Aqidah dan Filsafat Islam

Nasihat Imam al-Ghazali tentang Makna Kebahagiaan

makna kebahagiaan

afi.unida.gontor.ac.id – Manusia modern saat sekarang ini, dihadapkan dengan berbagai persoalan salah satu di antaranya tentang pencarian makna kebahagiaan. Pola kehidupan yang begitu hedonis menjadikan tatanan kehidupan manusia modern dihadapkan dengan idealitas semu, hanya karena menginginkan kesenangan duniawi semata.

Akibatnya, banyak sebagian orang seperti berada dalam keseimbangan yang “palsu”. Kepalsuan ini menjebak manusia dan menyeretnya ke dalam dimensi keringnya nilai spiritual dan tak lagi mampu mencapai tahapan kebahagiaan.

Dalam salah satu karya tokoh terkemuka Imam al-Ghazali, Mizanul Amal. Merupakan salah satu kitab yang membahas secara komprehensif tentang kebahagiaan (lihat, kata pengantar al-Ghazali, 1989: 7).

Apa itu Bahagia?

Dalam menjalankan rutinitas kehidupan, sudah barang tentu manusia akan mengharapkan kebahagiaan. Namun persepsi dan definisi kebahagiaan manusia itu tetap beragam.

Bahagia memiliki makna yang sama dengan perasaan bahagia, kesenangan dan ketenteraman hidup secara lahir dan batin. Dalam terminologi bahasa Arab, kata bahagia juga berarti sa’adah (شعادة), yang bermakna ‘Ketiadaan derita’ (خلاف الشقاوة).

Imam al-Ghazali di berbagai kitabnya menggambarkan tentang makna kebahagiaan. Sedangkan dalam pandangannya menjelaskan bahwa bahagia atau kebahagiaan merujuk pada istilah sa’adah, yang berhubungan dengan dua dimensi eksistensi; dunia dan akhirat.

Hakikat makna kebahagiaan terletak pada kebahagiaan akhirat. Tahapan kebahagiaan ini, menurut al-Ghazali ialah nikmat yang tidak perlu untuk dipikirkan, akan tetapi cukup diyakini. Sebab meyakininya saja sudah menjadi kebahagiaan tersendiri atau nantinya akan melahirkan kebahagiaan.

Dalam al-Qur’an kata bahagia bisa dirujuk dari berbagai istilah, seperti; ‘pemberian taufik ke jalan yang mudah’ (QS. Al-A’la: 8), ‘tempat yang disenangi’ (QS. Al-Qamar: 55), ‘negeri akhirat’ (QS. Al-Qasas: 83), ‘darussalam’ (QS. Yunus: 25), ‘hasil yang baik’ (QS. Al-An’am: 135), dan masih banyak lagi tentang istilah dalam al-Qur’an yang menggambarkan tentang kebahagiaan.

Beberapa ayat al-Qur’an yang merujuk pada makna ‘bahagia’, seperti;

يَوْمَ يَأْتِ لَا تَكَلَّمُ نَفْسٌ إِلَّا بِإِذْنِهِ فَمِنْهُمْ شَقِيٌّ وَسَعِيْدٌ

 “Dikala datang hari itu, tidak ada seorang pun yang berbicara, melainkan dengan izin-Nya; maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia”. (QS. Al-Hud: 105)

وَأَمَّا ٱالَّذِينَ سُعِدُوا فَفِي اٱلْجَنَّةِ خَٰلِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَاٱلْأَرْضُ إِلَّا مَا شَآءَ رَبُّكَ ۖ عَطَآءً غَيْرَ مَجْذُوذٍ

 “Ada pun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu mengehendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya”. (QS. Al-Hud: 108).

Dalam kitabnya Mizan al-A’mal imam al-Ghazali memberikan pendefinisian tentang makna kebahagiaan, di antaranya;

Pertama, kebahagiaan adalah keabadian tanpa kesementaraan, kenikmatan tanpa kepayahan, kegembiraan tanpa kesedihan, kekayaan tanpa kefakiran, kesempurnaan tanpa kekurangan, kemuliaan tanpa kehinaan.

Kedua, kebahagiaan akhirat ialah suatu keabadian yang tidak dikurangi oleh keputusan masa dan batas waktu. Yakni akhirat itu sendiri.

Ketiga, kebahagiaan yang merupakan harapan dan tuntutan manusia, maka perlu mengenali teori dan mengaplikasikannya.

Keempat, kebahagiaan merupakan sampainya seseorang pada tahapan tersingkapnya ilham dari Allah dan terbebas dari kotoran-kotoran nafsu yang melekat dalam dirinya.

Kelima, kebahagiaan juga dimaknai dengan ketika sudah tersingkapnya seluruh hakikat yang ada pada Allah. Ini merupakan derajat kebahagiaan puncak yang telah dicapai oleh para nabi.

Keenam, kebahagiaan dan kesempurnaan nafs ialah terukirnya jiwa dengan hakikat-hakikat al-Umur al-Ilahiyah dan telah bersatu dengannya seperti seolah-oleh jiwa (nafs) itu adalah Dia dan menjadi satu dengannya. Dalam istilah Imam al-Ghazali;

ان سعادة النفس وكمالها أن تنتقش بحقائق الأمور الآلهية وتتحد بها حتى كأنها هي

Ketujuh, kesempurnaan yang memungkinkan dicapai yaitu dapat bersama dengan malaikat dalam dimensi alam tertinggi (ufuq al-alam) dekat dengan Allah.

Kedelapan, sesungguhnya segala sesuatu yang dapat mengantarkan pada kebaikan dan kebahagiaan ia pula disebut sebagai kebahagiaan.

Jenis-jenis Kebahagiaan Menurut al-Ghazali

Al-Ghazali sendiri telah membagi aspek terpenting dalam kebahagiaan menjadi dua yakni; ukhrawi (akhirat) dan duniawi (dunia). Sedangkan kebahagiaan yang utama menurut Imam al-Ghazali ialah kebahagiaan akhirat yang akan kekal abadi.

Dalam pandangannya al-Ghazali, bahwa kebahagiaan duniawi hanyalah sebagai kebahagiaan yang bersifat metaforis. Namun kebahagiaan ukhrawi juga tidak akan tercapai tanpa melalui duniawi.

Duniawi hanyalah perantara untuk dapat sampai pada kebahagiaan hakiki. Maka ketika seseorang telah mengharapkan kebahagiaan hakiki, ia tidak akan memalingkan perhatiannya dari jenis-jenis kebahagiaan lainnya dan akan terus mencapai puncak kebahagiaan hakiki. Hal ini juga disebut al-Ghazali sebagai suatu bagian dari kebahagiaan.

Keutamaan dan kebahagiaan yang diberikan Allah kepada hamba-Nya (sejatinya tidak terhidung jumlahnya), namun Imam al-Ghazali membaginya dalam dari lima macam, yaitu;

  1. Nikmat kebahagiaan akhirat, suatu kebahagiaan yang kekal abadi.
  2. Nikmat keutamaan jiwa, yang jumlahnya terdapat empat macam, yaitu; akal yang disempurnakan dengan ilmu, pemeliharaan diri yang disempurnakan dengan wara’ dengan menjauhi yang haram, syubhat dan maksiat. Keberanian yang disempurnakan dengan kesungguhan dan keadilan yang dilaksanakan dengan rasa kesadaran inshaf.
  3. Nikmat keutamaan badan yang terdiri dari empat macam, yaitu kesehatan, kekuatan badan, keelokan dan panjang umur.
  4. Nikmat eksternal yang berupa harta, keluarga, kemuliaan dan kehormatan keluarga.
  5. Nikmat keutamaan taufik yang berupa hidayah Allah.

Dari komponen kelimanya, menurut al-Ghazali antara satu dengan lainnya saling membutuhkan. Jika demikian maka kebahagiaan niscaya akan tercapai. Namun kenyataannya, sebagian manusia hanya mengejar kebahagiaan atau kenikmatan jasad, eksternal sehingga melupakan kebahagiaan akhirat (hakiki).

Anggapan manusia bahwa keterpenuhan hasrat untuk memenuhi kebutuhan perut dan seksual adalah tujuan dan puncak kebahagiaan. Sejatinya, mereka telah keliru.

Dalam pengistilahannya al-Ghazali, mereka yang demikian itu tak lebih dari sekedar binatang ternak yang didorong dorongan-dorongan biologisnya semata. Dan merupakan suatu kebodohan, ketika manusia lalai terhadap kebahagiaan akhirat yang dijanjikan.

Mengenal Diri

Imam al-Ghazali dalam salah satu bukunya “Kimyatus Sa’adah”, secara jelas menyebutkan bahwa salah satu kunci seseorang dapat dengan mudah bahagia ialah dengan memahami siapa dirinya. Hal ini sebagai dasar dari timbulnya rasa kebahagiaan dalam diri manusia.

Dengan mengenal dirinya sendiri (ma’rifah al-Nafs), dengan sebenar-benarnya hingga sampai pada suatu kesadaran dan pengetahuan tertinggi tentang apa sebenarnya diri sendiri maka ia akan dengan mudah mengenal Tuhannya.

Sebagaimana dalam ungkapan salah satu ulama sufi terkenal Yahya bin Muadz ar-Razi yang banyak dikutip oleh sebagian ulama lainnya;

من عرف نفسه فقد عرف ربه

“Barang siapa yang mengenal dirinya, sungguh ia telah mengenal Tuhannya”.

Dengan melalui pengenalan diri sendiri, seseorang akan mampu membedakan kebahagiaan yang diperoleh oleh nafsu (hewan),  syaitan, dan malaikat. Hewan dalam wilayah ini dimaksudkan berupa ambisi, amarah dan hasrat. Kemudian syaitan bisa berupa kecerdikan dan kreativitas. Sedangkan malaikat bisa berupa kecenderungan untuk selalu pasrah, taat dan patuh.

Sedangkan dalam pandangan Imam al-Ghazali, hakikat diri manusia (haqiqah al-nafs) terdapat dua sifat yang mendasari;

Pertama, ialah al-Nafs yang selalu menimbulkan kemarahan dan syahwat dalam diri seseorang. Sifat inilah yang kemudian sangat mendominasi dalam diri manusia, untuk itu diperlukan usaha keras dalam memerangi sifat jahat ini. Dalam ungkapannya Imam al-Ghazali;

السَّعَادَةُ كُلُّهَا فِي أَنْ يَمْلِكَ الرَّجُلُ نَفْسَهُ وَالشَّــقَــاوَةُ فِي أَنْ تَمْـلِـكَـــهُ نَفْـسُــــهُ

“Kebahagiaan adalah ketika seseorang mampu menguasai nafsunya. Kesengsaraan adalah saat seseorang dikuasai nafsunya.”

Kedua, ialah al-Nafs yang memiliki sifat lembut, yaitu hakikat diri manusia. Meskipun demikian al-Nafs juga memiliki beberapa karakter sesuai dengan situasi dan kondisinya masing-masing.

Secara umum jenis al-Nafs ini disebutkan dalam al-Qur’an terbagi menjadi tiga bagian, yaitu; (al-Ghazali, 2008: 5).

  • al-Nafs al-Mutma’innah

ialah al-Nafs yang tenang, yang tunduk terhadap segala perintah dan selalu berpaling dari syahwat.

  • al-Nafs al-Lawwamah

ialah al-Nafs jiwa yang selalu menyesai dirinya sendiri. Yaitu al-Nafs yang jika seseorang melakukan perbuatan kebaikan ia merasa menyesal karena tidak berbuat lebih banyak dari orang lain.

  • al-Nafs al-ammarah

ialah al-Nafs yang selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali jika dirahmati oleh Allah.

Selain menyebutkan pentingnya penyucian jiwa yang tertuliskan di atas, Imam al-Ghazali juga memberikan beberapa kiat agar manusia senantiasa melihat aib dalam dirinya. Beberapa langkah untuk dapat melihat aib dalam diri disebutkan sebagai berikut;

Pertama, berkonsultasi dengan seseorang yang diyakini sebagai orang yang alim dan mampu menunjukkan aibnya dengan maksud untuk mendapatkan nasihat darinya dan ia bersedia untuk meninggalkannya dengan segala kemampuannya.

Kedua, agar secara jujur meyakinkan, mengevaluasi diri dan bertanggungjawab atas kebersihan jiwanya, kondisinya, pekerjaannya, dan segala hal yang tidak disukainya berupa tingkah laku, pola pikir, karakter dan pekerjaannya.

Ketiga, agar mampu mengambil hikmah dari kejelekannya itu sebagai musuh yang harus dijauhi.

Keempat, berusaha untuk mampu bergaul dan hidup bersama orang lain, yang dirinya mampu melihat kejelekan dirinya sendiri dan sesegera untuk memperbaikinya. Karena sesungguhnya seorang Mukmin merupakan cerminan bagi seorang Mukmin lainnya, yang mampu memberikan evaluasi berharga pada dirinya sendiri. (al-Ghazali, 2008: 69).

Puncak Kebahagiaan

Sebagai puncak kebahagiaan di dunia ialah kemuliaan, kedudukan, kekuasaan dan terlepas dari yang namanya kesedihan dan kegundahan. Sedangkan untuk mencapai puncak kebahagiaan menurut Imam al-Ghazali ialah dengan ilmu dan amal.

Ilmu dan amal adalah dua syarat untuk mencapai kebahagiaan. Amal yang dimaksudkan Imam al-Ghazali sebagai pembawa kebahagiaan ialah riyadhah ‘latihan’ dalam memerangi syahwat diri. Karena tidak ada jalan untuk dapat melenyapkan syahwat yang terdapat dalam diri kecuali melalu riyadhah dan mujahadah.

Amal dengan bahasa lain dikaitkan juga dengan mujahadat al-nafs dengan menghilangkan sesuatu yang tidak sepatutnya dengan cara memalingkan kekeruhan jiwa menuju dimensi vertikal, agar terhapus dari pengaruh jiwa yang kotor.

Tentang makna mujahadah dikatakan oleh Imam al-Ghazali bahwa ia Melawan dan menahan gejolak hawa nafsu yang ada dalam dirinya serta akan mengobati jiwa dengan cara mencucikannya untuk memperoleh kebahagiaan. Dikatakan bahwa;

والمجاهدة معالجة للنفس بتزكيتها لتفضي إلى الفلاح

Hal ini juga telah disebutkan di dalam al-Qur’an yang mendeskripsikan keberuntungan manusia yang menyucikan jiwanya dan merugi bagi manusia yang telah mengotori jiwanya.

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّهَا

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu,  dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”. (QS. Asy-Syams: 9-10)

Ditegaskan juga oleh Imam al-Ghazali bahwa amal itu berangkat dari pemahaman ilmu, yang kemudian beliau sebut sebagai ilmu amali karena sifatnya praktis aplikatif. Ilmu dari jenis ini tidak lebih utama daripada amal. Dalam kaitan ini, amal kemudian menjadi lebih penting.

Karena itu al-alim al-‘amil adalah sebaik-baiknya kondisi manusia, bahkan menurut pandangan manusia yang menyatakan bahwa makna kebahagiaan itu terbatas pada dunia saja, begitu pula pada manusia yang menyatakan bahwa makna kebahagiaan itu terdiri atas kebahagiaan dunia dan akhirat. Wallahu a’lam.

Oleh: Joko Kurniawan
Alumni Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Darussalam Gontor

Artikel Menarik Selain Makna Kebahagiaan

Feminisme Dalam Pandangan Islam; Analisis Gerakan Feminisme
Zuhud Dan Qana’ah Ala Gontor
Menjernihkan Hati Dengan Tasawuf Modern Buya Hamka
Mendefinisikan Dan Memetakan Ilmu Dalam Islam

One comment

  1. Pingback: BAHAGIA BILA KITA ‘TERSENYUM DAN BERSYUKUR’ | Pertubuhan Kearifan Islam Malaysia ( OMIW )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *