Aqidah dan Filsafat Islam

Tradisi Keilmuan Islam, Apa Prinsip dan Kelebihannya?

Oleh: Muhammad Faqih Nidzom
Dosen Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Darussalam Gontor

afi.unida.gontor.ac.id – Pada hari Sabtu lalu (22-02-2020), saya diberi kesempatan menjadi pemateri di kajian dwi mingguan Direktorat Islamisasi Ilmu UNIDA Gontor. Adapun tema yang diminta adalah tentang Tradisi Keilmuan dalam Islam. Dibuka langsung oleh bapak direktur, Ustadz Dr. M. Kholid Muslih, M.A., kajian ini turut diikuti oleh seluruh dosen dan tenaga kependidikan kampus.

Saya memulai kajian ini dengan mengutip satu statemen penting Dr. Syamsuddin Arif dalam satu artikelnya, “Ilmu dan kebenaran itu setali tiga uang, karena ilmu adalah mengetahui yang benar, dan yang benar adalah ilmu. Memiliki ilmu artinya menggenggam kebenaran. Menolak kebenaran sama dengan menolak ilmu”.

Jika kita telaah, pernyataan di atas sungguh tepat. Beberapa definisi ulama tentang ilmu telah menunjukkan hal itu. Seperti definisi yang diutarakan al-Raghib al-Isfahani, yaitu persepsi suatu hal berdasarkan hakikatnya (al-‘ilm idrak al-shay’ bi-haqiqatihi), atau Imam al-Ghazali yang menyebut bahwa ilmu adalah pengenalan sesuatu sebagaimana mestinya (ma’rifat al-shay’ ‘ala ma huwa bihi).

Maka urgensi ilmu dengan demikian bisa kita simpulkan adalah, untuk mengantarkan kita pada kebenaran hakiki. Sebab kebenaran yang tidak hakiki bukan ilmu, melainkan ilmu palsu. Hal ini pun bisa kita temukan dari sekian banyak Ayat al-Qur’an dan Hadis Nabi Saw. tentang keutamaan ilmu. Islam juga mencela lawan dari ilmu, serta hal-ihwal yang menjadi penghambat seseorang meraih ilmu sejati.

Prof. Quraish Shihab dalam bukunya Membumikan Al-Qur’an telah mengelompokkan di antara penghambat ilmu tersebut, yaitu: Kebodohan, bersikap tanpa dasar, tidak tahu pangkal masalah [Surat Al-Isra’ 36], subyektifitas dan Hawa nafsu [Surat Az-Zukhruf 78] dan [Surat An-Nisa’ 135], sikap dogmatis dan taqlid buta [Surat Al-Ahzab 67] dan [Surat Al-Baqarah 170], Asas asumsi dan praduga [Surat Yunus 36], Kesimpulan yang terburu-buru [Surat Al-Anbiya’ 37], angkuh dan gengsi [Surat Al-A’raf 146].

Dalam konteks islamisasi ilmu, produk keilmuan dengan basis di ataslah yang dikritik, lihat argumentasi Prof. Syed M. Naquib al-Attas. Menurutnya, hakikat ilmu di Barat telah bermasalah karena ia kehilangan tujuan hakikinya akibat pemahaman yang keliru. Ilmu yang seharusnya menciptakan keadilan dan perdamaian, justru membawa kekacauan dalam kehidupan manusia.

Lebih lanjut al-Attas menulis, “Ilmu yang terkesan nyata, namun justru menghasilkan kekeliruan dan skeptisisme, yang mengangkat keraguan dan dugaan ke derajat ’ilmiah’ dalam hal metodologi, serta menganggap keraguan sebagai sarana epistemologis yang paling tepat untuk mencapai kebenaran; ilmu seperti inilah yang untuk pertama kalinya dalam sejarah, telah membawa kekacauan pada tiga kerajaan alam; hewan, tanaman, dan mineral.” (Lihat Islam dan Sekularisme, terj. Khalif Muammar, hal. 165)

Maka pedoman wahyu tadi sangat relevan untuk kita hayati kembali, sekaligus menjadi pijakan dalam mengembangkan keilmuan, apa pun disiplinnya. Ulama kita dengan luar biasa telah mengajarkan kita dalam karya-karya mereka, menawarkan metodologi ilmiah, dengan kaidah-kaidah canggih, untuk kita telaah dan lanjutkan.

Integrasi Keilmuan

Dalam bukunya Budaya Ilmu, Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud menggambarkan ajaran adab dan sistem integratif keilmuan dalam Islam. Tidak hanya ilmu-ilmu agama, ulama kita dulu juga mengembangkan ilmu empiris dan sosial dengan metode ilmiah yang beragam dan mengagumkan.

Ia menulis, “Budaya ilmu dalam Islam bukan sahaja memberikan penumpuan kepada kaedah deduktif yang bertolak daripada prinsip al-Qur’an, Sunnah dan akal yang sehat, tetapi juga kaedah induktif yang mementingkan fakta kejadian alam serta pengalaman manusia dalam sejarah atau dalam dirinya.”

Dalam fakta historisnya, sistem integratif itu bisa terjadi pada satu individu. Ibnu Sina, dikenal sebagai polymath (pakar serba bisa), karena menguasai Fiqih, Filsafat, Kedokteran dan lainnya. Imam al-Ghazali, teladan luar biasa dalam multidisiplin ilmu, mulai dari Fiqih, Ushul Fiqih, Kalam, Filsafat, Tasawuf dan banyak lagi. Padahal, bisa kita lihat, di antara ilmu-ilmu tadi di rumpun yang jauh berbeda, yang tentu, objek kajian, sumber ilmu dan metode ilmiahnya pun beragam.

Ya, itulah konsep integrasi keilmuan yang penting untuk kita jadikan acuan. Telah banyak tokoh yang memberi kita inspirasi. Maka, yang tersisa adalah, kita bisa dan mau meneladani mereka atau tidak. Apalagi melihat realitas yang ada sekarang ini, banyak hal yang harus diselesaikan dengan perpaduan banyak ilmu yang bisa dikembangkan.

Hal ini seperti yang ditegaskan Prof. Mudjia Rahardjo, Guru Besar Sosiolinguistik dan mantan Rektor UIN Malang dalam satu kesempatan, “Betapa pentingnya penguasaan ilmu secara lintas atau multidisipliner bagi umat Islam, agar bisa menyelesaikan permasalahan yang semakin kompleks”. Wallāhu A’lam.

Artikel Lainnya:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *