Aqidah dan Filsafat Islam

Posisi adab bagi seorang pencari ilmu

Oleh: al-Ustadz. Achmad Reza Hutama Al Faruqi, S.Fil.I, M.Ag.
Dosen Aqidah dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin Universitas Darussalam Gontor

afi.unida.gontor.ac.idTerlalu sibuk menggeluti ilmu, hingga melupakan mempelajari adab. Banyak orang yang sudah mapan ilmunya, hingga jabatan dia yang tinggi dalam sebuah lembaga, akan tetapi tingkah laku terhadap orang tua, tetangga, saudara muslim lainnya, bahkan guru yang jauh dari apa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, para sahabat dan juga para ulama muslim.

Padahal para ulama sudah sering mengingatkan agar tidak meninggalkan mempelajari masalah adab dan akhlak.

Mungkin sebagian dari kita terlalu terburu-buru untuk mengusai ilmu, sehingga meninggalkan adab. Padahal dalam Islam, adab merupakan posisi yang paling penting untuk dipelajari oleh para pencari ilmu.

Mengenai wasiat adab dalam al-Qur’an setidaknya ada beberapa ayat, seperti dalam QS al-Nisa’ 86, QS. al-Furqon: 63, QS. al-Nur 27-28, QS. al-Hujurat: 3, 11-12 dan lainnya yang semua ayat tersebut adalah wasiat dari Allah SWT.

Ibn Hajar al-‘Asyqalani dalam Fathul Bari mengatakan bahwa seorang murid/ pencari ilmu wajib mempelajari adab terlebih dahulu. Imam Darul Hijrah mengatakan kepada pemuda Quraisy:

تعلم الأدب قبل أن تتعلم العلم

“Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu.”

Diperkuat Ibn al-Mubarak bahwa mempelajari masalah adab selama 30 tahun, sedangkan mempelajari ilmu hanya 20 tahun”. Hal ini dapat disimpulkan bahwa adab seorang murid jauh lebih penting dipelajari terlebih dahulu dibandingkan dengan ilmu.

Kenapa seorang murid disuruh untuk mempelajari adab terlebih dahulu daripada ilmu?

Apa hikmah dibalik itu, sampai para ulama mendahulukan mempelajari adab?

Yusuf bin Al Husain berkata,

بالأدب تفهم العلم

“Dengan mempelajari adab, maka engkau jadi mudah memahami ilmu.”

Para ulama menjelaskan makna adab di sini ada 4: ada terhadap Rabb, adab terhadap Rasul, adab terhadap Sahabat Rasul, dan adab terhadap ulama. Maka, keempatnya inilah yang harus dijaga sebagai seorang murid. Hal tersebut juga senada juga dalam kitab “madarij al-Salikin” yang termaktub adab terhadap Allah, adab terhadap Rasul, dan adab terhadap manusia.

Dan disinilah sisi keberkahan ilmu dari seorang guru terhadap muridnya, tanpa ridho guru, ilmu yang masuk ke murid bagaikan air keruh dalam botol, tidak ada gunanya, berbeda jika guru meridhoi, walauapun ilmu yang masuk hanya sedikit, akan tetapi keberkahan melimpahinya.

Selain itu juga Ibn Qayyim menambahkan dalam “Madarij al-Salikin” bahwa adab merupakan simbol daripada kebahagiaan dan kemenangan seseorang.

Kesimpulan di atas bahwa adab seorang murid/pencari ilmu sangat penting, tidak memandang seorang murid itu nantinya menjadi apa, sukses atau tidak, tetaplah memposisikan dirinya sebagai murid dan juga menghargai guru selamanya.

Referensi:
Ibn Qayyim, Madarij al-Sālikīn.
Muhammad Nasir al-Din al-Albany, Iqtidha’ al-‘Ilm al-‘Amal li al-Khatib al-Baghdady.
Ibn Hajar al-‘Asyqalani, Fathul Bari

One comment

  1. Pingback: Konsep Adab dalam menuntut ilmu dalam Al-Qur’an

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *