sesuatu yang diderifikasi dari otak manusia. Kita tidak wajib patuh kepada manusia tapi pada Allah. Berdasarkan konsep ini hukum Islam tidak bisa diberlakukan dan dipaksakan oleh negara.

Syariat itu adalah solusi kontemporer yang hanya sesuai pada zamannya.

Mereka beranggapan bahwa syariat yang ada sekarang sudah tidak relevan lagi untuk diterapkan, karena kondisi dahulu dan sekarang sudah berubah. Sama halnya dengan sistem Riba yang hanya haram pada zaman Nabi. Sama halnya solat Nabi, tidak mesti umat Muslim yang datang setelah nabi ditempat yang lain berpegang teduh dengan apa yang dikerjakan Nabi, Karena mereka menganggap hal itu merupakan hal yang dapat berubah sesuai dengan kebutuhan dan ketetapan zaman.

Pertanyaanya adalah apakah Hukum bisa berubah? Kata Ibnu Qoyum yang berubah itu bukan hukumnya tapi upaya kita dalam mengaplikasikanya yang berubah/fatwa. Harus memenuhi syarat, jika syarat dalam melakukan hukum tersebut tidak lengkap maka secara otomatis hukum itu gugur. Maka kebijaksanaan seorang hakim itu diperlukan.

Syariah Islam Bertentangan dengan semangat zaman.

Hukum syariah itu hanya sesuai dengan konteksnya, dan sekarang belum tentu bisa diterapkan. Mereka melihat syariah adalah nilai moralitas bukan legalitas. Beribadah semata-mata hanya ibadah adalah salah.

Karena tujuannya adalah membersihkan diri kita untuk lebih menunjukkan kepantasan diri kita untuk dekat dengan Allah. Kita beribadah atas dasar Iman, dengan iman kita bisa memiliki akhlak baik, dengan akhlak yang baik kita bisa menjalankan syariah dan beribadah secara tenang.

Demikianlah hal-hal yang mendasari para kaum Sekular dan Liberal ini berupaya untuk mendekonstruksi syari’ah yang ada di dalam Islam. Dengan segala hal dan tipu daya mereka berupaya untuk memantik api kesesatan yang seketika akan terbakar dengan sendirinya.

Oleh sebab itu, kita meski wasapada dengan buaian manis manja yang disebarkan oleh para kaum munafik ini. Dengan mempertbal Iman, memperdalam ilmu serta menguatkan muamalah ma’a annas dan mu’malah ma’a Allah.

Artikel lainnya:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *