Aqidah dan Filsafat Islam

Menyelami Supra-Rasionalitas Islam

Oleh: Choirul Ahmad
Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam UNIDA Gonto

afi.unida.gontor.ac.id. Masih banyak yang beranggapan bahwa semakin tinggi religiusitas seseorang maka intelektualitas orang tersebut akan semakin rendah, agama itu dogma atau doktrin, agama tidaklah masuk akal (irrasional). Sama seperti air dan udara dalam botol, ketika air semakin banyak udara didalamnya juga semakin sedikit.

Tentu ada sebab kenapa sampai bisa mencuat persepsi miring seperti ini, terutama jika subjek yang dikaitkan adalah Islam. Diantara sebab tadi adalah karena memposisikan Islam sebatas ajaran normatif berbentuk ritus peribadatan yang hanya berkaitan secara vertikal dengan Tuhan. Islam akhirnya dianggap tidak relevan dalam perkara sosial kemasyarakatan apalagi bidang sains atau ilmu pengetahuan.

Karena itu tidak aneh kenapa akhir-akhir ini sebutan alim-ulama’ hanya identik dengan ahli fiqh, makna ibadah pun hanya dibatasi dalam ruang lingkup ibadah mahdhah (ibadah yang kriteria dan sistematikanya dijelaskan secara gamblang dalam nash), begitu juga dengan terminologi syari’ah yang disempitkan pada tataran ahkam syar’iyyah atau fiqhiyyah. Konsequensinya, kekuatan Islam pun hanya diukur sebatas amalan lahiriyah (syi’ar) dan kuantitasnya, tanpa memperhatikan dimensi rohaniyah dan kualitasnya.              

Perlu kiranya bagi kita sekarang untuk melihat Islam dengan lebih komprehensif lagi yaitu sebagai sebuah budaya atau peradaban yang tidak hanya mencerminkan suatu identitas kultural tapi juga ideologis dari proyeksi pandangan alam (worldview) Islam dalam melihat realitas dan kebenaran, dengan demikian citra Islam adalah mencakup seluruh aspek kehidupan manusia.

Maka ia menyentuh berbagai dimensi dalam dinamika kehidupan manusia, baik yang spiritual, sosial dan intelektual seperti ekonomi, politik, sains dan teknologi. Sebagai sebuah peradaban, Islam pertama-tama harus diidentifikasi dari pandangan alamnya, yakni bagaimana Islam memandang berbagai realitas yang ada, sedangkan sebagaimana yang telah dijelaskan dalam alquran luas realitas tidaklah terbatas pada alam fisik indrawi atau natural tapi juga mencakup alam metafisik supranatural.

Karena itu makna kebenaran dalam Islam tidaklah secara sepihak didasarkan pada hal-hal ril yang nampak tapi juga entitas metafisik yang tidak nampak. Jika alam inderawi dicerap dan diobservasi dengan potensi indera dan rasional maka alam metafisik diketahui dan dicapai melalui informasi dari wahyu dan pengalaman intuitif, lebih dari itu wahyu sebagai sumber kebenaran tertinggi yang bersumber langsung dari Tuhan yang Maha benar juga berfungsi sebagai barometer bagi sumber-sumber ilmu formal lainnya. Dari sini, memang ada dari ajaran Islam yang memang tidak rasional, dalam artian ia melampauinya (non-rasional).     

Dari ideologi yang bervisi terhadap realitas wujud  inilah (karena tidak semua yang wujud itu maujud/nampak) Islam bisa dilihat dengan lebih luas dan dinamis. Hal ini mengharuskan kita menilai Islam tidak hanya terbatas pada tataran praktis seperti mazhab-mazhab dalam fiqh tapi lebih radikal lagi yaitu dari tataran filosofis ideologis yang bersendi dari konsep-konsep inti pembentuk visi Islam terhadap realitas wujud ini.

Adapun diantara konsep-konsep tadi adalah konsep tentang Hakikat Tuhan, wahyu, agama (ad-din), alam, manusia, ilmu, kebebasan, kebahagiaan, dll. Berbagai konsep sentral inilah yang kemudian membentuk pandangan alam Islam yang berfungsi sebagai sistem berpikir arkitektonik yang universal dan integral, sehingga berbagai unsur-unsur Islam baik yang ideologis/filosofis maupun praktis/pragmatis bisa dilihat secara logis dan komprehensif.

Unsur ideologis berbentuk kepada aqidah dan keyakinan, sedangkan yang praktis lebih pada syari’ah dan akhlak. Perbedaan/khilaf pada tataran syari’ah atau fiqh dari sini akan lebih bisa disikapi dengan matang dan bijak karena masih berkutat pada tataran shawab dan khatha’, dalam hal ini jika mujtahid benar maka ia akan mendapat dua pahala jika ia salah maka ia pun masih mendapat pahala walau hanya satu.

Sedangkan, untuk urusan akidah (tauhid) maka mayoritas perbedaan pada tataran ini tidaklah bisa ditolerir karena relasinya adalah antara haqq dan bathil, antara iman dan kufr. Meski demikian, Islam juga tidak mengajarkan kita untuk membenci atau mengintervensi individu yang berkaitan ketika ia lebih memilih agamanya yang bukan Islam atau keluar dari Islam, yang kita benci adalah pilihannya bukan personalnya. Resistensi memang dianjurkan tapi dengan syarat jika mereka yang memulai. Selama mereka tidak mengganggu kaum muslimin selama itu juga kita harus bisa berlaku adil dan hikmah pada mereka.

Sampai saat ini mungkin banyak dari kita yang terusik dengan fenomena kaum muslimin yang sulit bersatu atau bahkan hanya sekedar untuk menghargai komunitas sesamanya yang dilihat dari sisi akidah masih saudara seiman bukan lawan sepermainan. Mirisnya kepada mereka yang nyata benar-benar musuh; yang tidak akan pernah ridha dengan kita malah kita anggap saudara tanpa curiga sedikitpun. Hal demikian terjadi, karena pemahaman mereka terhadap Islam tidak mempunyai signifikasi mendalam terhadap tradisi agama ini sebagaimana yang telah dipraktekkan oleh para salaf kita terdahulu, terutama akibat dari hantaman arus gelombang modernisasi yang dipacu oleh sekulerisasi.

Inilah sebenarnya apa yang disebut dengan “Loss of Adab” oleh Syed Muhammad Naquib Al-Attas yang bermakna bahwa kaum muslimin secara internal telah kehilangan disiplin akli dan rohaninya. Mereka sudah tidak bisa menempatkan sesuatu pada tempatnya, sehingga mana yang benar, mana yang salah, mana yang urgen dan primer, mana yang sekunder atau sekedar tersier sudah menjadi kabur, akhirnya hal yang profan dianggap sakral atau malah sebaliknya mensakralkan hal-hal yang profan, inilah sejatinya yang memicu lahirnya berbagai bentuk ekstrimisme dan liberalisme yang kian hari makin menjadi-jadi. 

Lebih dari itu melihat Islam dari basis ideologis dengan pemahaman yang integral ini juga penting dalam rangka merespon tantangan modernitas disetiap zaman. Sehingga kita dapat bersikap kritis dan selektif bukannya permisif adoptif atau bahkan apatis. Dalam bahasa dialog peradaban sudahlah menjadi sebuah kemestian terjadinya proses penyaringan, apropriasi dan naturalisasi dimana unsur-unsur positif dari peradaban lain diterima untuk dikembangkan sedangkan unsur-unsur negatif yang tidak kompatibel ditinggalkan.

Adapun untuk melakukan upaya asimilasi, adapsi dan adopsi ini, kita mutlak memerlukan pemikiran canggih dan berakar kuat pada prinsip-prinsip epistemologi Islam tradisional yang telah beratus tahun lamanya berperan dalam membina peradaban Islam dan menjaga identitasnya. Contoh konkritnya adalah saat mula-mula dimulainya penerjemahan karya Yunani dalam Islam, pada saat itu para ilmuwan dan ulama’ kita berusaha memahami dan mengambil warisan pengetahuan dari peradaban Yunani, dimana meski ada beberapa dari mereka yang pemikirannya justru terpengaruh dengan tradisi yang dinamakan Hellenisme atau Paripatetik tadi.

Namun, proses transmigrasi ilmu pun tentu terus berjalan dimana akhirnya islamisasi ini bisa berjalan dengan rapi dan terstruktur hingga lahirlah berbagai disiplin sains baru, hingga mengantarkan Islam menuju tampuk kepemimpinan peradaban dunia yang tegar kokoh berdiri sampai 7 abad lamanya.

Itulah Islam sebagai budaya dan peradaban, ia melingkupi seluruh aspek kehidupan manusia. Karenanya, memaknai agama Islam sebagai ‘religion’ sebagaimana yang dipahami Barat adalah kurang tepat. Religion secara bahasa adalah mengikat. Dalam prakteknya, secara historis agama di Barat dianggap dogmatis dan cenderung memusuhi rasionalitas, karena itu ia berlawanan dengan kebebasan manusia, hubungan antara hamba dan tuhan adalah hubungan paksa bukan penyerahan diri seperti yang diilhami oleh Islam.

Makna Islam sebagai agama lebih tepat digambarkan dalam konsep ‘ad-din’, bahwa agama adalah simbol dari penyerahan diri secara suka rela sebagai jalan untuk membayar keberhutangan (dain) eksistensi yang telah dianugrahkan oleh Tuhan, perjanjian ini pun telah diikat semenjak manusia masih dalam alam roh dimana mereka mengafirmasi bahwa Allah adalah Tuhan sekalian manusia (alastu birabbikum? Qaalu balaa syahidnaa).

Dari konsep ‘ad-din’ inilah kemudian Islam berkembang menjadi komunitas perkotaan (madinah) sampai kepada peradaban (tamaddun) yang melintasi batas-batas kultural dan georafis. Inilah sebenarnya yang dinamakan dengan per’adab’an, ia dihidupi oleh adab yang merupakan cerminan halus akal budi dan akhlak tinggi manusia yang berasal dari tradisi mulia agama. Maka, peradaban yang tidak dibangun oleh manusia-manusia beradab bukanlah peradaban tapi per’biadab’an.     

One comment

  1. Pingback: Asal Usul Dan Substansi Filsafat Islam – Aqidah and Islamic Philoshophy

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *