Aqidah dan Filsafat Islam

Simbiosis Mutualisme Tasawuf Falsafi dan Tasawuf Amali Ala Pondok Pesantren Maulana Rumi

Oleh: Mawardi
Mahasiswa Semester II, Aqidah dan Filsafat Islam

afi.unida.gontor.ac.id – Yogyakarta, Dalam kehidupan bertasawuf, banyak kita dengar perdebatan orang-orang yang bergelut dalam ilmu tasawuf tentang legitimasi tasawuf filosofis dalam praktek tasawuf. Orang-orang yang memegang teguh tasawuf amali, banyak menyangkal keberadaan tasawuf falsafah.

Bahkan di kalangan mereka yang berbeda pendapat dianggap menyesatkan. Sekarang mari kita pelajari bagaimana Pondok Pesantren Rumi yang dipimpin oleh Kuswaidi Syafi’i selaku pakar di bidang tasawuf menanggapi fenomena tersebut.

Kuswaidi Syafi’i atau sering disapa dengan panggilan”Cak Kus” yang termasuk pendiri Pondok Pesantren Maulana Rumi, memberi jawaban yang sangat padat dan memuaskan dalam menanggapi masalah tersebut. Beliau mengatakan bahwasanya kejadian tersebut merupakan musibah sebuah ilmu.

Tatkala sebuah ilmu dipelajari oleh seseorang dan orang tersebut merasa cocok dengan ilmu tersebut, banyak orang membatasi pembelajarannya dalam satu bidang tersebut tanpa memperdulikan bidang lain dan lebih lagi jika orang tersebut sudah mencapai tingkat fanatik dalam hal itu.

Lantas menyalahkan adanya referensi atau ilmu yang lain. Seperti beberapa pengikut tasawuf amali yang menolak habis-habisan tasawuf falsafi tanpa tahu manfaat dan tujuan dari tasawuf falsafi tersebut.

Menurut Cak Kus kedua cabang dari ilmu tasawuf tersebut saling berkaitan dan mendukung satu sama lain. Tasawuf sendiri memiliki pengertian yaitu jalan seorang hamba dalam mengenal dan mendekatkan diri pada Tuhannya.

Pengenalan dan perjalanan menuju kedekatan dengan Tuhan sangatlah jauh dan berat. Mulai dari membersihkan jiwa dari segala keburukan dan maksiat serta mengisinya dengan berbagai macam kebaikan berupa amalan-amalan dan lain sebagainya. Sampai orang yang mempraktekkan tasawuf tersebut bisa merasakan kehadiran Tuhan dalam dirinya.

Tasawuf amali berguna untuk membersihkan hati dan mengisinya dengan berbagai kebaikan agar jiwa yang sudah bersih tidak lagi terisi oleh keburukan yang dapat mengotori jiwanya lagi.

Akan tetapi, tanpa adanya pemahaman terhadap amalan-amalan itu, kita akan merasakan betapa jauh dan beratnya jalan menuju kedekatan dengan Tuhan. Hal ini dikarenakan orang yang hanya mengetahui amalan saja tanpa ada pemahaman atasnya, akan menjalankan amalan tersebut sekedarnya dan merasakan keterpaksaan dalam menjalankannya sampai dia merasakan manfaat dari amalan tersebut.

Keterpaksaan itulah yang akan merusak ke-istiqomahan seorang pengamal tasawuf dan menyebabkan jalan seakan jauh dan berat. Di sinilah tasawuf falsafi mengambil andil dalam memberi solusi permasalahan tersebut.

Tasawuf falsafi membuat jalan jalan yang panjang dan berat tersebut menjadi mudah dan ringan dengan membuat rumusan-rumusan dan penjelasan bagaimana membersihkan dan mengisi jiwa dengan kebaikan guna mendekatkan diri pada Tuhan.

Seperti halnya bagaimana Fahruddin Faiz mengajarkan ke-zuhudan dengan menjelaskan bahwasanya dunia dan seisinya bukanlah tujuan hidup melainkan hanya wasilah atau perantara menuju tujuan sebenarnya yaitu tuhan.

Berbeda dengan tasawuf amali yang terkadang hanya tahu tujuan hidupnya hanya Tuhan, dan melakukan amalan-amalan yang diberikan gurunya tanpa tahu maksud dan hakikat dari amalan tersebut. Pada akhirnya hanya akan menguji ke-istiqomahannya.

Sebagaimana banyak orang yang mempraktekkan tasawuf dengan wirid-wirid dan amalan yang lain lalu bertarung melawan hawa nafsunya agar bisa terus ber-istiqomah. Tanpa tahu bahwasanya segala yang ada di dunia ini bisa dijadikan kendaraan untuk menyusuri jalan menuju Tuhan. Tidak seperti yang dilakukan tasawuf falsafi yang dapat memudahkan perjalanan menuju kedekatan diri dengan tuhannya.

Dari sini kita bisa melihat bagaimana keterkaitan dan simbiosis mutualisme antara tasawuf amali dan tasawuf falsafi. Dimana tasawuf amali tanpa mempelajari tasawuf falsafi pasti akan merasa berat karena tidak memahami tujuan dan makna dari amalan yang dilakoninya. Begitu pula dengan tasawuf falsafi yang hanya akan menjadi teori tanpa adanya pengamalan. Wallahu a’alam.

*Catatan ngaji bersama Cak Kus dalam Studi Akademik Prodi Aqidah dan Filsafat Islam

ngaji di Pondok Maualan Rumi Yogyakarta
ngaji di Pondok Maualan Rumi Yogyakarta

One comment

  1. Pingback: Guru Misterius Dibalik Perjalanan Kisah Sufi Rumi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *