Aqidah dan Filsafat Islam

Muhammadiyah Perlu Kembangkan Tasawuf Hamka

Oleh: Dedy Irawan, M.Ag.
Dosen Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Darussalam Gontor

afi.unida.gontor.ac.id – Dalam situs Republika yang berjudul “Azyumardi: Muhammadiyah Perlu Kembangkan Tasawuf Dahlani” dijelaskan bahwa Azyumardi Azra penulis buku “Jaringan ulama: Timur Tengah dan kepulauan Nusantara abad XVII dan XVIII ” ini menyayangkan Muhammadiyah yang dipandang sebagai kelas menengah yang memiliki pendidikan tinggi dan berpotensi besar dalam melakukan daya dorong perubahan khususnya di bidang ekonomi dan pendidikan. Belum mempunyai model pengajian yang mengkaji hal-hal yang bersifat tasawuf. “Sayangnya Muhammadiyah tidak suka dengan tasawuf ini,” katanya.

Padahal, menurut Azyumardi, masyarakat menengah saat ini memerlukan hal-hal seperti itu, bukan hanya berbicara tentang halal-haram. “Kalau Muhammadiyah tidak menggarap ini, maka masyarakat menengah akan terjebak pada Sudosufism, yaitu tasawuf palsu, bukan tasawuf beneran,” jelasnya. “Karenanya Majelis Tarjih Muhammadiyah harus sudah mulai melirik ini, sebab ini sangat penting untuk digarap oleh Muhammadiyah,” pungkasnya.

Karena pentingnya hal tersebut, “Saya saat  ini merekomendasikan tasawuf model Muhammadiyah. Namanya menurut saya Tasawuf Dahlani,” usulnya. Walaupun nantinya melakukan modernisasi seperti yang dilakukan oleh Hamka.

Namun yang menjadi pertanyaan di sini tasawuf Dahlani sendiri belum mempunyai formulasi yang sempurna dikarenakan keterbatasan buku-buku Ahmad Dahlan yang sedikit dan terbatas dalam penjelasan mengenai tasawuf. Maka, kiranya Muhammadiyah perlu mengembangkan model tasawuf Hamka. Hal ini dikarenakan Hamka sendiri merupakan tokoh penting dalam sejarah Muhammadiyah.

Apresiasi Hamka

Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau yang populer dipanggil Hamka sendiri sebagai salah satu tokoh penting dalam Muhammadiyah, ia sangat mengapresiasi Tasawuf dan bahkan merealisasikannya dalam kehidupannya sehari-hari. Ini bisa dibuktikan dari beberapa bukunya yang banyak mengkaji tentang tasawuf. Seperti “Tasawuf Modern, Perkembangan dan Pemurnian Tasawuf, Pandangan Hidup Muslim, Renungan Tasawuf, Lembaga Budi”.

Bahkan apresiasi Hamka terhadap tasawuf tidak hanya bisa dilihat dalam karya-karyanya yang bertema tasawuf, melainkan juga pada sebagian besar karya-karyanya yang mengulas tentang persoalan agama. Hampir di sebagian besar wacana-wacana keislaman yang Hamka suguhkan, ia menggunakan pendekatan tasawuf.

Hal ini dipertegas oleh Dawam Rahardjo dalam pengamatannya, bahwa ketika berbicara tentang Tuhan, keyakinan kepada alam akhirat, hak dan kewajiban, pandangan hidup Muslim, falsafah hidup manusia di dunia, dan lain-lain, Hamka senantiasa mewarnainya dengan contoh-contoh pengalaman hidup secara konkret beserta zauq, rasa tasawuf yang kental.

Ia menjelaskan dalam bukunya “Pandangan Hidup Muslim” bahwa meskipun berbagai ragam diperbuat orang hendak mengotori barang suci (Tasawuf) dan memandang negatif terhadap tasawuf, Ia (Hamka) tetap akan mengekspresikan sikap apresiatif-positifnya kepada tasawuf sebagaimana perkataannya:

“Namun, saya tidak begitu, saya tetap asyik dengan tasawuf. Saya tetap mencintai tasawuf, saya tetap ingin hendak memperalat ajaran tasawuf untuk riyadhah supaya dapat ittishal dengan Allah dalam hidupku, mencari Dia. Karena itu, saya anjurkan marilah kita menjadi seorang sufi, menjadi seorang yang Shifa’ karena kita adalah pengikut Nabi saw, yang telah disucibersihkan (musthafa). Mari kita menjadi seorang sufi dalam menghadapi kehendak hidup sehari-hari sampai dalam perniagaan sampai dalam politik, sufi dalam perusahaan, sufi dalam mengasuh dan mendidik.”[1]

Akhlak Mulia Hamka        

Tidak hanya sebatas ucapan namun ia pun merealisasikan perkataannya itu, ini bisa dilihat dalam sejarah hidupnya. Ketika ia dituduh oleh Soekarno hendak membunuh Presiden Soekarno dan Menteri Agama Syaifuddin Zuhri. Suatu tudingan dan vonis yang jauh dari sifat ke-ulamaannya yang santun itu.

Hamka harus menerima derita penjara akibat politik penguasa yang marah dan terlibat perebutan hegemoni tahta dalam sejarah Indonesia pascakemerdekaan. Ia adalah korban pertarungan politik ideologis yang keras dalam perjalanan bangsa ini. Tapi sebaliknya, Hamka justru meresponnya dengan perbuatan ihsan.

Penjara dengan proses politik yang nista tidak membuat dirinya jatuh pada sikap kerdil dendam kesumat. Dia tetap memaafkan Soekarno dengan jiwa ikhlas. Bahkan, ketika Soekarno memintanya untuk menjadi imam shalat jenazahnya. Hamka justru mengimami shalat jenazah tatkala Presiden Indonesia itu wafat tahun 1971. Dari sini, terlihat sekali bahwa hamka telah mencapai maqam sobr (sabar) dan ikhlas dalam maqamat tasawuf.

Bukan hanya itu, ia bahkan memberikan teladan tentang permaafan yang tulus. Apa kata Hamka, “Saya tidak pernah dendam kepada orang yang pernah menyakiti saya. Dendam itu termasuk dosa. Selama dua tahun empat bulan saya ditahan, saya merasa itu semua merupakan anugerah yang tiada terhingga dari Allah kepada saya, sehingga saya dapat menyelesaikan kitab tafsir Alquran 30 juz. Bila bukan dalam tahanan, tidak mungkin ada waktu saya untuk menyelesaikan pekerjaan itu…”.

Suatu ungkapan jiwa yang bersih dan mulia, di tengah kezaliman para perawat marah dan dendam politik tak berkesudahan. Disini, Hamka  mempraktikkan tasawuf ihsan, suatu kebajikan yang melampaui orang biasa. Akhlak tentang sikap adil, damai, pemaaf, dan tidak dendam kesumat di arena politik yang terjal dan penuh bara.

Corak Tasawuf Hamka

Nurcholish Madjid dalam bukunya “Tradisi Islam” mengatakan bahwa Hamka bukan saja memberikan apresiasi yang sangat tinggi terhadap tasawuf, melainkan juga ia memang terpengaruh wacana tasawuf dengan mengamalkannya sendiri. Lebih jauh, dalam bukunya “Intelektual Inteligensia” Dawam memandang bahwa pada konteks organisasi Muhammadiyah Hamka menjadi sebagai salah seorang tokoh Muhammadiyah terpenting yang memberikan sumbangan yang unik dalam pemikiran keagamaan.

Dia ingin menggabungkan kembali tasawuf ke dalam pemikiran-pemikiran pembaruan Islam yang mengarah kepada modernisme. Hamka melihat bahwa dalam peningkatan penggunaan akal perlu diimbangi dengan upaya peningkatan penggunaan rasa dalam menghadapi perubahan zaman.

Dari sini terlihat sekali bahwa tasawuf Hamka bercorakkan tasawuf akhlaki yang mengikuti corak tasawufnya al-Ghazali. Hal ini, bisa dibuktikan dengan banyaknya  ia mengutip pendapatnya al-Ghazali di setiap buku-bukunya terutama yang berkaitan dengan tema tasawuf. Karenanya dalam memberikan definisi tasawuf dalam bukunya Tasawuf Modern, ia lebih menyetujui pengertian tasawuf yang diungkapkan oleh al-Ghazali yakni: “keluar dari budi pekerti yang tercela dan masuk kepada budi pekerti yang terpuji.” Hal ini dikarenakan, Tasawuf sendiri menurut Hamka berarti penyucian diri dari  akhlak tercela yang diambil dari kata shifa’. Yang terilhami dari salah satu nama Nabi Muhammad saw adalah Musthafa.

Tidak hanya itu, al-Ghazali bahkan selalu muncul dalam karya-karya utama Hamka, ini bisa dilihat dalam bukunya “Falsafah Hidup” ketika ia mengeksplorasikan tentang cinta kepada Tuhan, yang menggerakkan kalbu melakukan kebajikan, kemudian dalam bukunya “Pelajaran Agama” yang berkenaan dengan kepercayaan kepada hari akhirat, dan dalam bukunya “Renungan Tasawuf” yang berkenaan dengan ilmu pengetahuan, kemudian dalam bukunya “Lembaga Hidup” yang berkenaan dengan cara mengasuh anak, dan dalam bukunya “Lembaga Budi” yang berkenaan dengan penyakit-penyakit jiwa dan pengobatannya, serta dalam bukunya “Tasawuf Modern” yang berkenaan dengan kebahagiaan hidup manusia di dunia dan akhirat.

            Oleh karena itu, Ilmu Tasawuf khususnya di Indonesia, haruslah mendapat perhatian penuh dari para alim ulama, sarjana, dan para cendekiawan Muslim lainnya, khususnya Muhammadiyah kiranya mencontoh tasawuf yang telah diformulasikan oleh Hamka untuk diselidiki dan dikupas secara luas, agar dapat menciptakan mental yang islami dan pemahaman spriritual Islam yang jauh dari sifat-sifat tercela dan munafik. Wallahua’lam.


                [1] Hamka, Pandangan Hidup Muslim, (Jakarta: Gema Insani, 2016), cet. 1, h. 38-9.

Artikel Selain Model Tasawuf Hamka

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *